
Warga Kampung Bojongasih Berharap Polder Tambahan untuk Atasi Banjir
Warga RT 6 RW 14 Kampung Bojongasih, Desa Dayeuhkolot, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung menginginkan pemerintah membangun polder tambahan. Mereka percaya bahwa polder tambahan menjadi prasarana penting untuk menanggulangi banjir yang masih terjadi setiap musim hujan.
Ketua RT 6 RW 14 Kampung Bojongasih, Desa Dayeuhkolot, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Wawan Hermawan menjelaskan, air mulai masuk ke permukiman pada Kamis 23 Oktober 2025 malam. Tinggi genangan terus meningkat hingga Jumat 24 Oktober 2025.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
"Tidak kurang dari seratus rumah terdampak banjir. Kami menduga, air yang menggenangi permukiman RT 6 dan sejumlah wilayah lain di Desa Dayeuhkolot berasal dari luapan sungai Cipalasari yang mengalirkan air dari Kota Bandung," kata Wawan di lokasi, Jumat 24 Oktober 2025.
Pantauan PR, tinggi genangan di Kampung Bojongasih bervarisi. Untuk di RT 1 RW 4 Kampung Bojongasih, Desa Dayeuhkolot, tinggi genangan sekitar 50 sentimeter. Anak-anak tampak berenang dan warga yang berjualan tetap buka.
Wawan menyebutkan, sudah ada polder yang menampung luapan sungai Cipalasari. Akan tetapi, polder itu belum cukup menampung volume luapan sungai.
Dia mengaku, sudah mengusulkan pembangunan polder tambahan ke Pemkab Bandung, tapi belum terealisasi. "Kami berharap, usulan segera direalisasikan. Warga sudah jemu, terus terdampak banjir setiap musim hujan. Anak-anak tak bisa sekolah, warga dewasa yang bekerja terganggu (banjir)," ucap Wawan.
Warga Kampung Bojongasih, Nana Junjana telah meninggikan fondasi rumah. Genangan saat ini tidak sampai masuk ke rumahnya. Sebagaimana Wawan, Nana berharap pemerintah membangun polder tambahan di Kampung Bojongasih.
Bojongasih dan sejumlah wilayah di Desa Dayeuhkolot dan Desa Citeureup, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung tergenang banjir Jumat 24 Oktober 2025. Tinggi genangan variatif, 10-50 sentimeter.
Camat Dayeuhkolot Asep Suryadi beserta jajaran telah mengontrol lokasi dan berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan. Warga terdampak membutuhkan makanan siap saji, sembako, selimut, alat kebersihan, troli, dan karung. "Kami dan perangkat desa terus memantau warga dan wilayah terdampak," ucap Asep, Jumat 24 Oktober 2025.
Dia mengatakan, aparatur kecamatan dan desa, personel Babinsa, Bhabinkamtibmas, BPD, ketua RW pun melakukan pendataan. Selain Kampung Bojongasih, banjir terjadi Kampung Kaum RW 9, 10, 11, 12 dengan ketinggian 20-40 sentimeter, di Desa Citeureup 10-50 sentimeter.
Banjir juga melanda Kampung Leuwibandung RW 1, RW 2, RW 3, RW 14. Kampung Lamajang RW 5, RW 6, RW 7, RW 16, RW 17. "Selain itu, Kampung Sukabirus RW 8 tinggi genangan 10-30 cm, Cigempol RW 10 (10-30 cm), Sukabirus RW 13 (10-30 cm)," ucap dia.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung per Jumat 24 Oktober 2025 siang, tiga kecamatan terdampak banjir, Balendah, Dayeuhkolot, Bojongsoang. Penyebabnya, luapan sungai Citarum, Cipalasari, dan Cigede.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bandung Wahyudin mengatakan, personel terus melakukan pembaruan data warga terdampak. Apalagi, hujan kembali terjadi di sejumlah daerah Bandung Raya pada Jumat 24 Oktober 2025 siang hingga petang. "Perihal jumlah rumah terdampak, kami masih pendataan. Kami berupaya, pendataan bisa segera rampung," ucap dia.
Banjir Lembang
Sementara itu hujan deras yang mengguyur wilayah Lembang sejak Jumat 24 Oktober 2025 siang mengakibatkan banjir di sejumlah titik rawan. Genangan paling parah terjadi di kawasan Alun-alun Lembang hingga depan Pasar Panorama.
Air yang mengalir deras dari wilayah Lembang atas menggenangi gang-gang kecil di sekitar Ruko Gunungsari ke Jalan Sesko AU. Dari kawasan itu, air kemudian mengalir deras ke arah Jalan Maribaya dengan volume cukup besar.
Kondisi ini diperparah dengan tidak adanya normalisasi saluran drainase, baik yang menjadi kewenangan Pemprov Jabar maupun Kabupaten Bandung Barat.
Di kawasan Pangragajian, terutama di Jalan Kenanga, arus deras membuat sejumlah kendaraan putar balik. Beberapa kendaraan yang nekat melintas mengalami mogok karena air mencapai ketinggian lutut orang dewasa. “Meskipun ada selokan cukup besar, tapi karena arus deras dan ini limpahan dari pusat kota, air tetap masuk hingga rumah,” ujar Nadya (16), warga Jalan Kenanga, saat ditemui di lokasi.