Kehidupan Marnis di Tengah Ancaman Bencana
Seorang nenek bernama Marnis, yang tinggal di kawasan Batu Busuk, Padang, harus mengungsi ke posko pengungsian akibat ancaman banjir bandang dan tanah longsor. Ia memilih untuk berjalan kaki atau menumpang kendaraan dari masyarakat sekitar agar bisa sampai ke posko pengungsian.
Kecemasan terhadap kemungkinan banjir bandang susulan membuatnya takut untuk tinggal di rumahnya pada malam hari. Terlebih, kondisi fisiknya yang sudah tua membuatnya merasa tidak aman. Selain itu, ia masih dihantui kenangan akan tragedi tanah longsor 14 tahun silam yang menyebabkan rumahnya hancur total.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Perjalanan Berat Menuju Pengungsian
Awan hitam yang datang dari hulu aliran Sungai Batu Busuk mempercepat langkah Marnis menuju posko pengungsian di Mushola Al Barkah Rimbo Panjang, Batu Busuk, Kecamatan Pauh, Kota Padang, pada Selasa (16/12/2025). Sekitar pukul 16.03 WIB, ia mulai berjalan perlahan sambil membawa tas kain berwarna merah.
Jalur yang harus ia lalui memiliki sudut 30 derajat dengan tanjakan sepanjang 700 meter. Jalur ini sudah rutin ia lewati selama enam hari terakhir, sejak banjir bandang semakin parah di daerah tersebut. "Biasanya jam 17.00 WIB, saya baru ke posko pengungsian. Tapi karena mendung dan hujan, saya lebih cepat," ujarnya.
Perempuan berusia 70 tahun itu pergi ke posko pengungsian untuk tidur karena rasa cemas terhadap banjir bandang dan tanah longsor yang masih mengancam. Bencana ini sudah hampir dua pekan menghantam kawasan Batu Busuk, mulai dari menggerus dinding sungai hingga menghanyutkan rumah-rumah.
Trauma Masa Lalu yang Masih Menyelimuti
Trauma akan longsor 14 tahun silam masih membekas dalam dirinya. Longsor yang saat itu menimbun habis rumahnya, rumah yang kini ia tempati setelah dibangun ulang. "Saya kurang tidur, cemas longsor dan air naik. Bahkan kadang menumpang di rumah tetangga yang lebih aman," ujarnya, yang tinggal bersama dua anak laki-lakinya.
Upik, sapaan akrabnya, sudah mengungsi sejak banjir bandang pertama melanda daerah tersebut, pada Selasa (25/11/2025), di posko pengungsian SMPN 44 Kota Padang. Di posko pertama itu, ia pergi dengan kendaraan roda dua, diantar oleh anaknya atau menumpang orang lain yang sedang melintas.

Kesulitan Mengakses Akses Jalan
Alhasil, Upik harus menempuh jalan sekitar 10 menit setiap harinya ke atas, dan 10 menit ke bawah. Syukur-syukur ada kendaraan lewat, ia bisa menumpang. Namun sejak lima hari terakhir, akses jalan putus akibat banjir bandang yang menghancurkan badan jalan.
"Ganti-ganti olahraga saja, setidaknya kaki kembali kuat," ujarnya yang sehari-hari berladang dan mencari kayu bakar, sebelum banjir bandang melanda. Upik mengaku, setiap pagi ia akan mengangsur jalan ke rumah, soalnya ia harus memasak untuk dirinya dan anak-anak.
Ia memilih memasak karena nasi di Posko Pengungsian baru datang pada siang hari, sedangkan ia sudah terbiasa sarapan makan nasi. Kalau di rumah, ia memasak nasi, lauknya terkadang mie, terkadang cabai merah giling dicampur minyak panas dan telur ayam.
Harapan untuk Kembali Normal
"Kalau siang masih aman, air naik atau segala macamnya saya masih bisa lihat jadi bisa antisipasi. Malam yang agak susah," ujarnya. Upik baru kembali ke pengungsian pada sore hari, untuk pergi kesana biasanya ia membawa kain sarung, mukena, jaket dan kain selimut, semuanya ia masukan dalam tas kain.
Kalau malam, Upik tidak terlalu bingung di pengungsian masalah perut, soalnya selalu ada makanan yang diantarkan dari dapur umum. Dalam pendakian panjang itu, air muka Upik terlihat datar, helaan nafasnya masih teratur. Ia melangkah dengan gontai, sesekali kepalanya menoleh ke kanan melihat aliran Sungai dan hamparan rumah yang sudah rata dengan tanah.
Upik berharap cuaca serupa ini bisa segera berakhir, ia ingin kembali menjalankan aktivitas hariannya, ke ladang dan mencari kayu. "Kalau saya berharapnya, cepat normal. Sudah capek pula seperti ini terus hampir satu bulan," ujarnya.
Belum selesai Upik menapaki pendakian itu, hujan sudah turun di Batu Busuk, alat berat langsung menepi, tim gabungan bergegas pergi dan para warga kembali berjalan keluar mengambil motornya yang diparkir di sekitar jembatan.