
aiotrade, JAKARTA — Banyak buruh tekstil yang mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) memilih untuk membangun industri kecil sendiri, terutama menjadi pengusaha konveksi. Hal ini disampaikan oleh Ikatan Pengusaha Konveksi Berkarya (IPKB), yang menyatakan bahwa sejumlah besar pekerja tekstil mulai merintis bisnis kecil dalam beberapa tahun terakhir. Namun, sayangnya, tidak semua dari mereka berhasil bertahan.
Ketua Umum IPKB Nandi Herdiaman menjelaskan bahwa fenomena ini menunjukkan bahwa industri tekstil dan produk tekstil (TPT) semakin kurang bergairah. Ia yakin bahwa banyak buruh yang terkena PHK akan beralih menjadi pelaku usaha kecil. Dalam keterangan tertulisnya, ia menyebutkan bahwa pihaknya tidak menepis fakta tersebut.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Menurut Nandi, industri kecil dan menengah (IKM) perlu mendapatkan dukungan terkait perlindungan pasar. Dengan begitu, para buruh yang ter-PHK dapat berusaha dengan permintaan yang ada di pasar. Pemerintah juga diminta untuk memastikan bahwa pasar dalam negeri tetap kondusif dan aman bagi produk lokal. Hal ini penting agar IKM dapat berkembang dan meningkatkan kontribusinya terhadap perekonomian negara.
“Kami dari IKM akan terus mengawal kebijakan pemerintah agar pasar terjaga, berharap IKM bisa betul-betul menjadi penggerak ekonomi rakyat,” ujarnya.
Nandi juga menekankan bahwa IKM memiliki peran penting dalam perekonomian negara. Mereka dapat menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta meningkatkan kualitas hidup. Oleh karena itu, ia berharap pemerintah memberikan perhatian lebih besar kepada IKM dan memastikan kebijakan yang dibuat dapat mendukung kemajuan IKM.
Sebelumnya, Konfederasi Serikat Pekerja Nusantara (KSPN) melaporkan bahwa sebanyak 126.120 buruh KSPN mengalami PHK. Mayoritas dari mereka berasal dari sektor padat karya seperti tekstil, garmen, dan sepatu. Angka ini mencakup PHK sejak akhir 2022 hingga Oktober 2025, yang dilaporkan dari 59 perusahaan tekstil dan produk tekstil (TPT) serta 13 perusahaan non-TPT.
Presiden KSPN Ristadi menyampaikan bahwa tertekannya industri dalam negeri karena berbagai faktor, sehingga banyak perusahaan melakukan efisiensi bahkan sampai menutup produksi. Akibatnya, PHK tak terelakkan.
Dari total 126.120 pekerja yang mengalami PHK, sebanyak 99.666 atau sekitar 79% berasal dari industri tekstil, garmen, dan sepatu. Sisanya berasal dari sektor lain seperti retail, perkebunan/kehutanan, aneka mainan, otomotif, pertambangan, hotel, mebel, ban motor, hingga varian kertas.
Terkait sebaran wilayah, PHK anggota KSPN terbanyak di Jawa Tengah sebanyak 47.940 pekerja (38%), disusul Jawa Barat sebanyak 39.109 pekerja (31%), Banten sejumlah 21.447 pekerja (17%), Sulawesi Tenggara sejumlah 7.569 pekerja (6%), serta 10.095 pekerja atau 8% terbagi di sejumlah wilayah seperti Jakarta, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan lain sebagainya.
Faktor Penyebab PHK yang Terjadi
Beberapa faktor utama yang menyebabkan PHK antara lain: * Kondisi ekonomi yang tidak stabil yang membuat perusahaan kesulitan dalam menjaga operasional. * Persaingan pasar yang ketat, baik dari produk impor maupun industri dalam negeri yang tidak seimbang. * Peningkatan biaya produksi yang tidak diimbangi dengan peningkatan harga jual. * Perubahan regulasi dan kebijakan pemerintah yang tidak selaras dengan kebutuhan industri.
Dampak PHK terhadap Masyarakat
PHK tidak hanya berdampak pada individu yang terkena, tetapi juga pada keluarga dan masyarakat secara keseluruhan. Beberapa dampak yang muncul antara lain: * Penurunan pendapatan keluarga yang bisa memicu kemiskinan. * Ketidakstabilan sosial akibat ketidakpastian ekonomi. * Penurunan kualitas hidup yang berujung pada penurunan kesehatan dan pendidikan anak-anak.
Solusi yang Diharapkan
Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan langkah-langkah strategis yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Beberapa solusi yang bisa diterapkan antara lain: * Peningkatan perlindungan pasar terhadap produk lokal. * Pemberdayaan IKM melalui pelatihan, akses modal, dan pemasaran. * Penguatan regulasi yang mendukung pertumbuhan industri dalam negeri. * Peningkatan investasi dalam sektor-sektor strategis seperti teknologi dan inovasi.
Dengan adanya kolaborasi yang kuat antara berbagai pihak, diharapkan PHK dapat diminimalkan dan industri dalam negeri bisa bangkit kembali.