Arif Satria Tangani Keluhan Karyawan BRIN

admin.aiotrade 12 Nov 2025 3 menit 15x dilihat
Arif Satria Tangani Keluhan Karyawan BRIN

Kebijakan Homebase Unit Kerja di BRIN yang Menimbulkan Keluhan

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, akan segera menyelesaikan berbagai permasalahan yang dialami oleh para peneliti dalam beberapa waktu terakhir. Salah satu isu yang paling banyak dikeluhkan adalah kebijakan homebase unit kerja. Permasalahan ini sudah menjadi sorotan sejak awal tahun ini.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Arif mengatakan bahwa dirinya akan mempelajari keluhan tersebut secara mendalam. Menurutnya, semua aspirasi harus didengar dan dicari solusinya. "Saya akan mengumpulkan para Eselon I untuk mendengarkan update terhadap achievement yang sudah dicapai, kendala dan tantangannya seperti apa," ujar Arif setelah serah terima jabatan menjadi Kepala BRIN, Selasa, 11 November 2025.

Setelah mengumpulkan para Eselon I BRIN, Arif akan meramu kebijakan-kebijakan yang bermasalah untuk mencari alternatif penggantinya. "Bagaimana jalan keluar yang harus kami lakukan untuk mengatasi masalah dan tantangan tersebut," tambah Arif.

Dalam dua bulan ke depan, Arif juga akan menampung masukan dan evaluasi dari para pegawai dan peneliti di BRIN menjadi suatu kerangka kerja. Dokumen dan rencana strategis akan digodok selama dua bulan ini untuk meningkatkan kemajuan riset di Tanah Air.

Rektor IPB University ini menilai isu pangan dan energi sebagai kajian strategis yang sangat membutuhkan orkestrasi dan kolaborasi dari berbagai lembaga dan kementerian. Arif mengaku telah berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, hingga perguruan tinggi, untuk pengembangan riset di dua sektor tersebut.

Masalah yang Dihadapi Peneliti Akibat Kebijakan Homebase

Adapun kebijakan homebase unit kerja menjadi momok bagi para peneliti di BRIN karena mengharuskan seluruh periset yang tersebar di berbagai daerah untuk pindah ke unit penelitian masing-masing sesuai penempatan dan kepakarannya.

Seorang peneliti BRIN di Kawasan Sains dan Edukasi Ahmad Baiquni di Yogyakarta menyebutkan bahwa fasilitas di kantor pusat belum memadai untuk menampung semua peneliti. Dia memberikan contoh Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Soekarno di Cibinong, Kabupaten Bogor. Kawasan tersebut ditujukan menjadi homebase Pusat Riset yang ada di bawah Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan, Organisasi Riset Kesehatan, serta Organisasi Riset Pertanian dan Pangan.

Khusus untuk peneliti hayati di Yogyakarta, dia mengungkapkan adanya persoalan bahan penelitian. Banyak bahan kimia berbahaya yang saat ini disimpan di laboratorium mitra, seperti di Universitas Gadjah Mada (UGM). Menurutnya, para peneliti khawatir kantor pusat tidak memiliki fasilitas yang aman untuk menyimpan bahan-bahan tersebut.

"Di Cibinong, teman-teman sering kesulitan mendapatkan tempat duduk," katanya pada Rabu, 20 November 2024, "Pagi-pagi mereka harus datang lebih awal untuk berebut tempat duduk. Kalau tidak dapat, mereka terpaksa ke kafe untuk bekerja. Setiap hari."

Alasan Diterapkannya Kebijakan Homebase

Sebelumnya, Wakil Kepala BRIN Amarulla Octavian menjelaskan bahwa kebijakan homebase unit kerja bertujuan untuk meningkatkan kapasitas para peneliti dengan dukungan fasilitas yang sama dan lebih terpusat. Dengan anggaran yang terbatas, menurutnya, konsentrasi fasilitas di pusat-pusat unggulan dinilai sebagai langkah strategis.

“Karena anggaran BRIN terbatas, anggaran negara, anggaran pemerintah juga terbatas, maka dipusatkan di pusat keunggulan masing-masing. Nah para periset silakan datang ke sana, dikumpulkan ke sana untuk mengembangkan ilmunya,” ujar Amrulla pada akhir November tahun lalu.

Defara Dhanya berkontribusi dalam penulisan artikel ini.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan