
Hari Ayah Nasional: Kisah Perjuangan Seorang Ayah Tunggal
Tanggal 12 November diperingati sebagai Hari Ayah Nasional. Tanggal ini menjadi momen penting untuk menghargai jasa, kasih sayang, dan perjuangan seorang ayah dalam keluarga serta masyarakat. Di hari yang penuh makna ini, banyak kisah luar biasa tentang para ayah yang berjuang keras demi anak-anaknya. Salah satu kisah yang menginspirasi berasal dari Dadang Sudarto (40), seorang ayah tunggal yang telah hampir dua tahun membesarkan putranya yang didiagnosis sebagai anak slow learner dan hiperaktif.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Anak slow learner adalah anak yang memiliki potensi intelektual di bawah normal, tetapi tidak termasuk tuna grahita. Skor IQ mereka berkisar antara 70-89. Ciri-ciri umumnya meliputi lambat dalam memahami dan memecahkan masalah, serta mudah lupa. Anak kategori ini membutuhkan metode dan dukungan pembelajaran yang sesuai agar dapat mencapai prestasi akademik.
Kehidupan Dadang dan Rizky
Dadang mengungkapkan bahwa istrinya meninggal saat Rizky lulus SD. Saat ini, Rizky sudah masuk SMP kelas 1. Dalam kesehariannya, Dadang berjualan mi ayam di kawasan Masjid Agung Surabaya sambil merawat sang putra. Meskipun menjadi orang tua tunggal, Dadang sangat telaten dalam merawat Rizky.
Pada masa kecil Rizky, Dadang dan istrinya sempat membawanya ke dokter serta mencoba pengobatan alternatif untuk mendapatkan terapi. Namun, hasilnya tidak memuaskan. Akhirnya, saat Rizky mulai masuk SLB, Dadang bertemu dengan guru di sekolah tersebut yang memberikan panduan terapi khusus untuk anak seperti Rizky. Ia langsung menerapkannya di rumah dan Alhamdulillah, Rizky mulai menunjukkan perkembangan, meski harus sabar dan telaten.
Perkembangan yang Menggembirakan
Ketelatenan dan kesabaran Dadang bersama mendiang istri dalam merawat anak spesial seperti Rizky membuahkan hasil. Saat usia 7 tahun, Rizky mulai bisa mengucapkan kosa kata. Hal ini menjadi dorongan bagi Dadang dan istrinya untuk lebih semangat lagi merawat Rizky.
Namun, musibah datang ketika ibunda Rizky meninggal dunia karena sakit tepat saat Rizky lulus SD di SLB. Dadang tidak ingin Rizky terus berduka hingga terguncang psikologisnya, sehingga ia selalu ada di sisi sang putra. Bahkan, Dadang turut mengajak Rizky berjualan mi ayam agar Rizky tidak merasa kesepian.
Prestasi yang Menginspirasi
Kesabaran dan keuletan Dadang sebagai orang tua tunggal dalam mengasuh Rizky kini mulai menampakkan hasilnya. Rizky berhasil meraih berbagai penghargaan melalui lomba melukis yang diikutinya. Menurut Dadang, Rizky memiliki bakat di bidang seni. Pernah, Rizky menang juara 3 se Kota Surabaya untuk lomba melukis. Sekarang, Rizky mulai menekuni kesenian karawitan di sekolah.
Meski Dadang mengakui bahwa cara komunikasi Rizky hingga saat ini masih belum bisa fokus, bakat seni yang dimiliki sang putra membuatnya bangga. "Kalau diajak ngomong masih belum begitu nyambung, kita ngomong apa dia jawabnya apa. Tapi Rizky sudah berada di titik sekarang, sudah sangat saya syukuri. Dia sangat istimewa bagi saya," ujarnya.
Pesan untuk Orang Tua Anak Spesial
Dadang pun berpesan kepada mereka yang memiliki anak spesial untuk tetap bersabar dan telaten dalam merawat buah hatinya. Niscaya kesabaran yang ditanam akan membuahkan hasil yang indah.
"Usaha itu tidak mengkhianati hasil, kita terus usaha dan berdoa, Tuhan yang akan menunjukkan kuasa Nya," pungkasnya.