
Perbandingan Krisis Minyak 1970-an dengan Situasi Saat Ini
Krisis minyak yang terjadi pada masa lalu dan kini memiliki perbedaan signifikan, baik dalam dampak ekonomi maupun struktur pasar. Penutupan Selat Hormuz selama sebulan telah memicu kekhawatiran bahwa dunia sedang menghadapi situasi yang lebih parah daripada krisis minyak era 1970-an. Namun, beberapa ahli berpendapat bahwa dunia saat ini lebih tangguh dibandingkan masa lalu.
Apa yang Terjadi dalam Krisis Minyak 1970-an?
Krisis minyak 1970-an dianggap sebagai peristiwa penting yang secara fundamental berbeda dari situasi saat ini. Dr. Carol Nakhle, ekonom dan kepala eksekutif Crystol Energy, menjelaskan bahwa guncangan minyak pertama pada masa itu merupakan "hasil dari keputusan kebijakan yang disengaja." Pada Oktober 1973, para produsen minyak Arab memberlakukan embargo terhadap negara-negara yang mendukung Israel selama Perang Yom Kippur, disertai pemangkasan produksi minyak secara terkoordinasi.
Hasilnya, harga minyak naik hampir empat kali lipat hanya dalam beberapa bulan. Hal ini memicu pengaturan jatah bahan bakar di negara-negara konsumen minyak utama. Nakhle menekankan bahwa situasi tersebut memicu "krisis ekonomi dan keuangan global" yang berdampak panjang.
Dr. Tiarnán Heaney, peneliti di Queen's University Belfast, menambahkan bahwa harga minyak yang tinggi mendorong inflasi di berbagai sektor. Imbasnya, "dunia usaha semakin melakukan pemangkasan dan tingkat pengangguran melonjak." Dampak lanjutan yang sangat besar ini menyebabkan maraknya pemogokan, keresahan, serta meningkatnya angka kemiskinan karena banyak rumah tangga kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Baik AS maupun UK mengalami resesi yang berlangsung dari 1973 hingga 1975, dan krisis tersebut berkontribusi pada jatuhnya pemerintahan Konservatif pimpinan Ted Heath pada 1974.
Apa yang Terjadi dalam Krisis Minyak Saat Ini?
Sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan perang terhadap Iran sebulan lalu, Selat Hormuz praktis tertutup bagi lalu lintas pelayaran. Penutupan ini mengganggu aliran minyak, gas, dan berbagai komoditas penting lainnya dari negara-negara Teluk, yang biasanya mengekspor sekitar seperlima dari pasokan minyak dunia.
Presiden AS Donald Trump telah mencoba berbagai cara untuk kembali memperlancar arus minyak dari Teluk, termasuk menyerukan negara-negara sekutu untuk mengirim kapal perang sebagai pengawal, serta mengancam akan menyerang Iran dengan lebih keras jika kapal-kapal tidak diizinkan lewat dengan aman di selat tersebut.
Namun Lars Jensen, mantan direktur Maersk dan kini memimpin konsultan Vespucci Maritime, mengatakan kepada BBC bahwa sebagian besar kapal tanker yang keluar dari Teluk lebih dari sebulan lalu telah tiba di kilang-kilang minyak di berbagai belahan dunia. Namun, pasokan itu akan segera berhenti.
"Jadi kekurangan minyak yang kita lihat saat ini hanya akan semakin memburuk, bahkan jika secara ajaib Selat Hormuz dibuka kembali besok," katanya. "Kita akan menghadapi biaya energi yang sangat besarbukan hanya selama krisis ini berlangsung, tetapi juga enam hingga 12 bulan setelahnya."
Bisakah Krisis Saat Ini Menjadi Lebih Buruk Daripada Guncangan Minyak pada 1970-an?
Nakhle, yang juga menjabat sebagai sekretaris jenderal Arab Energy Club, mengatakan bahwa pasar minyak saat ini jauh lebih beragam dibandingkan pada 1970-an, sementara total konsumsi minyak juga telah turun secara signifikan. Ia meyakini bahwa meskipun harga saat ini tinggi, krisis yang terjadi sekarang tidak separah masa lalu.
"Meskipun gangguan volume yang kita lihat sangat signifikanbisa dibilang salah satu yang terbesar dalam sejarah modernpasar jauh lebih tangguh dibandingkan pada 1970-an," ujarnya. "Pasaran kini lebih terdiversifikasi, kurang bergantung pada minyak, dan lebih siap dengan cadangan serta mekanisme respons darurat."
Namun Joel Hancock, direktur riset komoditas di Natixis CIB, mengatakan bahwa perbedaan penting lainnya adalah krisis minyak 1970-an menargetkan negara-negara maju, yang memiliki kapasitas finansial dan "kekuatan politik" untuk mengelolanya. Krisis saat ini terutama berdampak pada negara-negara berkembang, "yang tidak memiliki institusi serta ketahanan moneter dan fiskal untuk menangani krisis dengan baik," tambahnya.
Kerusakan sampingan terhadap infrastruktur energi juga bukan faktor utama pada krisis 1970-anberbeda dengan kondisi saat ini. "Krisis saat ini, kata Hancock, 'hanya akan berakhir ketika perang mereda.'"
Heaney mengatakan ada beberapa perbedaan kondisi masa kini yang justru menguntungkan dunia, termasuk pemahaman ekonomi yang lebih baik serta lebih banyak negara yang memiliki cadangan minyak. "Risiko utamanya adalah jika krisis ini berlangsung lama, maka ekspektasi masa depan akan menjadi jauh lebih suram," tambahnya. "Skenario terbaik adalah mengakhiri konflik ini secepat mungkin dan memulihkan stabilitas."