
aiotrade, BALIKPAPAN — Distribusi kredit perbankan di Kalimantan Timur pada kuartal II/2025 menunjukkan bahwa penyaluran kredit masih terpusat di dua kota besar, yaitu Balikpapan dan Samarinda. Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Kaltim Budi Widihartanto menjelaskan bahwa kedua kota ini menerima 48,84% dari total kredit yang disalurkan di provinsi tersebut.
"Peran kedua kota ini sebagai pusat kegiatan ekonomi sangat berpengaruh terhadap besarnya pangsa penyaluran kredit," ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (21/10/2025).
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Di sisi lain, Kabupaten Penajam Paser Utara yang menjadi wilayah pertama ibu kota negara (IKN) Nusantara justru mengalami penyaluran kredit terendah dengan hanya 0,82%. Dari sisi pertumbuhan, situasi kredit regional menunjukkan perbedaan yang signifikan antar daerah.
Kabupaten Kutai Timur mencatatkan pertumbuhan kredit tertinggi sebesar 11,37% secara tahunan (year-on-year/yoy), diikuti oleh Kota Samarinda dengan pertumbuhan 10,96% (yoy). Namun, beberapa wilayah mengalami kontraksi tajam. Kabupaten Kutai Kartanegara dan Mahakam Ulu tercatat mengalami penurunan masing-masing sebesar 26,55% (yoy) dan 31,44% (yoy).
Selain itu, Kabupaten Berau yang sebelumnya menunjukkan tren positif, kini mengalami kontraksi pada periode pelaporan ini. Meskipun demikian, kualitas kredit secara keseluruhan masih dalam koridor aman. Hampir seluruh kabupaten/kota di Kaltim mencatatkan rasio Non Performing Loan (NPL) di bawah ambang batas 5%.
Kabupaten Mahakam Ulu memiliki kualitas kredit terbaik dengan NPL hanya 0,02%, sedangkan Kabupaten Kutai Kartanegara mencatatkan NPL tertinggi sebesar 6,75% dan menjadi satu-satunya wilayah yang melampaui threshold kehati-hatian perbankan.
Secara sektoral, kredit utamanya mengalami kontraksi, sehingga rasio NPL mayoritas sektor tetap terjaga pada level rendah. Sektor pertanian dan pertambangan bahkan mencatatkan NPL di bawah 1%, masing-masing 0,13% dan 0,39%.
Namun, anomali muncul pada sektor industri pengolahan yang NPL-nya melonjak menjadi 5,84%. Peningkatan ini terutama dipicu oleh ekspansi agresif subsektor industri kayu lapis yang berupaya memenuhi lonjakan permintaan ekspor ke Amerika Serikat.
Sayangnya, akselerasi produksi tersebut belum diimbangi dengan perbaikan kinerja pembayaran dari para debitur, sehingga menimbulkan tekanan pada kualitas kredit sektor ini. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada pertumbuhan yang signifikan di beberapa sektor, masalah keuangan perlu terus diawasi agar tidak memengaruhi stabilitas sistem perbankan secara keseluruhan.