
aiotrade, JAKARTA — Kerugian yang diasuransikan akibat bencana alam di seluruh dunia pada 2025 diperkirakan mencapai angka US$107 miliar atau setara dengan Rp1,785 kuadriliun. Angka ini menjadikan 2025 sebagai tahun keenam berturut-turut kerugian yang diasuransikan akibat bencana alam melebihi US$100 miliar.
Perkiraan ini dirilis oleh Swiss Re Institute, lembaga penelitian dari salah satu perusahaan reasuransi terbesar di dunia, Swiss Re. Dalam laporannya, lembaga tersebut menyebutkan bahwa bencana yang terjadi di Indonesia menjadi salah satu kontributor utama dalam angka kerugian tersebut.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Bencana-bencana yang melanda kawasan Asia Tenggara, khususnya di Vietnam, Thailand, dan Indonesia, disebabkan oleh kombinasi hujan deras, tanah longsor, dan banjir bandang. Menurut laporan Swiss Re Institute, kondisi ini terbentuk dari sistem cuaca kompleks yang melibatkan interaksi antara beberapa sistem siklon dan monsun. Perubahan angin musiman yang semakin intensif di bawah kondisi La Niña memperparah situasi tersebut.
Meskipun bencana di Indonesia turut berkontribusi pada kerugian yang diasuransikan, Amerika Serikat (AS) tetap menjadi negara dengan kontribusi terbesar. Negara ini menyumbang sekitar 83% atau US$89 miliar dari total kerugian global. Di AS maupun secara global, dua bencana utama yang sering menimbulkan kerugian adalah kebakaran hutan dan badai konvektif parah (Severe Convective Storms/SCS).
"Reasuradur dan sektor asuransi memiliki peran ganda: bertindak sebagai peredam kejut finansial dan mendukung pengembangan kebijakan publik serta investasi swasta yang tangguh dan sadar risiko," ujar Kepala Ekonom Grup Swiss Re, Jérôme Jean Haegeli, dalam rilis pers yang dikeluarkan pada Selasa (16/12/2025).
Kerugian global pada 2025 mengalami penurunan sebesar 24% dibandingkan kerugian pada 2024, yaitu US$141 miliar. Angka ini juga lebih rendah dari perkiraan Swiss Re Institute pada pertengahan 2025, yang sekitar US$150 miliar. Pada pertengahan 2025, kerugian yang diasuransikan akibat bencana alam global telah mencapai US$80 miliar.
Badai konvektif parah (SCS) menjadi penyebab utama kerugian sebesar US$50 miliar pada 2025. Hal ini menjadikan 2025 sebagai tahun termahal ketiga untuk SCS setelah 2023 dan 2024. Aktivitas SCS yang tinggi pada paruh pertama tahun ini meliputi tornado parah dan hujan es di AS, serta badai es di Eropa. Namun, aktivitas SCS pada paruh kedua 2025 mulai mereda.
"Memiliki pandangan yang lebih holistik terhadap bahaya ini sangat penting untuk memastikan seleksi risiko dan manajemen risiko yang tepat," jelas Kepala Bahaya Bencana Swiss Re, Balz Grollimund.
Kerugian kebakaran hutan yang diasuransikan mencapai angka tertinggi sepanjang sejarah, yaitu US$40 miliar. Selain faktor meteorologis seperti kondisi panas dan kering yang berkepanjangan serta angin kencang, besar kerugian ini juga disebabkan oleh perluasan perumahan dan aset residensial bernilai tinggi ke zona berbahaya perbatasan hutan-kota (wildland-urban interface/WUI).
Tahun 2025 juga menjadi tahun dengan banyaknya guncang badai siklon tropis. Contohnya adalah Badai Melissa, siklon tropis terkuat yang pernah melanda Jamaika dan menyebabkan kerusakan di Haiti serta Kuba. Bencana ini menimbulkan kerugian yang diasuransikan hingga US$2,5 miliar.
Secara unik, tidak ada siklon tropis besar yang mendarat di pantai AS pada 2025. Oleh karena itu, kerugian yang diasuransikan dari bahaya ini diperkirakan rendah. Secara umum, aset atau properti yang diasuransikan di AS memang bernilai lebih tinggi dibandingkan daerah lain yang terkena dampak badai.
Swiss Re Institute menekankan pentingnya adaptasi dan sistem peringatan dini terhadap bencana karena hal-hal tersebut sangat krusial dalam menyelamatkan nyawa. Sebagai contoh, lembaga tersebut menyebut sistem peringatan dini yang efektif dan terkoordinasi ketika terjadi gempa bumi berkekuatan 8,8 di lepas pantai timur Rusia, yang merupakan gempa bumi terbesar keenam yang tercatat sejak 1900.