Apa Itu Kekerasan Mimetis? Densus 88 dan Fenomena di SMAN 72 Jakarta

admin.aiotrade 12 Nov 2025 4 menit 13x dilihat
Apa Itu Kekerasan Mimetis? Densus 88 dan Fenomena di SMAN 72 Jakarta
Apa Itu Kekerasan Mimetis? Densus 88 dan Fenomena di SMAN 72 Jakarta

Peristiwa Ledakan di SMAN 72 Kelapa Gading, Jakarta Utara

Pada November 2025, sebuah ledakan terjadi di SMAN 72 Kelapa Gading, Jakarta Utara. Kejadian ini mengejutkan masyarakat luas dan memicu spekulasi bahwa aksi tersebut berkaitan dengan jaringan terorisme. Namun, hasil penyelidikan Polda Metro Jaya dan Densus 88 Antiteror Polri menunjukkan fakta yang berbeda. Insiden tersebut ternyata tidak terkait dengan jaringan teror, melainkan dipicu oleh fenomena kekerasan yang disebut “Mimetic Violence” atau “Memetic Violence Daring”.

Penjelasan tentang Fenomena Memetic Violence Daring

Menurut AKBP Mayndra Eka Wardhana, Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) Densus 88, tindakan pelaku yang masih berstatus anak bukanlah bagian dari gerakan terorisme. Melainkan bentuk peniruan kekerasan yang terinspirasi dari figur-figur pelaku serangan di berbagai negara.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

“Yang bersangkutan hanya melakukan copycat atau peniruan dari tindakan kekerasan yang pernah terjadi sebelumnya,” ujar Mayndra dalam konferensi pers di Polda Metro Jaya pada 11 November 2025.

Dalam pemeriksaan, Densus 88 menemukan sejumlah nama tokoh dan ideologi yang ditulis pelaku di senjata mainan jenis airsoft gun miliknya. Nama-nama tersebut mengacu pada pelaku penembakan massal di luar negeri yang banyak diberitakan secara global, antara lain:

  • Alexandre Bissonnette, pelaku penembakan di Quebec City (29 Januari 2017).
  • Luca Traini, pelaku penembakan enam migran asal Afrika di Macerata, Italia (Februari 2018).
  • Brenton Harrison Tarrant, pelaku penembakan massal di dua masjid Selandia Baru (15 Maret 2019).
  • Eric Harris dan Dylan Klebold, pelaku tragedi SMA Columbine (Amerika Serikat).
  • Dylann Roof, pelaku penembakan di gereja Charleston, AS.

Dari hasil analisis mendalam, tindakan pelaku dianggap murni kriminal umum, bukan tindak pidana terorisme. Densus 88 menyebut fenomena ini sebagai memetic violence daring, yaitu kekerasan yang lahir akibat paparan konten digital yang memicu dorongan untuk meniru tindakan ekstrem.

Penjelasan Psikolog: Mimetic Violence dan Hasrat untuk Meniru

Untuk memahami fenomena ini lebih dalam, psikolog sekaligus grafolog Joice Manurung memberikan penjelasan tentang konsep Mimetic Violence. Menurutnya, bentuk kekerasan semacam ini muncul dari dorongan meniru perilaku agresif seseorang yang diidolakan, meski pelaku tidak memiliki keterlibatan langsung dengan korban atau situasi aslinya.

“Mimetic Violence adalah kekerasan yang dihasilkan oleh keinginan untuk mengimitasi agresi dari sosok yang dianggap menginspirasi,” jelas Joice saat diwawancarai detikcom, Selasa, 11 November 2025.

Selain itu, Joice menegaskan bahwa pola kekerasan ini seringkali tidak dilandasi motif pribadi. Pelaku hanya ingin “merasakan” pengalaman yang serupa dengan figur yang ditiru, sehingga bertindak impulsif. Dalam konteks dunia digital, dorongan ini semakin mudah muncul karena paparan konten kekerasan di media sosial dan video daring.

Akar Teori: Dari Rene Girard hingga Richard Dawkins

Istilah Mimetic Violence memiliki akar dari dua teori besar yang berkembang di bidang filsafat dan biologi sosial, yakni Teori Mimetika (Mimetic Theory) dan Teori Memetika (Memetic Theory).

Teori Mimetika diperkenalkan oleh filsuf Prancis René Girard. Ia berpendapat bahwa kekerasan muncul dari proses mimesis atau peniruan. Ketika seseorang meniru keinginan orang lain, lahirlah persaingan dan konflik yang pada akhirnya menimbulkan kekerasan.

Dengan kata lain, hasrat meniru dapat memunculkan siklus permusuhan, terutama jika objek yang ditiru terkait dengan kekuasaan atau simbol status.

Teori Memetika, di sisi lain, digagas oleh ilmuwan biologi Inggris Richard Dawkins dalam bukunya The Selfish Gene (1976). Ia memperkenalkan istilah “meme” sebagai unit informasi yang menyebar seperti gen. Meme bisa berupa ide, gaya hidup, atau perilaku yang direplikasi terus-menerus di masyarakat.

Dalam konteks kekerasan, meme yang berisi ide ekstrem dapat menyebar cepat di internet, menciptakan fenomena yang disebut Memetic Violence.

Dampak Dunia Digital terhadap Perilaku Kekerasan

Fenomena Mimetic Violence di era digital memperlihatkan sisi gelap dari kemudahan akses informasi. Konten ekstrem yang viral dapat menjadi sumber inspirasi bagi individu yang mencari jati diri atau ingin menonjol di dunia maya.

Selain itu, platform daring sering kali gagal membedakan antara edukasi dan glorifikasi kekerasan. Misalnya, video dokumenter yang menampilkan pelaku serangan dapat disalahartikan sebagai simbol keberanian, bukan tragedi kemanusiaan.

Dari kasus SMAN 72 Jakarta, terlihat bahwa remaja bisa terpapar ide berbahaya hanya melalui internet. Di sisi lain, hal ini juga menegaskan perlunya pendampingan digital dan pendidikan karakter sejak dini untuk mencegah munculnya perilaku imitasi berisiko tinggi.

Langkah Penanganan dan Pencegahan

Polda Metro Jaya bersama Densus 88 kini fokus pada pendekatan edukatif terhadap kasus ini. Karena pelaku masih tergolong Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH), pendekatan yang diambil lebih mengedepankan rehabilitasi dan konseling dibanding hukuman keras.

Selain itu, pihak kepolisian juga mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap konten kekerasan yang beredar di dunia maya. Orang tua dan sekolah diharapkan lebih aktif mengawasi aktivitas digital anak-anak mereka.

“Kasus seperti ini menjadi pengingat bahwa dunia digital tidak hanya berisi hiburan, tetapi juga potensi bahaya jika tidak disikapi dengan bijak,” tegas AKBP Mayndra.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan