
Latar Belakang dan Peran Burhanuddin Abdullah
Burhanuddin Abdullah, seorang tokoh perumus ekonomi yang terlibat dalam tim Prabowo, mengungkapkan bahwa Prabowo sudah mempersiapkan diri untuk menjadi presiden sejak lama. Ia menilai bahwa Prabowo memiliki visi jangka panjang tentang bagaimana membangun pertumbuhan ekonomi sebesar delapan persen. Dalam wawancara dengan Dahlan Iskan, Burhanuddin menyampaikan bahwa ia tidak hanya sebagai seorang ahli ekonomi, tetapi juga memiliki pengalaman di berbagai lembaga seperti Bank Indonesia (BI) dan International Monetary Fund (IMF).
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Pengakuan Tidak Pernah Menjadi Profesor
Dalam percakapan tersebut, Burhanuddin mengklarifikasi bahwa ia bukanlah profesor. Ia menjelaskan bahwa panggilan "profesor" muncul karena seseorang dari DPR, Idrus Marham, melihat bahwa anak buahnya adalah para profesor, sehingga mengira dia juga seorang profesor. Bahkan saat Prabowo Subianto menyebut gelarnya secara lengkap, termasuk "profesor, doktor, insinyur", Burhanuddin merasa kaget dan tidak bisa memberikan klarifikasi.
Ia mengungkapkan bahwa ia sebenarnya adalah seorang insinyur pertanian yang lulus dari Universitas Padjajaran. Sebelum bekerja di BI, ia pernah bekerja di Unilever dan kemudian masuk ke BI karena minat pada bidang pertanian. Di masa pemerintahan Soeharto, ia terlibat dalam proyek Bimas Inmas yang berhasil meningkatkan produksi padi dan mengatasi ancaman kelaparan.
Pengalaman di IMF dan Kritik Terhadap Kebijakan Pemerintah
Burhanuddin diberi kesempatan belajar di Michigan, Amerika Serikat, selama dua tahun, di mana ia lebih mendalami isu-isu pertanian. Setelah kembali ke Indonesia, ia kembali bekerja di BI dan kemudian lolos tes untuk bekerja di IMF. Selama lima tahun, ia bekerja di kantor pusat IMF di Washington DC.
Selama bekerja di BI, ia sering menulis artikel untuk media massa. Salah satu tulisan pertamanya dimuat di Harian Sinar Harapan dengan judul "Kredit di Masa Panen". Dalam tulisan itu, ia mengkritik kebijakan pemerintah yang memberi kredit kepada petani saat musim tanam, sehingga menyebabkan harga gabah merosot di masa panen. Ia menyarankan agar kredit diberikan saat panen agar petani dapat menunggu harga yang lebih tinggi.
Kehidupan Saat Ini dan Hubungan dengan Prabowo
Sampai saat ini, Burhanuddin masih sering bertemu dengan Prabowo. Ia juga sering diundang untuk menghadiri sidang kabinet terbatas, meskipun ia sendiri tidak tahu pasti posisinya. Ia mengatakan bahwa logika ekonomi Prabowo yang mampu mencapai pertumbuhan 8 persen berasal dari sumber yang tidak dipikirkan oleh banyak ekonom, yaitu underground economy.
Underground economy mencakup aktivitas seperti korupsi, ekspor-impor ilegal, under invoicing, narkoba, dan judi online. Nilainya sangat besar, mencapai lebih dari seribu triliun rupiah setiap tahun. Burhanuddin mengungkapkan bahwa Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sedang mencari sumber dana dari underground economy untuk mencapai target pertumbuhan 8 persen.
Pengaruh Teori Ekonomi dan Peran Burhanuddin Saat Ini
Pada suatu kesempatan, Prabowo bertanya kepada Burhanuddin apakah ia pernah membaca karya Friedrich August von Hayek. Burhanuddin mengaku belum pernah membacanya, sehingga Prabowo menyarankannya untuk membaca buku-buku von Hayek, meskipun bahasa Inggrisnya sulit dipahami.
Von Hayek adalah seorang ekonom yang berseberangan dengan Keynes. Banyak pemerintah menggunakan kombinasi antara teori intervensi pemerintah dan pasar bebas. Buku karya von Hayek seperti The Road to Serfdom (1944) menjadi referensi penting bagi banyak ekonom.
Saat ini, Burhanuddin menjadi komisaris utama PLN dan masih aktif dalam diskusi bersama pendukung Prabowo. Ia mengatakan bahwa tidak ada presiden lain yang mempersiapkan diri sebaik Prabowo untuk menjadi pemimpin negara.
Kesimpulan
Perang melawan underground economy akan menjadi salah satu strategi baru dalam pertumbuhan ekonomi. Burhanuddin menginginkan agar ia tidak lagi dipanggil "profesor", tetapi lebih nyaman dengan nama Asgar, yang berasal dari Garut. Ia menegaskan bahwa logika ekonomi Prabowo sudah terencana jauh-jauh hari.