Arah Saham AADI 2026 di Tengah Volatilitas Batu Bara

admin.aiotrade 30 Des 2025 4 menit 10x dilihat
Arah Saham AADI 2026 di Tengah Volatilitas Batu Bara

Kinerja AADI pada Tahun 2025

Pada tahun 2025, kinerja PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) mengalami penurunan sepanjang tahun. Namun, ada beberapa faktor positif yang diharapkan dapat memengaruhi kinerja perusahaan pada tahun 2026.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Direktur Adaro Andalan Indonesia, Lie Luckman, menjelaskan bahwa pasar batu bara termal pada 2025 menghadapi tekanan harga karena pasokan yang melimpah akibat peningkatan produksi dari negara-negara pengimpor utama dan penurunan permintaan musiman. Meskipun demikian, batu bara tetap dianggap memiliki peran penting dalam bauran energi global karena meningkatnya kebutuhan energi jangka panjang.

Hingga sembilan bulan 2025, volume penjualan AADI mencapai 52,69 juta ton dengan rasio kupas 4,2 kali. Hasil ini sesuai dengan panduan penjualan perusahaan untuk 2025, yaitu 65-67 juta ton batu bara dan rasio kupas sebesar 4,3 kali. Pasar penjualan terbesar AADI selama periode ini adalah Indonesia, diikuti oleh Malaysia, India, dan China. Mayoritas pelanggan perusahaan terdiri dari PLTU dan end-user lainnya.

Kinerja Keuangan AADI

Dari sisi kinerja keuangan, AADI mencatatkan penurunan hingga sembilan bulan 2025. Laba bersih AADI sebesar US$587,3 juta atau setara Rp9,8 triliun sampai September 2025 (kurs Jisdor BI Rp16.692 per dolar AS 30 September 2025). Laba bersih AADI turun hampir setengahnya, atau 45,35% secara tahunan. Sebelumnya, pada periode yang sama tahun lalu, AADI membukukan laba bersih sebesar US$1,07 miliar.

Turunnya laba bersih ini sejalan dengan pendapatan usaha AADI yang melemah 10,88% menjadi US$3,6 miliar sepanjang Januari-September 2025 dari sebelumnya sebesar US$4,04 miliar YoY. Pendapatan Adaro Andalan Indonesia ini didominasi oleh penjualan batu bara ekspor ke pihak ketiga sebesar US$2,78 miliar, dan penjualan batu bara domestik ke pihak ketiga sebesar US$530,9 juta. Sementara itu, berdasarkan pelanggannya, AADI memperoleh penjualan sebesar US$697,8 juta dari TNB Fuel Services Sdn. Bhd.

Adapun beban pokok penjualan AADI turun 9,02% menjadi US$2,66 miliar, dari sebelumnya sebesar US$2,93 miliar secara tahunan. Hingga September 2025, belanja modal AADI mencapai US$243 juta yang terutama digunakan untuk investasi pada pembangkit listrik untuk menunjang kegiatan industri di Kalimantan Utara, pembelian tongkang, dan sarana pendukung di rantai pasokan perusahaan. Belanja modal ini sejalan dengan panduan perusahaan di awal tahun yang sebesar US$250-US$300 juta.

Dividen Interim dan Strategi Keuangan

Meski kinerja AADI mengalami penurunan, AADI masih royal dalam membagikan dividen interim tahun buku 2025 kepada pemegang sahamnya. Untuk tahun buku 2025, AADI menebar dividen interim senilai US$250 juta atau setara lebih dari Rp3,9 triliun (asumsi kurs Rp15.600 per dolar AS).

Lie Luckman menyatakan bahwa AADI tidak memiliki fixed dividend payout ratio. Menurutnya, AADI selalu melakukan review kondisi arus kas operasional karena memiliki komitmen kepada stakeholders, termasuk pemegang saham, kreditur, dan pemerintah. Secara berurutan, perusahaan akan utamakan semua kewajiban yang harus dipenuhi, kemudian sisanya akan dianggarkan untuk belanja modal kegiatan operasional. Apabila masih ada free cash flow maka dapat digunakan untuk pembagian dividen.

Prospek Saham AADI

Analis Indo Premier Sekuritas, Reggie Parengkuan dan Ryan Winipta, memberikan rekomendasi buy untuk AADI. Mereka menjelaskan bahwa kinerja operasional AADI selama sembilan bulan 2025 masih sejalan dengan estimasi Indo Premier Sekuritas. Katalis untuk AADI datang dari ekspektasi berlanjutnya tren kenaikan harga ICI yang didukung oleh aktivitas restocking dan penurunan produksi di China.

Selain itu, AADI masih diperdagangkan pada valuasi yang menarik dengan price to earning sebesar 4,9 kali. Risiko utama ke bawah berasal dari potensi pelemahan harga batu bara akibat permintaan yang lemah dari China dan India. Indo Premier memberikan target harga sebesar Rp9.500 per saham.

Sementara itu, Analis UOB KayHian Sekuritas, Benyamin Mikael dan Alden Gabriel Lam, menuturkan saham AADI memiliki imbal hasil dividen menarik sebesar 12% hingga 16% dan program buyback yang berkelanjutan. Dengan utang yang diperkirakan akan lunas sepenuhnya, AADI akan memasuki fase penghasil kas yang kuat sehingga memungkinkan peningkatan imbal hasil kepada pemegang saham.

Benyamin dan Alden juga menyebut bahwa AADI akan menyelesaikan belanja modal ekspansi pada 2025 dan selanjutnya beralih ke belanja modal pemeliharaan sebesar US$220–US$250 juta per tahun. Hal ini akan meningkatkan arus kas bebas serta menopang dividen yang stabil, sambil tetap menjaga fleksibilitas neraca.

Menurutnya, harga batu bara cenderung mengikuti pola musiman, dengan momentum kenaikan yang biasanya muncul pada musim dingin seiring meningkatnya permintaan pemanas di wilayah konsumen utama. UOB KayHian memberikan rekomendasi beli untuk saham AADI dengan harga Rp13.000 per saham.

Di lantai Bursa, saham AADI terpantau melemah 0,71% atau 50 poin ke level Rp6.975 per lembar pada penutupan perdagangan Selasa (30/12/2025). Banderol tersebut juga mencerminkan pelemahan 15,20% sepanjang tahun berjalan 2025.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan