Pernyataan Pentagon: AS Siap Lanjutkan Perang Jika Iran Tidak Sepakat Damai
Pemerintah Amerika Serikat (AS) telah menegaskan kesiapan mereka untuk melanjutkan perang jika Iran tidak segera menyepakati perdamaian. Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, mengungkapkan bahwa pihaknya sudah bersiap dengan kekuatan besar jika konflik dengan Iran harus berlanjut.
Meskipun demikian, Hegseth menekankan bahwa AS akan terus memprioritaskan negosiasi damai agar konflik bisa segera berakhir. Namun, jika jalur diplomasi gagal dan Iran tidak kunjung sepakat berdamai, maka AS tidak akan ragu untuk kembali memulai perang.
Kami lebih memilih melakukannya dengan cara yang baik melalui kesepakatan yang dipimpin oleh wakil presiden dan tim negosiasi kami atau kami dapat melakukannya dengan cara yang sulit. Kami mendesak rezim baru Iran untuk memilih dengan bijak, ujar Hegseth dalam acara konferensi pers pada Kamis (16/4/2026).
AS Akan Menyerang Infrastruktur Energi Iran Jika Perang Berlanjut
Dalam pernyataannya, Hegseth menambahkan bahwa jika perang kembali meletus, AS akan berupaya menguasai Selat Hormuz secara penuh. Selain itu, AS juga akan menyerang semua infrastruktur energi yang dimiliki Iran.
Menurut Hegseth, langkah tersebut bertujuan untuk menghancurkan kekuatan Iran dari dasar sehingga mereka kalah dan bersedia untuk berdamai dengan AS. Terlebih, menurut Hegseth, Iran kini juga sudah hampir kehabisan kekuatan untuk berperang melawan AS.
Jika Iran membuat pilihan yang buruk (tidak menyepakati perdamaian dengan AS), maka mereka akan menghadapi blokade dan pengeboman terhadap infrastruktur, listrik, dan energi, ancam Hegseth.

AS dan Iran Sudah Lakukan Negosiasi Damai
Untuk mengakhiri perang, AS dan Iran sebetulnya sudah menghelat negosiasi damai. Negosiasi tersebut dilakukan di Islamabad, Pakistan, pada 11 April pekan lalu. Sayangnya, negosiasi tersebut harus gagal total.
Dalam pernyataannya, Wakil Presiden AS, JD Vance, mengatakan, gagalnya negosiasi di Pakistan pekan lalu disebabkan Iran tidak mau menyetujui syarat perdamaian yang diberikan AS. Padahal, jika Iran setuju dengan syarat tersebut, kesepakatan perdamaian kemungkinan besar bisa diraih.
Jadi, jika ingin berdamai, AS meminta Iran untuk menyetop program pengembangan senjata nuklir mereka. Sebab, program senjata nuklir dianggap mengganggu stabilitas keamanan dunia, khususnya di Timur Tengah. Namun, Iran memutuskan untuk menolak syarat tersebut.

AS dan Iran Bersiap Lakukan Negosiasi Tahap Kedua
Kendati negosiasi tahap pertama gagal, AS dan Iran tidak menyerang. Sebab, kedua negara dikabarkan sedang bersiap untuk melakukan negosiasi damai tahap kedua.
Awalnya, negosiasi lanjutan dikabarkan bakal kembali digelar di Pakistan pada Kamis waktu AS atau Jumat (17/4/2026) waktu Indonesia. Namun, rencana tersebut urung terjadi. Sebab, menurut Kementerian Luar Negeri Pakistan, AS dan Iran kini masih menentukan waktu dan tempat untuk bertemu.
Siapa yang akan datang, seberapa besar delegasinya, siapa yang akan tinggal, dan siapa yang akan pergi, itu terserah pihak-pihak yang terlibat untuk memutuskan, kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan, Tahir Andrabi, kepada wartawan di Islamabad.

Tantangan dalam Proses Perdamaian
Negosiasi damai antara AS dan Iran tampaknya menghadapi banyak tantangan. Salah satunya adalah ketidaksepahaman terkait syarat-syarat yang diajukan oleh masing-masing pihak. Meski begitu, kedua belah pihak tetap berkomitmen untuk mencari solusi damai, meskipun prosesnya mungkin memakan waktu cukup lama.
Beberapa analis memprediksi bahwa negosiasi damai antara AS dan Iran bisa membutuhkan waktu hingga enam bulan. Hal ini karena kedua belah pihak perlu membangun kepercayaan dan menyelesaikan berbagai isu yang menjadi inti konflik.
Kesimpulan
Pernyataan Pentagon menunjukkan bahwa AS siap mengambil tindakan keras jika Iran tidak menunjukkan keinginan untuk berdamai. Namun, upaya diplomasi masih menjadi prioritas utama. Dengan adanya komitmen dari kedua belah pihak untuk terus berdialog, diharapkan konflik dapat segera diakhiri tanpa harus memicu perang yang lebih besar.