
Daerah Terdampak Penurunan Tanah di Pulau Jawa
Badan Geologi mencatat bahwa sejumlah daerah di Pulau Jawa mengalami penurunan tanah atau tanah ambles dengan laju lebih dari lima sentimeter per tahun. Tidak hanya terjadi di wilayah pesisir, tetapi juga di dataran tinggi seperti Bandung. Selain itu, Jakarta Utara, beberapa daerah di Semarang seperti Genuk, Tanjung Mas, dan Kaligawe, Sayung di Demak, pesisir Pekalongan, serta bagian timur dan utara Surabaya juga mengalami fenomena ini.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Pelaksana tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menjelaskan bahwa penyebab utama penurunan tanah adalah kondisi geologi, yaitu sedimen atau endapan berumur muda dan tanah lunak. Faktor lain yang memperparahnya adalah eksploitasi air tanah secara berlebihan, beban bangunan, serta urbanisasi masif.
Dikombinasikan dengan kenaikan muka laut akibat pemanasan global, penurunan tanah ini berpotensi menyebabkan risiko banjir dan rob secara permanen. Dampak lainnya meliputi kerusakan infrastruktur dan bangunan, serta penurunan kualitas hidup dan lingkungan terkait masalah kesehatan dan sanitasi. "Selain itu, ada kerugian ekonomi akibat meningkatnya biaya perbaikan bangunan dan infrastruktur di daerah terdampak serta hilangnya wilayah daratan," ujar Lana dalam keterangan yang diberikan pada Rabu, 17 Desember 2025.
Dampak Amblesan Tanah
Amblesan atau penurunan tanah (land subsidence) merupakan ancaman bencana yang terjadi dalam waktu lama namun memiliki dampak luas. Umumnya, dampak ini meliputi wilayah perkotaan, industri, dan pemukiman padat. Di wilayah pesisir utara Pulau Jawa, penurunan tanah telah membuat daratan seperti Jakarta dan Semarang sejajar atau bahkan lebih rendah daripada muka laut. "Banjir rob meluas di Jakarta Utara, Kabupaten dan Kota Pekalongan, Kota Semarang dan Kabupaten Demak," kata Lana.
Perubahan garis pantai, pembangunan tanggul laut, dan aktivitas pemompaan banjir juga menjadi indikator adanya kondisi tanah ambles. Disebutkan oleh Lana, perubahan daratan menjadi perairan permanen tersebut menghilangkan permukiman dan tambak dari peta daratan.
Situasi di Jakarta
Khusus untuk wilayah Jakarta, Badan Geologi menyatakan terjadi pelandaian penurunan tanah di cekungan air tanah. Berdasarkan pengukuran global positioning system (GPS) antara 2015 hingga 2023, terjadi penurunan tanah antara 0,05 hingga 5,17 sentimeter per tahun. Penurunan muka tanah di Jakarta bahkan disebut relatif tidak terlihat sejak 2020 hingga sekarang. Namun, hasil pengukuran GPS sebelumnya menunjukkan bahwa pada periode 1997 hingga 2005, laju penurunan tanah di Jakarta berkisar antara 1-10 hingga 15-20 sentimeter per tahun.
Menurut laporan terbaru World Economic Forum (WEF), terbit November lalu, sebagian wilayah Jakarta tercatat mengalami amblesan hingga 28 sentimeter. Jakarta, begitu juga Semarang, disebutkan termasuk wilayah yang sedang tenggelam dengan laju 10 sampai 20 kali lebih cepat daripada kenaikan muka air lautnya.
Upaya Mitigasi dan Perlu Tindakan Cepat
Berdasarkan data dan informasi yang diperoleh, penting bagi pemerintah dan masyarakat untuk segera mengambil tindakan mitigasi guna mengurangi dampak penurunan tanah. Hal ini melibatkan pengelolaan sumber daya air tanah secara berkelanjutan, pengendalian urbanisasi, serta penguatan infrastruktur yang mampu menghadapi perubahan lingkungan. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan dapat mengurangi risiko bencana dan menjaga keberlanjutan lingkungan serta kualitas hidup masyarakat.