
Pentingnya Memperkuat Investasi yang Sudah Ada
Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyoroti pentingnya menjaga investor yang sudah berada di Tanah Air, bukan hanya fokus pada penarikan investasi baru. Wakil Ketua Umum Apindo Sanny Iskandar menyampaikan bahwa upaya mempertahankan investasi yang sudah ada sama pentingnya dengan menarik investasi baru.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Menurutnya, iklim usaha di beberapa daerah masih menghadapi tantangan. "Bagaimana kita betul-betul menjaga agar investasi yang sudah ada ini bisa dipertahankan supaya tidak keluar, karena menarik investasi baru itu sangat sulit," ujarnya dalam sebuah acara.
Konsistensi Kebijakan Pemerintah
Sanny menekankan pentingnya konsistensi kebijakan pemerintah, terutama dalam penyediaan sarana dan prasarana pendukung industri. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian telah menyebutkan bahwa pemerintah wajib menjamin tersedianya infrastruktur untuk kegiatan industri.
"Kalau industri masih kesulitan mendapatkan air baku, harga gas naik turun, dan kuotanya tidak jelas, bagaimana mereka bisa bertahan?" tanyanya.
Keamanan dan Kepastian Hukum
Selain infrastruktur, Sanny juga menyoroti perlunya kepastian hukum dan keamanan dalam menjaga iklim investasi agar tetap kondusif, terutama di daerah. Ia menyatakan bahwa banyak investor yang datang dari luar negeri, namun ketika mereka masuk ke daerah, malah menghadapi berbagai kendala.
"Saya tahu Menteri Investasi sering road show ke luar negeri menarik investor masuk. Tapi ketika mereka masuk ke daerah, malah dikerjai oleh elemen-elemen masyarakat. Ini harus jadi perhatian bersama," ungkapnya.
Koordinasi antara Pusat dan Daerah
Apindo berharap pemerintah pusat dan daerah memperkuat koordinasi untuk memastikan kebijakan investasi berjalan efektif dan berkelanjutan, baik bagi investor baru maupun lama.
Fokus pada Sektor Manufaktur
Sanny juga menyatakan pentingnya mengarahkan investasi ke sektor manufaktur yang padat karya, untuk menciptakan lapangan kerja luas. "Banyak investasi sekarang masuk ke data center, yang padat modal dan minim tenaga kerja. Padahal, sektor seperti tekstil dan alas kaki justru yang paling berdampak ke ekonomi rakyat," tuturnya.
Ia berharap pemerintah memberi insentif bagi industri manufaktur agar tetap kompetitif di tengah tekanan global dan persaingan dengan negara-negara seperti Vietnam dan Bangladesh.
Target Investasi Pemerintah
Pada kesempatan yang sama, Menteri Investasi sekaligus CEO Danantara Rosan Roeslani menyatakan pemerintah akan mengejar target investasi senilai Rp13.000 triliun dalam periode 2025–2029 untuk mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen. Angka investasi itu berdasarkan perhitungan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).
"Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen pada 2029, dibutuhkan total investasi sekitar Rp13.000 triliun. Ini kenaikan signifikan dibanding Rp9.100 triliun pada 2014–2024," katanya.
Realisasi Investasi
Rosan menyebut realisasi investasi hingga kuartal III 2025 telah mencapai Rp1.434 triliun atau 75,2 persen dari target tahun ini yang sebesar Rp1.905 triliun. Namun, ia mengakui investasi yang masuk saat ini cenderung padat modal dibanding padat karya.
"Sepuluh tahun lalu, investasi Rp1 triliun bisa menciptakan 2.600 tenaga kerja, sekarang hanya sekitar 1.300. Meski begitu, ada sektor hilirisasi seperti kelapa yang tetap padat karya," ujarnya.