Arah Wall Street Minggu Ini: Kekhawatiran Shutdown Pemerintah AS

admin.aiotrade 05 Okt 2025 3 menit 15x dilihat
Arah Wall Street Minggu Ini: Kekhawatiran Shutdown Pemerintah AS


aiotrade.app, JAKARTA — Pemutusan atau shutdown pemerintahan Amerika Serikat (AS) menjadi perhatian utama para investor pekan ini. Hal ini terjadi seiring memasuki kuartal IV/2025, yang secara historis memiliki catatan kuat di Wall Street. Kebuntuan politik yang tajam di Washington telah memicu penutupan pemerintah federal yang berisiko menunda publikasi data ekonomi penting serta berpotensi mengaburkan arah kebijakan pelonggaran The Federal Reserve (The Fed).

Meski begitu, sebagian besar pelaku pasar Wall Street tidak memperkirakan kebuntuan ini akan menghentikan reli S&P 500, yang sudah naik 14% dan berulang kali mencatat rekor tertinggi tahun ini. Dengan minimnya rilis data maupun laporan keuangan, drama politik di Capitol Hill diperkirakan akan mendominasi perhatian investor.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Shutdown dan potensi pembukaan kembali… itu akan menyita hampir seluruh perhatian investor,” kata Chief Market Strategist di Nationwide, Mark Hackett, dikutip dari Reuters pada Senin (6/10/2025). Kekhawatiran utama investor adalah terhentinya aliran data ekonomi tepat waktu. Jika berlangsung beberapa pekan, kondisi ini dapat menimbulkan kebingungan terkait arah kebijakan moneter The Fed, yang biasanya sangat bergantung pada data pemerintah.

Semakin lama shutdown berlangsung, semakin besar pula risikonya bagi pertumbuhan ekonomi. Namun, untuk saat ini, investor menilai belum ada alasan untuk panik. Meski data tenaga kerja AS menunjukkan pelemahan, ekonomi Negeri Paman Sam sejauh ini masih mampu bertahan dari gempuran isu perdagangan dan tarif. Laporan keuangan korporasi juga tetap menopang reli saham.

Menurut data LSEG per Kamis (2/10/2025), analis memperkirakan laba perusahaan S&P 500 akan tumbuh 8,8% pada kuartal III dibandingkan periode sama tahun lalu, meningkat dari proyeksi 8,0% pada awal Juli. “Dalam pandangan saya, kurangnya data justru menambah beban pembuktian bagi investor pesimistis (bears), ketimbang bagi investor optimistis (bulls)”, lanjut Hackett.

Investor akan mulai mendapat gambaran musim laporan keuangan pekan depan, dengan Levi Strauss dan Delta Air Lines dijadwalkan merilis kinerja pada Kamis (9/10/2025). “Skenario paling mungkin adalah pasar tetap tenang… bergerak sideways selama shutdown,” tambah Hackett.

CEO KEY Advisors Wealth Management, Eddie Ghabour, menilai bahwa shutdown bisa berlangsung 2—4 pekan. “Jika shutdown berlarut, lalu ekonomi mendapat tambahan stimulus lewat dua kali pemangkasan suku bunga, kemudian pemerintah kembali beroperasi, kita akan melihat percepatan besar pertumbuhan ekonomi dan pasar saham,” jelasnya.

Investor juga akan mencermati risalah rapat The Fed September 2025 yang dijadwalkan rilis Rabu (8/10/2025), untuk mengetahui alasan di balik pemangkasan suku bunga bulan lalu.

Kuartal IV Musim Reli

Bagi investor bullish, kuartal IV/2025 menjadi angin segar. Data LSEG sejak 1928 menunjukkan, kuartal terakhir secara historis merupakan periode terkuat bagi S&P 500, dengan rata-rata kenaikan 2,9% dan tingkat imbal hasil positif yang tinggi.

“Terlepas dari risiko headline dan potensi volatilitas jangka pendek, bukti yang ada masih mendukung sikap konstruktif terhadap pasar,” tulis Co-Chief Investment Officer di Truist Advisory Services, Keith Lerner.

Momentum kuat pasar juga membuat investor bearish memilih ‘hibernasi’. Pada Kamis (2/10/2025), S&P 500 membukukan rekor penutupan tertinggi ke-30 tahun ini.

Global Macro Strategist di Carson Group, Sonu Varghese, mengatakan bahwa penutupan pemerintah AS akan menjadi berita utama. Tetapi, faktor fundamental akan tetap pada tiga hal: tren musiman yang positif, dorongan dari pemangkasan suku bunga untuk melindungi pasar tenaga kerja, dan momentum kuat pasar.

“Kami tetap overweight pada saham, dan strategi itu terus kami pertahankan,” tegasnya.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan