Aprindo Soroti Dampak Impor, Ritel Diprediksi Tumbuh 6%

admin.aiotrade 14 Nov 2025 3 menit 20x dilihat
Aprindo Soroti Dampak Impor, Ritel Diprediksi Tumbuh 6%

Pertumbuhan industri ritel di Indonesia pada tahun 2025 diperkirakan akan mengalami stagnasi atau bahkan penurunan, terutama akibat tekanan dari sektor garmen dan melemahnya daya beli masyarakat. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) memproyeksikan pertumbuhan industri ritel secara keseluruhan akan berada di kisaran 6% hingga 9% per tahun, namun sektor garmen menjadi pengecualian yang lebih berat.

Ketua Aprindo, Solihin, menjelaskan bahwa meskipun ada pergeseran akibat pengetatan impor garmen, pertumbuhan di sektor ini masih sangat berat. Ia menilai, selama arus impor garmen masih deras, para peritel garmen akan mengalami kesulitan besar.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

"Selama arus impor garmen deras, peritel garmen nangis bombay," ujarnya dalam sebuah wawancara.

Solihin juga menyebutkan bahwa pelemahan permintaan pasca-Ramadan 2025 menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pertumbuhan ritel. Biasanya, permintaan akan meningkat pada pertengahan tahun, khususnya selama periode liburan sekolah. Namun, hal ini tidak terjadi tahun ini.

Berdasarkan data Bank Indonesia, Indeks Penjualan Ritel (IPR) pada Juni 2025 hanya tumbuh sebesar 1,3% secara tahunan, jauh lebih rendah dibandingkan pertumbuhan tertinggi pada Maret 2025 yang mencapai 5,5%. Meski demikian, Solihin memperkirakan bahwa pertumbuhan ritel akan kembali melemah pada Oktober 2025 karena minimnya transaksi, namun kuartal terakhir tahun ini diproyeksikan dapat meningkat hingga 9%–12%.

Ia optimistis bahwa transaksi ritel pada November–Desember 2025 akan tumbuh antara 12%–15% seiring musim liburan Natal dan Tahun Baru. "Kami berharap pertumbuhan ritel pada kuartal terakhir setidaknya 10%. Namun pertumbuhan ritel sepanjang tahun ini sulit mencapai 10% tanpa lonjakan signifikan di akhir tahun," katanya.

Bappenas Dorong Digitalisasi

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) sedang mendorong pelaku usaha ritel untuk melakukan digitalisasi dan berjualan daring guna meningkatkan perekonomian nasional. Direktur Perdagangan, Investasi dan Kerja Sama Ekonomi Internasional Bappenas, P.N. Laksmi Kusumawati, menjelaskan bahwa digitalisasi dapat meningkatkan efisiensi operasi toko melalui optimalisasi rantai pasok, peningkatan keamanan, serta pencegahan kerugian.

Menurutnya, kontribusi transaksi di lokapasar diperkirakan akan naik menjadi 24% pada 2027. "Nilai transaksi global di lokapasar diproyeksikan mencapai US$ 1,4 triliun pada 2022–2027, dengan 64% potensi berasal dari negara berkembang," ujar Laksmi.

Merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS), transaksi e-commerce pada kuartal II 2025 naik sebesar 7,55% secara kuartalan. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa peningkatan ini sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II sebesar 5,12% yoy dan 4,04% qtq.

Airlangga juga menyebutkan bahwa jumlah transaksi belanja online pada tahun lalu mencapai 3,24 miliar kali, naik lebih dari 11 kali lipat dibandingkan 2018 yang tercatat 80 juta kali. "Kami melihat konsumsi masyarakat semakin bergerak ke belanja online," ujarnya.

Tren Konsumsi Masyarakat

Dari data yang tersedia, terlihat bahwa tren konsumsi masyarakat semakin bergeser ke belanja online. Hal ini memberikan peluang bagi pelaku ritel untuk memperluas pasar mereka melalui platform digital. Dengan adanya peningkatan transaksi e-commerce, pelaku bisnis ritel bisa memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan layanan dan pengalaman belanja.

Namun, tantangan tetap ada. Melemahnya daya beli masyarakat dan tekanan dari sektor garmen tetap menjadi isu utama yang harus dihadapi oleh industri ritel. Oleh karena itu, strategi digitalisasi dan inovasi produk menjadi kunci untuk bertahan dan berkembang di tengah kondisi pasar yang dinamis.

Strategi Peningkatan Pertumbuhan

Untuk menghadapi tantangan tersebut, Aprindo dan Bappenas menyarankan beberapa strategi yang dapat dilakukan oleh pelaku usaha ritel. Di antaranya adalah:

  • Meningkatkan penggunaan teknologi digital dalam operasional bisnis, seperti sistem manajemen inventaris dan layanan pelanggan.
  • Mengoptimalkan pemasaran melalui media sosial dan platform e-commerce.
  • Memperluas jaringan distribusi dan memperkuat hubungan dengan pemasok lokal.
  • Mengembangkan produk-produk unggulan yang sesuai dengan kebutuhan dan preferensi konsumen.

Dengan langkah-langkah ini, diharapkan industri ritel dapat tetap tumbuh meskipun menghadapi berbagai tantangan eksternal. Kepemimpinan yang kuat dan adaptasi terhadap perubahan pasar akan menjadi kunci sukses dalam menghadapi tahun 2025.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan