
Marwan Faza dan Aisyah Salsabila Putri Pranata membagikan rahasia mereka dalam mengalahkan unggulan Malaysia di pertandingan sengit di final Indonesia Masters II 2025.
Pasangan muda ini berhasil meraih kemenangan comeback di GOR Pancing PBSI, Deli Serdang, Sumatera Utara, pada hari Minggu (26/10/2025). Mereka sukses mengalahkan Jimmy Wong dan Lai Pei Jing dalam pertandingan tiga gim dengan performa yang sangat luar biasa.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Di gim pertama, Marwan/Aisyah sempat kalah, tetapi mereka mampu membalikkan situasi di dua gim berikutnya dengan cara yang lebih agresif. Bahkan, mereka mampu unggul hingga 13-1 sebelum akhirnya menang dengan skor 16-21, 21-19, 21-3.
"Yang pertama adalah bersyukur bisa meraih gelar di rumah sendiri. Tahun lalu kami ada di final hari ini dan akhirnya bisa juara," ujar Marwan setelah pertandingan.
"Puas bisa juara di Indonesia," tambahnya.
Marwan dan Aisyah masih tergolong muda, dengan usia masing-masing 22 tahun. Mereka mulai menjadi andalan ganda campuran di sektor pelapis.
Marwan menjelaskan bahwa di gim pertama, mereka mengalami kesulitan karena servis mereka sering mati. Dari awal hingga akhir, mereka hanya bisa mencatat enam kali servis mati. Hal ini membuat permainan mereka kurang optimal.
"Hawa mainnya juga kurang dapat, kayak greget mainnya kurang. Main serba datar-datar aja," jelasnya.
Namun, di gim kedua, mereka mampu bangkit dan menjalankan reli dengan lebih baik serta menerapkan strategi yang tepat. Selain itu, mereka juga melihat bahwa lawan mulai tertekan, terutama di gim ketiga.
"Di gim kedua, kami berusaha untuk meyakinkan diri dan pikiran agar bisa fokus kembali. Akhirnya kami bisa keluar dari tekanan, mengejar ketertinggalan, dan akhirnya menang 21-19," kata Marwan.
"Di gim ketiga, kami sudah dalam kondisi yang bagus dan yakin dengan permainan kami. Lawan justru yang tertekan. Kami terus melakukan tekanan dan serangan baik dari bola depan maupun belakang."
Kemenangan ini memiliki arti penting bagi Marwan. Ia menyadari bahwa ia mendapat ujian dengan sering berganti pasangan. Namun, bersama Aisyah, duet mereka terasa lebih stabil.
"Target ke depan, saya ingin di level super 300 bisa lebih bersaing. Karena sebelumnya kami sering kalah di babak 16 besar. Jadi, saya ingin lebih baik dari itu," ujarnya.
Sementara itu, Aisyah juga mengambil pelajaran berharga dalam pertandingan ini, terutama saat berduel di depan net menghadapi Lai Pei Jing yang berusia 33 tahun.
"Menghadapi Lai Pei Jing, salah satu pemain senior di ganda campuran, saya sudah pernah bertemu dengan partner yang berbeda. Menurut saya, kemampuan mereka tidak merata, tapi bagi saya ini memberi pengalaman baru," katanya.
"Dukungan penonton sangat berarti bagi kami. Kami tidak ingin mengecewakan mereka, terutama hari ini penontonnya sangat penuh."
"Arti kemenangan ini terutama buat keluarga, orang tua, pelatih, dan teman-teman. Tentu saja, juga untuk negara Indonesia yang bisa mempersembahkan medali emas di sini," pungkas Aisyah.