Ayah Bisa Trauma Setelah Ibu Melahirkan, Mengapa Diabaikan?

admin.aiotrade 12 Nov 2025 4 menit 16x dilihat
Ayah Bisa Trauma Setelah Ibu Melahirkan, Mengapa Diabaikan?
Ayah Bisa Trauma Setelah Ibu Melahirkan, Mengapa Diabaikan?

Trauma Pascakelahiran yang Tidak Terlihat: Dampak Psikologis pada Ayah

Pada Hari Ayah Nasional yang jatuh pada 12 November, kita diingatkan bahwa peran ayah dalam keluarga tidak hanya terbatas pada memberi nafkah atau melindungi anak. Mereka juga memiliki tanggung jawab emosional dan psikologis yang sama pentingnya dengan ibu. Namun, sering kali, dampak trauma yang dialami ayah setelah melahirkan diabaikan.

Bayangkan seorang laki-laki menangis terisak-isak. Jika Anda menganggapnya lemah karena laki-laki tidak seharusnya bersikap emosional, maka penilaian Anda mencerminkan pandangan maskulinitas hegemonik. Maskulinitas hegemonik adalah sistem kepercayaan sosial yang memposisikan laki-laki sebagai dominan, berdaya, dan tidak boleh menunjukkan sisi emosional. Pandangan ini menciptakan norma sosial yang menuntut laki-laki untuk selalu menahan emosi dan menghindari ekspresi kerentanan.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Padahal, semua gender, termasuk laki-laki, berhak menunjukkan sisi emosional mereka. Bahkan dalam situasi yang sangat rentan seperti menyaksikan istri melahirkan. Dalam beberapa kasus, trauma pascakelahiran tidak hanya dialami oleh ibu, tetapi juga ayah. Sayangnya, masyarakat cenderung mengabaikan dampak psikologis yang dialami para ayah.

Mengapa Ayah Bisa Trauma Setelah Ibu Melahirkan?

Studi tinjauan sistematis tahun 2019 pada 34 penelitian menunjukkan bahwa tingkat kecemasan ayah akan meningkat menjelang proses persalinan dan terus bertambah setelah ibu melahirkan. Para ayah cenderung merespons tekanan yang dialami pasangannya secara emosional, sehingga mereka bisa mengalami trauma. Perasaan tak berdaya, hingga rasa takut kehilangan pasangan maupun anak merupakan faktor utama yang bisa memicu timbulnya gejala gangguan stres pascatrauma (PTSD) pada ayah.

Trauma pascakelahiran bisa menyebabkan ayah mengalami perubahan emosional yang drastis, seperti menarik diri dari lingkungan sosial dan merasa terasing. Dampak trauma ini tidak main-main—bisa membuat sang ayah kehilangan arah dalam perannya sebagai orang tua. Trauma ini turut berdampak pada dinamika keluarga, terutama dalam pola pengasuhan, serta kualitas interaksi antara ayah, ibu, dan anak.

Kondisi ini bahkan bisa mempersulit ayah dalam menjalankan rutinitas dan peran sosial mereka. Hal ini kerap diperparah oleh stigma negatif dari masyarakat maupun keluarga sendiri. Misalnya, ketika seorang ayah menunjukkan rasa cemas dan sedih, masyarakat atau anggota keluarga menilai dirinya “lemah” atau “tidak kompeten sebagai kepala keluarga”.

Meski dampaknya tergolong serius terhadap kesejahteraan keluarga, fenomena ini masih kurang mendapatkan perhatian dan belum menjadi fokus dalam layanan kesehatan mental pascapersalinan.

Kita Cenderung Mengabaikan Trauma Ayah

Maskulinitas hegemonik dalam masyarakat memperparah kondisi ini. Penelitian kami menemukan bahwa kepercayaan patriarkal memengaruhi persepsi dan intensi masyarakat dalam memberikan pertolongan kepada ayah yang mengalami trauma pascakelahiran. Kami meminta 282 partisipan menilai bagaimana mereka memandang dan merespons sosok ayah yang mengalami trauma setelah kelahiran anaknya. Kami juga meminta tanggapan mereka mengenai sosok ibu yang mengalami trauma pascapersalinan.

Hasilnya, partisipan cenderung menunjukkan niat lebih besar untuk membantu ibu dibanding ayah, meskipun keduanya digambarkan mengalami kondisi emosional yang sama beratnya. Ini cukup menandai bahwa masyarakat kita lebih mengutamakan dukungan emosional bagi perempuan, ketimbang laki-laki yang dianggap lebih “kuat” dan mampu mengatasi kondisi emosionalnya sendiri.

Temuan ini menunjukkan bagaimana nilai-nilai maskulinitas hegemonik memengaruhi cara kita menilai kerentanan laki-laki. Semakin kuat seseorang memegang kepercayaan bahwa laki-laki harus tegar, rasional, dan tidak menampakkan kelemahan, semakin kecil pula kemungkinan ia memandang ayah sebagai sosok yang layak mendapatkan pertolongan.

Akibatnya, banyak ayah yang berisiko mengalami kesepian psikologis setelah kelahiran anak. Bukan karena mereka tidak butuh dukungan, melainkan karena masyarakat tidak terbiasa melihat mereka sebagai pihak yang perlu ditolong.

Pandangan Sosial yang Tertanam Kuat

Dalam studi ini, kami juga mencari tahu apakah pola pikir sarat maskulinitas tersebut dapat dikurangi lewat pendekatan human nature framing, yaitu dengan meyakinkan peserta bahwa manusia pada dasarnya baik. Kami memberikan para peserta bahan bacaan yang menekankan bahwa manusia secara alamiah memiliki sifat positif, empati, dan kemampuan untuk menolong. Bacaan ini memuat kutipan tokoh ternama, seperti Nelson Mandela, yang menyatakan bahwa manusia tidak dilahirkan untuk membenci dan cinta datang secara alami dari hati manusia.

Cara pandang mengenai sifat dasar manusia ini sebelumnya terbukti dapat menurunkan prasangka sosial dalam berbagai konteks. Misalnya, studi tahun 2021 dalam Peace and Conflict: Journal of Peace Psychology menemukan ketika peserta Muslim makin meyakini bahwa sifat dasar manusia itu baik, semakin positif pula persepsi mereka terhadap sifat kelompok luar (warga non-Muslim Tionghoa). Hal ini meningkatkan dukungan mereka terhadap prinsip persatuan dalam keberagaman.

Pendekatan human nature framing tersebut diharapkan bisa meningkatkan empati dan menggeser cara pandang masyarakat terhadap ayah yang mengalami trauma setelah ibu melahirkan. Namun, hasil penelitian kami menunjukkan bahwa strategi ini tidak efektif. Paparan singkat terhadap gagasan tersebut tidak mampu mengubah keyakinan sosial yang telah tertanam kuat dalam diri individu.

Butuh Upaya Bersama

Dukungan emosional dari orang terdekat buat ibu memang sangatlah penting. Sebab, perubahan fisik dan hormonal sebelum, selama, dan setelah melahirkan berpotensi menyebabkan ibu mengalami baby blues hingga depresi. Namun, ayah juga layak mendapatkan perhatian. Dukungan ini bisa lebih mengalir apabila ayah lebih mengakui emosi yang dirasakan. Menunjukkan sisi rapuh dan emosional itu merupakan hal yang lumrah.

Kita juga harus bersama-sama mengubah cara pandang yang lebih inklusif dalam menghargai sisi emosional setiap manusia.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan