ASLC Masih Murah, Autopedia Lestari Akan Beli Kembali Sahamnya

ASLC Masih Murah, Autopedia Lestari Akan Beli Kembali Sahamnya

Strategi Buyback Saham ASLC untuk Meningkatkan Nilai Perusahaan

ASLC Masih Murah, Autopedia - ASLC Masih Murah, Autopedia Lestari Akan Beli Kemb pt 1

PT Autopedia Sukses Lestari Tbk. (ASLC) mengumumkan rencana strategis untuk melakukan pembelian kembali saham atau buyback pada tahun ini. Langkah ini dilakukan karena perusahaan merasa nilai saham saat ini masih terlalu rendah dibandingkan dengan fundamentalnya.

Presiden Direktur ASLC, Jany Candra, menyatakan bahwa perseroan berencana mengalokasikan dana internal untuk membeli kembali saham yang beredar di publik melalui Bursa Efek Indonesia (BEI). Pelaksanaan buyback akan dilakukan secara bertahap dalam periode tertentu setelah mendapatkan persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), dengan tetap mematuhi batasan harga dan volume sesuai regulasi OJK yang berlaku.

Sebagai informasi tambahan, Perseroan saat ini masih dalam periode pembelian kembali saham sampai dengan 17 Juni 2026, sebagaimana disetujui pada RUPS tanggal 17 Juni 2025. Langkah ini diambil sebagai refleksi atas kondisi arus kas perseroan yang kuat serta kepercayaan manajemen terhadap nilai intrinsik perusahaan yang terus meningkat pasca pengumuman kinerja tahun penuh 2025.

Melihat capaian gemilang sepanjang 2025 kami merasa harga saham saat ini masih berada di bawah nilai fundamentalnya, ujarnya melalui keterangan resmi, Selasa (14/4/2026).

Dia menegaskan keberhasilan strategi bisnis pada 2025 menghasilkan posisi kas yang sehat, memungkinkan Perseroan melakukan buyback tanpa mengganggu rencana ekspansi di tahun 2026. Buyback ini adalah instrumen kami untuk mengembalikan nilai kepada pemegang saham sekaligus menjaga volatilitas pasar agar lebih stabil, imbuhnya.

Berdasarkan laporan keuangan tahun 2025, ASLC berhasil mencatatkan pertumbuhan yang signifikan, didorong oleh ekspansi jaringan ritel Caroline.id dan stabilnya bisnis lelang JBA. Perseroan mencatatkan kenaikan pendapatan yang solid secara tahunan, didukung oleh volume penjualan unit yang melampaui target tahunan yaitu sebesar Rp1 triliun atau tumbuh 14,5% dibandingkan tahun 2024.

Secara keseluruhan, Perseroan memandang prospek bisnis pada tahun 2026 tetap cerah, didukung oleh fundamental pasar yang solid dan berkelanjutan. Optimisme tersebut mendorong ASLC terus melakukan strategi ekspansi jaringan yang berkelanjutan, serta optimalisasi ekosistem omnichannel bisnis mobil bekas.

Adapun aksi buyback dinilai mampu menjadi peredam sementara di tengah gejolak pasar. Analis dari Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai langkah buyback dapat menahan penurunan harga saham lebih dalam sekaligus meredam aksi jual panik. Menurutnya, buyback juga mencerminkan fundamental perusahaan yang solid serta valuasi saham yang masih menarik.

Selain itu, aksi ini berpotensi meningkatkan rasio keuangan seperti earnings per share (EPS) dan return on investment (ROI). Meski demikian, Nafan mengingatkan bahwa efektivitas buyback tetap bergantung pada sejumlah faktor, seperti likuiditas pasar, minat investor, serta prospek fundamental emiten. Ia menekankan agar aksi buyback tidak semata-mata dilakukan untuk mendongkrak harga saham dalam jangka pendek atau sekadar window dressing. Jangan sampai buyback justru mengorbankan ekspansi bisnis atau belanja modal yang penting untuk pertumbuhan jangka panjang, jelasnya.

Senada, Equity Research Analyst dari OCBC Sekuritas Gani menyebut aksi buyback dapat membantu meredam penurunan harga saham, terutama saat pasar berada dalam tekanan. Namun, efektivitasnya tetap bergantung pada kualitas fundamental masing-masing perusahaan serta eksekusi program buyback itu sendiri.