
Pertumbuhan Aset Industri Asuransi Jiwa Indonesia
Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) melaporkan bahwa total aset yang dimiliki oleh 56 perusahaan anggota AAJI mencapai Rp 648,58 triliun pada periode Januari-September 2025. Angka ini meningkat sebesar 2,9 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2024, yang berjumlah Rp 630,12 triliun. Hal ini menunjukkan bahwa industri asuransi jiwa memiliki ketahanan bisnis yang kuat serta kesehatan keuangan yang baik dalam menjaga kepercayaan masyarakat.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Dalam konferensi pers yang diadakan di kantor AAJI, Jakarta, pada Senin, 8 Desember 2025, Ketua Bidang Operational of Excellence AAJI Yurivanno Gani menjelaskan bahwa total investasi yang tercatat pada periode tersebut mencapai Rp 571,40 triliun. Angka ini naik sebesar 3,2 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada 2024, yaitu sebesar Rp 553,53 triliun.
Portofolio Investasi Anggota AAJI
Portofolio investasi anggota AAJI mayoritas ditempatkan pada Surat Berharga Negara (SBN). Total asetnya pada sembilan bulan terakhir tahun 2025 mencapai Rp 236,88 triliun, yang merupakan peningkatan dari periode yang sama pada 2024 sebesar Rp 205,66 triliun dan 2023 sebesar Rp 160,29 triliun.
Selanjutnya, aset investasi kedua paling banyak ditempatkan pada saham. Nilai saham pada sembilan bulan terakhir pada 2025 mencapai Rp 124,57 triliun, meskipun angka ini turun dibandingkan dengan periode yang sama pada 2024 sebesar Rp 144,91 triliun dan 2023 sebesar Rp 156,64 triliun. Yurivanno Gani menjelaskan bahwa penurunan ini disebabkan karena kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) baru terjadi pada kuartal ketiga.
Di sisi lain, beberapa perusahaan asuransi telah menempatkan dana mereka dalam deposito dengan jangka waktu tertentu. Selain itu, ada juga aset tanah dan bangunan yang tidak bisa dialihkan secara cepat ke saham.
Perkembangan Portofolio Investasi Lainnya
Aset ketiga paling besar adalah reksadana, yang mencapai Rp 70,60 triliun pada sembilan bulan terakhir pada 2025. Angka ini turun dibandingkan dengan periode yang sama pada 2024 sebesar Rp 72,30 triliun dan 2023 sebesar Rp 89,12 triliun.
Keempat, sukuk korporasi mencapai Rp 53,92 triliun pada sembilan bulan terakhir pada 2025, yang merupakan peningkatan dari periode yang sama pada 2024 sebesar Rp 46,50 triliun dan 2023 sebesar Rp 43,70 triliun.
Kelima, deposito mencapai Rp 33,17 triliun pada sembilan bulan terakhir pada 2025, yang merupakan penurunan dari periode yang sama pada 2024 sebesar Rp 34,59 triliun dan 2023 sebesar Rp 37,25 triliun.
Keenam, aset tanah dan bangunan mencapai Rp 16,96 triliun pada sembilan bulan terakhir pada 2025, yang merupakan peningkatan dari periode yang sama pada 2024 sebesar Rp 16,03 triliun dan 2023 sebesar Rp 14,62 triliun.
Disusul oleh aset penyertaan langsung yang mencapai Rp 30,24 triliun pada sembilan bulan terakhir pada 2025, yang merupakan peningkatan dari periode yang sama pada 2024 sebesar Rp 27,75 triliun dan 2023 sebesar Rp 24,61 triliun.
Terakhir, aset lain-lain mencapai Rp 5,05 triliun pada sembilan bulan terakhir pada 2025, yang merupakan penurunan dari periode yang sama pada 2024 sebesar Rp 5,79 triliun dan 2023 sebesar Rp 7,77 triliun.