
Gangguan Teknologi Besar yang Mengganggu Layanan Global
Amazon Web Services (AWS), salah satu penyedia layanan komputasi awan terbesar di dunia, telah berhasil memulihkan layanannya setelah mengalami gangguan selama 15 jam. Peristiwa ini menyebabkan ketidaknyamanan bagi ratusan platform global yang bergantung pada infrastruktur AWS.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Dalam pembaruan terbaru yang diterbitkan di dashboard status layanan AWS, perusahaan menyatakan bahwa seluruh operasionalnya kembali normal sekitar pukul 18.00 waktu setempat. Gangguan ini mencakup berbagai layanan seperti penyimpanan data, daya komputasi, dan infrastruktur digital lainnya, sehingga menimbulkan dampak yang luas terhadap situs dan aplikasi di seluruh dunia.
Berdasarkan data dari Downdetector, lebih dari ratusan platform besar terkena dampak gangguan tersebut. Beberapa contohnya adalah Venmo dan Robinhood Markets Inc., layanan musik dan TV milik Apple Inc., serta perusahaan perangkat lunak seperti Zoom Communications Inc., Salesforce Inc., dan Snowflake Inc. Selain itu, jaringan restoran cepat saji McDonald’s Corp. dan pengembang gim Epic Games Inc. juga mengalami gangguan.
Bahasa yang digunakan dalam laporan ini tidak hanya menggambarkan dampak eksternal tetapi juga mengungkapkan bahwa layanan internal Amazon sendiri, seperti asisten pintar Alexa dan sistem keamanan rumah Ring, turut terdampak oleh masalah ini.
Corey Quinn, Kepala Ekonom Cloud di Duckbill Group, menyatakan bahwa gangguan kali ini kemungkinan merupakan yang terburuk bagi AWS sejak insiden besar pada Desember 2021. Ia menanyakan apakah ini adalah gangguan besar lainnya atau justru karena kita semakin saling terhubung dan terlalu bergantung pada Amazon.
Menurut penjelasan AWS, gangguan disebabkan oleh malfungsi pada direktori digital di layanan basis data utama. Hal ini memicu efek domino ketika perangkat lunak lain tidak dapat mengakses data yang tersimpan di sistem tersebut. Masalah ini terutama berdampak pada pusat data AWS di wilayah Pantai Timur AS — klaster terbesar milik perusahaan itu.
Setelah penyebab utama ditemukan dan diperbaiki, para insinyur AWS menemukan bahwa sejumlah subsistem lain, termasuk yang digunakan pelanggan untuk meluncurkan server sewaan baru, ikut terpengaruh oleh gangguan basis data tersebut.
Meskipun sebagian besar gangguan teknologi besar biasanya dapat dipulihkan dengan cepat, insiden ini menunjukkan rapuhnya sistem digital global yang saling terhubung. Gangguan pada satu perusahaan dapat menimbulkan efek domino yang signifikan.
Tahun lalu, misalnya, pembaruan perangkat lunak yang salah di perusahaan keamanan siber CrowdStrike Holdings Inc. menyebabkan sistem di berbagai negara lumpuh dan kerugian bernilai miliaran dolar. Gangguan besar AWS pada 2021 sebelumnya juga berdampak luas, mulai dari taman hiburan Disney, layanan Netflix, hingga penjualan tiket konser Adele. Kala itu, Amazon mengungkapkan bahwa program otomatis yang dirancang untuk meningkatkan keandalan jaringan justru menyebabkan perilaku aneh di banyak sistem dan lonjakan aktivitas di jaringan AWS yang membuat pengguna tidak bisa mengakses sejumlah layanan.