Atasi Krisis Iklim, Gen Z Minta Dilibatkan dengan Tulus

admin.aiotrade 07 Nov 2025 3 menit 17x dilihat
Atasi Krisis Iklim, Gen Z Minta Dilibatkan dengan Tulus

Peran Generasi Z dalam Menghadapi Krisis Iklim

Generasi Z (Gen Z) menuntut untuk dilibatkan secara tulus, bermakna, dan strategis dalam berbagai ruang diskusi yang berkaitan dengan krisis iklim. Pelibatan generasi muda sangat penting karena mereka akan menghadapi konsekuensi jangka panjang dari perubahan iklim yang terjadi saat ini.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Selain itu, Gen Z juga meminta adanya redistribusi kekuasaan dan akses serta pengakuan pemerintah terhadap kapasitas kolektif anak muda. Selama ini, kapasitas anak muda sering dianggap sebelah mata, padahal mereka memiliki potensi besar dalam membentuk kebijakan yang lebih baik.

Dalam diskusi Ruang Publik KBR: "Generasi Z Menagih Tanggung Jawab Iklim" pada 5 November 2025, Gen Z menyampaikan aspirasi mereka. Diskusi yang disiarkan secara daring tersebut merupakan bagian dari Diskusi Dua-Mingguan Nexus Tiga Krisis Planet yang diinisiasi oleh Justice Coalition for Our Planet (JustCOP).

"Anak muda punya otoritas untuk menentukan arah kebijakan terkait iklim," ujar Dinah Rida dari KATA Indonesia, yang mewakili Generasi Z di wilayah perkotaan.

Ia menilai bahwa redistribusi kekuasaan dan akses yang sudah ada belum maksimal. Minimnya akuntabilitas membuat anak muda kurang terinformasi tentang pendanaan yang tersedia untuk mengatasi krisis iklim.

Dinah juga menilai bahwa pemerintah sering kali menyamaratakan dampak krisis iklim bagi semua orang muda. Hal ini menghasilkan solusi yang tidak konkret di daerah yang paling terdampak. "Apa yang dihadapi anak muda di perkotaan berbeda dengan teman-teman yang tinggal di pelosok," tambahnya.

Anak Muda di Daerah Terpencil Terpinggirkan

Elsy Grasia dari Yayasan Pikul menilai bahwa anak muda di daerah pelosok seringkali terpinggirkan dari proses pengambilan keputusan terkait krisis iklim. Hal ini menyebabkan suara generasi muda di wilayah dengan keterbatasan informasi semakin tidak terdengar.

Elsy menceritakan dampak dari Siklon Seroja yang masih dirasakan hingga saat ini. Badai tersebut menghantam sebagian besar wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada April 2021. Kecepatan siklon mencapai 100 km per jam, sehingga memicu banjir bandang di beberapa pulau kecil NTT, termasuk Pulau Rote, Sabu, dan Lembata.

Banyak tanaman lokal yang menjadi sumber pangan, budaya, dan kearifan lokal turut terkena dampak. Di Kodi, Pulau Sumba, tanaman lokal yang kerap digunakan untuk membangun rumah adat dan dinamai dengan bahasa setempat juga rusak. "Jika terus terjadi, penyusutan bisa membuat generasi muda melupakan bahasa dan kearifan lokal," ujar Elsy.

Di Pulau Timor yang menjadi rumah bagi Kupang, petani dan nelayan muda kehilangan penghidupan mereka, sehingga terpaksa beralih ke pekerjaan lain tanpa keahlian yang memadai.

Elsy menilai kondisi ini memperlebar ketimpangan dan memperparah kemiskinan struktural di NTT. Kondisi ini diperparah lagi oleh kebijakan pemerintah yang terus meloloskan proyek-proyek yang merampas ruang hidup warga. Ia memberikan contoh kasus perampasan ruang hidup warga NTT, termasuk perluasan proyek geotermal di Poco Leok, Pulau Flores.

Warga menolak proyek tersebut karena dinilai tidak transparan dan mengancam sumber kehidupan mereka. "Pemerintah perlu mengkaji ulang proyek-proyek besar seperti di Poco Leok dan sudah selayaknya mengajak bicara anak muda dan kelompok rentan setempat," kata Elsy.

Untuk itu, Elsy mendesak pemerintah agar benar-benar mendengar dan melibatkan kelompok rentan hingga pelosok kampung.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan