
Proyeksi Operasi Tambang Grasberg Block Cave Tahun Depan
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) milik PT Freeport Indonesia (PTFI) diperkirakan akan kembali beroperasi pada tahun depan. GBC adalah salah satu tambang yang mengalami longsoran pada 8 September lalu, yang menyebabkan aliran lumpur sebanyak 800 ribu mencapai area tambang bawah tanah tersebut. Akibatnya, tujuh pekerja meninggal dunia.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Bahlil menjelaskan bahwa pihaknya menargetkan operasi GBC bisa kembali berjalan pada Maret atau April tahun depan. Hal ini disampaikan saat ia diwawancarai di Kementerian ESDM, Jumat (14/11). Meskipun operasi tambang secara keseluruhan terhenti pasca insiden, kegiatan di dua tambang lain yang tidak terkena dampak longsor, yaitu Deep Mill Level Zone and Big Gossan, telah mulai berjalan kembali.
Menurut Bahlil, jarak antara tambang Deep Mill Level Zone and Big Gossan dengan GBC sekitar 6-7 kilometer. Hal ini membuat kedua tambang tersebut relatif aman dari dampak longsoran. Namun, sebelum izin operasi diberikan, pemerintah akan melakukan evaluasi dan analisis terhadap kondisi tambang. Dua hal tersebut saat ini sedang dilakukan oleh timnya.
Analisis ini bertujuan untuk mengetahui penyebab longsoran terjadi, termasuk audit oleh tim ahli. Hasil evaluasi tersebut akan menjadi dasar rekomendasi perbaikan sebelum produksi kembali dilanjutkan. Bahlil menegaskan bahwa pihaknya tidak ingin memberikan izin operasi secara sembarangan, karena masalah ini berkaitan dengan nyawa manusia, bukan hanya bisnis.
Prediksi Perusahaan dan Dampak Longsoran
Freeport McMoran (FCX), induk perusahaan PT Freeport Indonesia (PTFI), sebelumnya memprediksi bahwa tambang GBC baru bisa kembali beroperasi pada 2027. PTFI saat ini sedang mengevaluasi dampak insiden ini terhadap rencana produksi masa depan. Akibat longsoran, perusahaan memperkirakan ada revisi jumlah produksi yang bergantung pada jadwal perbaikan dan pemulihan bertahap.
Perusahaan menjelaskan bahwa berdasarkan penilaian awal, dampak longsoran ini kemungkinan mengakibatkan penundaan produksi yang signifikan, yaitu pada kuartal IV 2025 dan tahun 2026. "Kembalinya tambang (GBC) ke tingkat operasi sebelum insiden berpotensi tercapai pada 2027," kata perusahaan dalam keterangan resmi, dikutip Kamis (25/9).
Berdasarkan data FCX, tambang GBC memiliki komposisi 50% dari cadangan mineral yang ada di PTFI hingga 2024. Hasil tambang ini mewakili 70% produksi tembaga dan emas yang diperkirakan hingga 2029. Longsoran ini terjadi di salah satu dari lima blok produksi di GBC. Namun, kerusakan infrastruktur akibat longsoran memengaruhi produksi blok lain di GBC.
Produksi PTFI saat ini berasal dari tiga tambang, yakni GBC, Deep Mill Level Zone and Big Gossan. "PTFI memperkirakan tambang Big Gossan dan Deep MLZ yang tidak terdampak longsoran bisa memulai kembali operasinya pada pertengahan kuartal empat 2025," ujar perusahaan.