
Target Swasembada Solar pada 2026
Pemerintah Indonesia memiliki rencana ambisius untuk menghentikan impor solar pada tahun 2026. Tantangan utama dalam mencapai target ini adalah kesiapan infrastruktur kilang dan jadwal operasional yang ditetapkan oleh PT Pertamina (Persero). Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyatakan bahwa jika proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Kilang Balikpapan beroperasi penuh, kapasitas produksi solar dalam negeri akan melampaui kebutuhan nasional. Dengan demikian, swasembada solar menjadi kemungkinan nyata.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Bahlil menjelaskan bahwa jika RDMP Balikpapan telah selesai, produksi solar akan surplus sekitar 3 hingga 4 juta kiloliter. Hal ini memungkinkan penghentian impor solar sepenuhnya pada tahun 2026. Namun, ia juga menegaskan bahwa keberhasilan target tersebut bergantung pada kesiapan infrastruktur dan jadwal operasional dari Pertamina.
Kesiapan Infrastruktur dan Jadwal Operasional
Menurut Bahlil, apabila RDMP Balikpapan baru beroperasi penuh pada Maret 2026, maka impor solar masih mungkin dilakukan secara terbatas pada awal tahun untuk menjaga ketahanan stok nasional. Ia menjelaskan bahwa jika tidak ada kebutuhan impor pada Januari dan Februari, maka impor tidak diperlukan.
Kementerian ESDM terus berkoordinasi dengan Pertamina untuk memastikan kesiapan teknis di lapangan. Proses koordinasi ini penting untuk memastikan bahwa semua aspek terkait produksi dan distribusi solar dapat dijalankan dengan efisien.
Peningkatan Mutu BBM dalam Negeri
Selain mengejar swasembada, pemerintah juga berkomitmen untuk meningkatkan mutu solar di dalam negeri. Saat ini, solar yang beredar memiliki angka setana 51. Ke depan, pemerintah menargetkan kualitas BBM setara dengan standar Euro 5. Meski peningkatan kualitas ini masih menghadapi kendala kesiapan infrastruktur kilang, pemerintah tetap berkomitmen melakukan pembaruan teknologi agar standar lingkungan yang lebih baik dapat dicapai.
Proyek RDMP Kilang Balikpapan sebagai Investasi Strategis
RDMP Kilang Balikpapan merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) dengan nilai investasi sekitar US$ 7,4 miliar atau setara Rp126 triliun. Proyek ini menjadi salah satu investasi terbesar yang dijalankan BUMN di sektor energi, dengan tujuan utama mengurangi ketergantungan impor BBM dan memperkuat ketahanan energi nasional.
Proyek ini dikerjakan oleh PT Kilang Pertamina Internasional sejak 2017. Dua tahun berselang, Pertamina membentuk anak perusahaan untuk mengelola proyek ini, yakni PT Kilang Pertamina Balikpapan. Proyek ini akan meningkatkan kapasitas pengolahan minyak mentah dari sekitar 260 ribu barel per hari menjadi 360 ribu barel per hari.
Produksi BBM Berkualitas dan Petrokimia
Pejabat Sementara Corporate Secretary Kilang Pertamina Internasional, Milla Suciyani, menyebutkan bahwa kilang juga memproduksi BBM berkualitas Euro V, dengan kandungan sulfur maksimal 10 parts per million. Adapun kualitas BBM di Indonesia saat ini masih Euro III atau IV.
Selain itu, RDMP Balikpapan memungkinkan kilang Balikpapan menghasilkan produk petrokimia sekitar 283 ribu ton per tahun. Melalui proyek RDMP Balikpapan, Kilang Balikpapan akan mampu menghasilkan produk petrokimia berupa propilena dan sulfur. Jumlah produksi petrokimia yang akan dihasilkan dari Kilang Balikpapan diproyeksikan mencapai 283 ribu ton per tahun, dengan produk propilena sekitar 225 ton per tahun, dan sisanya produk sulfur.
Peran Propilena dalam Industri
RDMP Balikpapan juga memproduksi propilena, bahan baku utama dalam industri plastik, tekstil, dan berbagai produk kimia lain. Untuk memperkuat manajemen inventori produk propilena, Kilang Pertamina Internasional bahkan membangun delapan tangki baru berbentuk bola untuk menyimpan produk propilena berbentuk gas.
Han Revanda Putra berkontribusi dalam penulisan artikel ini.