Apindo: 67 Persen Pengangguran Gen Z

admin.aiotrade 17 Des 2025 3 menit 15x dilihat
Apindo: 67 Persen Pengangguran Gen Z

Generasi Z Menghadapi Tantangan Pengangguran yang Tinggi

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Widjaja Kamdani, mengungkapkan bahwa hampir 67 persen dari total pengangguran di Indonesia adalah generasi Z atau Gen Z. Hal ini menjadi perhatian serius bagi Apindo, karena angka tersebut menunjukkan adanya masalah yang sangat mendesak dalam memenuhi kebutuhan lapangan kerja.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Menurut Shinta, tingginya angka pengangguran Gen Z berkaitan erat dengan ketersediaan lapangan kerja yang terus diperjuangkan oleh Apindo. Dalam sebuah talk show Economic Outlook 2026 yang tayang di Kompas TV, ia menyampaikan bahwa masalah pengangguran Gen Z adalah salah satu hal yang paling mengkhawatirkannya saat ini.

“Dan ini yang saya paling khawatirkan sekarang adalah pengangguran terbesar itu ternyata ada di Gen Z. Hampir 67 persen,” ujar Shinta.

Masalah Lapangan Kerja yang Terbatas

Shinta menjelaskan bahwa penyediaan lapangan kerja menjadi tantangan besar dalam era saat ini. Ia juga menyebutkan bahwa angka pengangguran terbuka di Indonesia cenderung menurun karena banyak masyarakat yang bekerja di sektor informal. Di Indonesia, seseorang yang bekerja hanya satu jam dalam seminggu sudah dianggap bekerja.

Menurutnya, peningkatan jumlah pekerja di sektor informal disebabkan oleh kurangnya lapangan kerja di sektor industri. “Sekarang sebagian besar (pekerja) itu ada di sektor informal. Hampir 59 persen, 60 persen,” tambah Shinta.

Selain itu, Shinta juga menyebutkan bahwa pekerja gig ekonomi seperti driver ojek online (ojol) dan pekerja di sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terus meningkat. “Ini di sini kita melihat ini permasalahan utama jenis pekerjaannya. Jadi, eh, lapangan pekerjaan yang layak gitu loh,” katanya.

Penurunan Serapan Kerja dari Investasi

Shinta juga menyoroti penurunan serapan kerja dari nilai investasi yang sama pada saat ini dibandingkan 7 tahun sebelumnya. Pada masa lalu, nilai investasi Rp 1 triliun bisa menyerap hampir 4.000 tenaga kerja. Sementara, saat ini dengan nilai investasi yang sama hanya bisa menyerap sekitar 1.200 tenaga kerja.

“Berarti turun hampir seperempatnya. Ya kan? Nah, ini, ini berarti kalau kita, kita sebutkan ini kan penyerapannya jadi menurun,” kata Shinta.

Ia menambahkan bahwa dengan era digitalisasi dan otomatisasi, penyerapan tenaga kerja semakin rendah. “Kita melihat dengan era digitalisasi, otomatisasi, penyerapannya lebih rendah lagi,” tambahnya.

Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi 2026

Dalam program siaran yang sama, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebutkan bahwa pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi di tahun 2026 mencapai 6 persen. Menurut Purbaya, pertumbuhan ekonomi 5,4 persen tidak cukup untuk menyerap seluruh usia yang memasuki usia kerja.

“Jadi 5,4 (persen) itu nanti masih banyak tuh yang nganggur, baru lulusan juga nganggur, yang masuk 18 sampai 20 tahun tuh, yang baru-baru masuk usia kerja masih banyak yang enggak dapat kerjaan,” tutur Purbaya.

Ia menyebutkan bahwa jika pertumbuhan ekonomi mencapai 6,7 persen, maka masyarakat yang baru lulus sekolah perguruan tinggi akan lebih mudah mencari pekerjaan. “Kalau 6,7 (persen) anda lebih gampang cari kerja. Teman-teman nanti yang muda-muda yang baru lulus, enggak usah pusing-pusing cari kerja. Banyak lapangan pekerjaan,” kata dia.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan