
Proyek Kereta Cepat Arab Saudi yang Luas dan Ambisius
Pemerintah Arab Saudi telah mengumumkan rencana pembangunan kereta cepat sepanjang 1.500 kilometer (km) yang akan menghubungkan Jeddah ke Dammam melalui Riyadh. Proyek ini akan menjadi salah satu proyek infrastruktur terbesar di wilayah Teluk Arab, dengan kecepatan maksimal mencapai 200 km/jam. Rencananya, kereta ini akan menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Arab, memberikan akses yang lebih cepat dan efisien antara kota-kota utama.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Perjalanan dari Riyadh ke Jeddah yang saat ini memakan waktu sekitar 12 jam menggunakan mobil, akan berkurang menjadi kurang dari empat jam dengan kereta api. Proyek ini diperkirakan bernilai US$7 miliar atau sekitar Rp116,2 triliun (kurs Rp16.600 per dolar AS). Selain itu, Perusahaan Kereta Api Saudi akan mengembangkan stasiun barang dan penumpang, serta menghubungkan Pelabuhan King Abdullah dengan pusat industri seperti Yanbu.
Sebanyak 15 kereta baru yang mampu mencapai kecepatan hingga 200 km/jam telah dipesan sebagai bagian dari proyek ini. Proyek tersebut juga merupakan bagian dari Visi Saudi 2030, yang bertujuan untuk memperluas jaringan kereta api dari 5.300 km menjadi lebih dari 8.000 km. Dengan demikian, Arab Saudi akan menjadi pusat logistik yang penting bagi Teluk dan dunia Arab secara keseluruhan.
Meski proyek ini sangat ambisius, pemerintah belum mengumumkan rencana harga tiket untuk rute tersebut. Namun, saat ini sudah ada kereta cepat Haramain yang menghubungkan Makkah ke Madinah sejauh 400-an kilometer. Untuk rute Makkah—Jeddah kelas ekonomi, harga tiketnya sekitar SAR 40 (US$11) atau sekitar Rp182.600, sedangkan rute Makkah-Madina seharga SAR 150 (US$40) atau sekitar Rp664.000. Tarif kelas bisnis bisa mencapai SAR 315 (US$84).
Perbandingan dengan Proyek Kereta Cepat Indonesia
Kereta cepat pertama di Indonesia, yakni Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) atau Whoosh, memiliki panjang trase hanya 142,3 km. Meskipun nilai proyeknya hampir serupa dengan proyek kereta cepat di Arab Saudi, anggaran yang sama hanya mampu menjangkau sekitar 9,5% dari panjang trase kereta cepat di Arab Saudi.
Harga tiket Whoosh berkisar antara Rp350.000 hingga Rp600.000 per perjalanan dengan rute Halim—Tegalluar. Whoosh adalah kereta cepat pertama di Indonesia dan Asia Tenggara yang beroperasi dengan kecepatan hingga 350 km/jam, melayani rute Jakarta–Bandung dengan empat stasiun utama: Halim, Karawang, Padalarang, dan Tegalluar Summarecon.
Proyek Whoosh dimulai sejak 2015 dan baru resmi beroperasi pada 17 Oktober 2023. Dalam dua tahun pertama operasinya, Whoosh telah melayani lebih dari 12 juta penumpang dengan rata-rata pertumbuhan yang konsisten setiap bulan. Puncaknya terjadi pada Juni 2025, dengan 26.770 penumpang dalam satu hari.
Anggaran dan Sumber Pendanaan Whoosh
Proyek Whoosh menelan total biaya US$7,26 miliar atau sekitar Rp119,79 triliun (dengan kurs Rp16.500/per dolar AS). Angka tersebut termasuk pembengkakan biaya sebesar US$1,21 miliar (sekitar Rp19,96 triliun) dari nilai investasi awal senilai US$6,05 miliar (sekitar Rp99,82 triliun).
Mayoritas pendanaan proyek Whoosh berasal dari utang pinjaman dari China Development Bank (CDB) dengan bunga utang mencapai 3,3% dan tenor hingga 45 tahun. Proyek ini didanai lewat skema "business to business" (B2B) dengan pinjaman dana luar negeri dari CDB mencapai 75%, sedangkan 25% modal lainnya dikucurkan oleh ekuitas pemegang saham.
PT KAI menjadi "lead consortium" dari PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) selaku pemegang saham Indonesia dalam KCIC. Komposisi konsorsium BUMN pemegang saham di KCIC adalah PT PSBI sebesar 60% dan pihak China melalui Beijing Yawan HSR Co. Ltd memiliki 40%.
PSBI sendiri terdiri dari PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI dengan kepemilikan sebesar 58,53 persen, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk dengan kepemilikan 33,36 persen, PT Jasa Marga (Persero) Tbk dengan kepemilikan 7,08% dan PT Perkebunan Nusantara I dengan kepemilikan 1,03%. Total pinjaman PSBI ke CBD adalah sekitar US$2,72 miliar (sekitar Rp44,92 triliun) belum ditambah dengan beban bunga yang diperkirakan mencapai US$120 juta—US$130 juta per tahun atau setara hampir Rp2 triliun hanya untuk membayar bunga.