Asthara Bangun Jembatan Penghubung Kota Asthara Skyfront, Investasi Rp280 Miliar

admin.aiotrade 11 Nov 2025 4 menit 15x dilihat
Asthara Bangun Jembatan Penghubung Kota Asthara Skyfront, Investasi Rp280 Miliar

Strategi Pengembangan Infrastruktur Asthara Skyfront City

Asthara Group terus mempercepat pengembangan infrastruktur di kawasan Asthara Skyfront City. Langkah ini merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk memperkuat fondasi kawasan sebelum memasuki tahap pengembangan komersial secara masif.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Proyek terbaru yang diluncurkan adalah pembangunan jembatan penghubung utama menuju kawasan Asthara Skyfront City. Jembatan ini akan melintasi Sungai Cisadane dan memiliki panjang 1,5 kilometer. Struktur jembatan terdiri dari 1 kilometer jembatan layang dan 0,5 kilometer jalan di permukaan tanah.

Jembatan tersebut akan dibangun mulai dari Perimeter Utara, melintasi Jalan Suria Dharma, Sungai Cisadane, dan Pamling, sebelum masuk ke kawasan Asthara Skyfront City. Untuk membangun jembatan ini, Asthara Group menggandeng PT Bumi Bandara Indah dan Bukaka–Rizki KSO. Pengembang ini telah melakukan penandatangan nota kesepahaman dengan Bukaka-Rizki KSO pada 10 November 2025.

CEO Asthara Skyfront City, Supardi Ang menyatakan bahwa pembangunan jembatan ini akan menelan investasi sekitar Rp 280 miliar. Ia menilai, pembangunan Jembatan utama menjadi milestone penting dalam perjalanan pengembangan kawasan Asthara Skyfront City.

“Kolaborasi dengan Bukaka–Rizki KSO, yang memiliki pengalaman dan reputasi di bidang infrastruktur, diyakini akan melahirkan hasil karya terbaik, jembatan yang tidak hanya kuat dan fungsional, tetapi juga memiliki nilai estetika tinggi sebagai wajah Asthara Skyfront City,” ujar Supardi.

Meningkatkan Konektivitas dan Efisiensi Mobilitas

Supardi menjelaskan bahwa pembangunan jembatan baru di kawasan tersebut akan menjadi akses utama yang sangat efektif untuk memperlancar konektivitas antarwilayah. Bagian layang dirancang khusus untuk menghindari potensi kemacetan, terutama di sekitar area industri Suria Dharma.

Saat ini, kawasan sekitar bandara hanya memiliki dua jembatan penghubung, yakni Jembatan Wawan dan satu jembatan lain sekitar tiga kilometer ke utara. Namun, Jembatan Wawan sering kali menjadi titik kemacetan karena hanya dapat dilalui satu lajur bergantian. Kondisi itu membuat mobilitas warga tidak efisien dan menghambat pertumbuhan ekonomi di sekitar kawasan.

“Dengan hadirnya jembatan baru ini, waktu tempuh dari sisi Asthara menuju wilayah lain di Kota Tangerang yang sebelumnya bisa mencapai 30–60 menit akan memangkas drastis menjadi hanya 5–10 menit,” tambah Supardi.

Ia menambahkan bahwa proyek ini diharapkan tidak hanya mempercepat mobilitas warga dan pekerja, tetapi juga menjadi katalis pertumbuhan ekonomi baru di kawasan barat Tangerang yang kini berkembang pesat sebagai pusat hunian, bisnis, dan industri.

Menurutnya, pembangunan Jembatan Utama Asthara Skyfront City dengan enam jalur kendaraan ini akan menjadi salah satu infrastruktur paling ikonik di kawasan Tangerang.

Proyek ini ditargetkan rampung dalam waktu 18 bulan dan diharapkan beroperasi pada awal 2027, bertepatan dengan rencana serah terima Top 1 kawasan Asthara pada Juni 2027.

Progres Penjualan dan Pengembangan Klaster

Asthara Skyfront City merupakan proyek kawasan kota mandiri yang berlokasi di Tangerang, tepat di samping Bandara Internasional Soekarno-Hatta, dengan luas pengembangan 1.100 hektare (ha). Proyek ini pertama kali diluncurkan pada 19 Juni 2025 dengan memperkenalkan klaster pertama bertajuk Alurea.

Klaster ini merupakan bagian dari pengembangan super klaster yang dinamai The Floristz di lahan seluas 22 ha dan merangkum empat klaster hunian. Klaster Allurea akan dibangun di lahan seluas 5 ha yang menghadirkan 420 unit rumah dengan harga mulai dari Rp 1 miliar sampai Rp 2,8 miliar.

Supardi menyatakan bahwa penjualan Asthara Skyfront City sudah mencapai sekitar 400 unit, sesuai dengan target tahun ini. “Namun, sampai akhir tahun kemungkinan masih akan bertambah sekitar 20-30 unit lagi,” kata dia.

Dia menyebut, penjualan klaster Alurea telah selesai untuk Top 1 dan Top 2, dan kini pengembang membuka Alurea Extension untuk tipe rumah besar. Harga unit mengalami kenaikan sekitar 5% karena permintaan tinggi.

Astha Group juga mempercepat pembangunan klaster hunian pertamanya itu.

Groundbreaking dan Rencana Pengembangan Berikutnya

Groundbreaking atau peletakan batu pertama pembangunan Klaster Allurea sudah dilakukan pada 26 September 2025.

Setelah Lebaran tahun depan, lanjut Supardi, Asthara juga berencana meluncurkan ruko komersial (Ruko) dan sejumlah fasilitas baru seperti retail plot C dan D, restoran Nusantara, serta area sport complex. Sementara pembangunan infrastruktur internal kawasan akan terus berjalan hingga pertengahan 2027.

Seperti diketahui, Asthara Skyfront City dikembangkan sebagai kawasan kota mandiri terpadu yang menggabungkan hunian modern, pusat bisnis dan perbelanjaan, hotel, pusat gaya hidup, yang dilengkapi dengan fasilitas skala kota seperti fasilitas pendidikan, Kesehatan, sport centre, club house dan lainnya.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan