Asing Kembali Beli Saham Komoditas Akhir Tahun, BUMI hingga UNTR Jadi Incaran

admin.aiotrade 24 Des 2025 3 menit 13x dilihat
Asing Kembali Beli Saham Komoditas Akhir Tahun, BUMI hingga UNTR Jadi Incaran


aiotrade,
JAKARTA – Arus modal investor asing terus mengalir ke saham-saham emiten komoditas meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan menjelang akhir tahun. Hal ini menunjukkan bahwa investor asing tetap optimis terhadap sektor komoditas di tengah situasi pasar yang sedang berada dalam koreksi.

Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG pada Selasa (23/12) melemah sebesar 0,71% menjadi 8.584,78. Meski demikian, aksi beli bersih dari investor asing justru meningkat mencapai Rp245,59 miliar. Menurut data Stockbit Sekuritas, dari 10 saham dengan net buy terbesar, tujuh di antaranya berasal dari emiten komoditas. Contohnya adalah saham PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) yang mendominasi dengan nilai beli bersih sebesar Rp101,49 miliar, serta saham PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) dengan net buy sebesar Rp74,39 miliar.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Pada perdagangan Senin (22/12), ketika IHSG naik sebesar 0,42%, investor asing juga melakukan net buy sebesar Rp1,34 triliun. Dari 10 saham dengan net buy terbesar, delapan di antaranya merupakan saham emiten komoditas. Saah satu yang dominan adalah saham PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) dengan net buy sebesar Rp432,58 miliar, disusul oleh saham PT United Tractors Tbk. (UNTR) dengan net buy sebesar Rp92,07 miliar.

Menurut pengamat pasar modal dan founder Republik Investor, Hendra Wardana, arus masuk modal asing ini memberikan harapan bagi IHSG untuk mencapai level 9.000 di sisa waktu 2025. Namun, ia menilai peluang tersebut sangat terbatas karena secara matematis IHSG perlu menguat lebih dari 4% dalam waktu singkat, sementara secara teknikal indeks sedang bergerak di dalam lower channel.

Hendra menyebutkan bahwa fokus pasar saat ini bukan lagi pada target 9.000, melainkan apakah support krusial 8.560 dapat bertahan. Jika level ini jebol, IHSG berisiko turun menguji MA50 di 8.435, yang menjadi area penting dalam menentukan apakah koreksi hanya bersifat sehat atau berlanjut lebih dalam.

Dalam pekan lalu, IHSG terkoreksi sebesar 0,59% dengan penurunan jumlah rata-rata transaksi harian sebesar 12,59% dari 3,20 juta kali menjadi 2,79 juta kali. Volume saham yang diperdagangkan juga turun sebesar 20,80% dari 59,34 miliar saham menjadi 47 miliar saham.

Hendra menjelaskan bahwa akumulasi yang dilakukan investor asing saat ini menjadi tanda bahwa koreksi IHSG lebih bersifat profit taking dan konsolidasi, bukan distribusi besar-besaran. Selain itu, ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter global di 2026, stabilisasi inflasi domestik, serta potensi window dressing terbatas di saham-saham big caps masih menjadi penopang psikologis pasar.

Penurunan nilai dan volume transaksi harian pekan lalu terutama disebabkan oleh efek musiman akhir tahun. Banyak investor institusi, baik domestik maupun asing, mulai mengurangi aktivitas perdagangan, mengamankan profit, dan menutup buku portofolio. Hal ini membuat pasar menjadi lebih sepi, volatilitas meningkat, dan pergerakan indeks sangat dipengaruhi oleh segelintir saham besar.

Pola serupa masih berpotensi terjadi pekan ini, namun ada perbedaan yaitu munculnya selective buying, khususnya pada saham-saham komoditas dan second liner yang mencatatkan kenaikan signifikan seperti INCO, FILM, VKTR, dan IMPC. Artinya, meskipun likuiditas memang menyusut, rotasi sektoral masih berjalan, bukan pasar yang benar-benar mati.

Menurut Hendra, strategi yang lebih rasional bagi investor adalah tidak mengejar indeks, melainkan fokus pada saham-saham dengan cerita fundamental kuat dan likuiditas terjaga. Dalam konteks tersebut, beberapa saham emiten komoditas dan sektor lainnya menurutnya masih menarik dicermati secara selektif.

ANTM tetap prospektif seiring tren positif emas dan nikel dengan target harga Rp3.500. BUMI menarik untuk trading buy dengan target Rp450 seiring tingginya aktivitas volume. Di sektor perbankan, Hendra merekomendasikan BMRI dan BBRI untuk dikoleksi bertahap dengan target masing-masing Rp6.000 dan Rp4.500. Selain bank, Hendra juga merekomendasikan untuk mencermati HRUM dengan target Rp1.200 dan BULL di target Rp450.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. aiotrade tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan