Kegagalan Perundingan Damai AS dan Iran Mengkhawatirkan
Kegagalan perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memicu kekhawatiran akan dampak yang lebih luas secara global. Mantan Wakil Presiden Maruf Amin mengingatkan Indonesia untuk bersiap menghadapi berbagai konsekuensi yang mungkin timbul dari situasi tersebut.
Menurut Maruf, kegagalan negosiasi tidak lepas dari adanya kepentingan masing-masing pihak yang belum menemukan titik temu. Ia menyatakan bahwa jika tidak ada kepentingan, kepentingannya untuk kebaikan bersama, pasti tidak akan terjadi kegagalan. Namun, jika gagal, berarti ada kepentingan terselubung, tidak sungguh-sungguh untuk mencari solusi damai.
Kalau tidak ada kepentingan, kepentingannya untuk kebaikan bersama, pasti tidak akan terjadi kegagalan. Tapi kalau gagal, berarti ada kepentingan terselubung, tidak sungguh-sungguh untuk mencari solusi damai, kata Maruf kepada wartawan di Jakarta Pusat, Minggu (12/4/2026).
Dampak ke Indonesia

Ia menilai, konflik yang berkepanjangan hanya akan membawa dampak negatif secara luas, tidak hanya bagi kedua negara yang berseteru, tetapi juga bagi negara lain, termasuk Indonesia. Menurutnya, perang ini menyusahkan semua, membawa kesusahan di seluruh sektor. Semua negara pasti terkena dampaknya.
Perang ini menyusahkan semua, membawa kesusahan di seluruh sektor. Semua negara pasti terkena dampaknya, ujarnya.
Indonesia Tidak Bisa Hindari Efek Dinamika Global

Maruf juga menekankan bahwa Indonesia tidak bisa menghindari efek dari dinamika global tersebut. Oleh karena itu, kesiapan menghadapi dampak menjadi hal yang penting. Ia menegaskan bahwa kita mungkin tidak menginginkan itu, tapi ketika sudah terjadi, kita harus siap menghadapi dampaknya. Indonesia pasti juga akan terdampak di berbagai sektor.
Kita mungkin tidak menginginkan itu, tapi ketika sudah terjadi, kita harus siap menghadapi dampaknya. Indonesia pasti juga akan terdampak di berbagai sektor, jelasnya.
Pembicaraan Damai AS dan Iran Belum Ada Hasil

Pembicaraan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berlangsung intens selama lebih dari 20 jam belum menghasilkan kesepakatan konkret. Wakil Presiden AS JD Vance mengakui perundingan tersebut masih menemui jalan buntu. Berbicara kepada wartawan di Pakistan pada Minggu (12/4/2026), Vance menyampaikan bahwa delegasi Amerika Serikat telah meninggalkan ruang negosiasi dan bersiap kembali ke Washington.
Ia menegaskan, masih terdapat sejumlah perbedaan mendasar antara kedua pihak. Menurutnya, Iran belum bersedia menerima sejumlah syarat yang diajukan oleh Amerika Serikat. Masih ada kekurangan dalam pembicaraan dan Iran memilih untuk tidak menerima syarat dari AS, kata Vance.
Perundingan ini sendiri menjadi momen penting karena merupakan pertemuan tatap muka pertama antara kedua negara sejak Revolusi Islam Iran pada 1979.