
Banjir Kiriman Menggenangi Pasar Tradisional Kalipucang
Banjir kiriman yang terjadi di Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, telah mengakibatkan pedagang pasar tradisional menutup kios dagangannya. Banjir ini terjadi selama tiga hari akibat luapan sungai Citanduy. Tidak hanya area pasar yang terendam, jalan nasional di perbatasan antara Kabupaten Pangandaran dan Kabupaten Cilacap juga ikut terendam banjir.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Di simpang Pancimas, sejumlah kendaraan motor mengalami mogok saat menerobos genangan air. Anggota Satuan Lalu lintas Polres Pangandaran bersama warga sibuk mengatur arus lalu lintas, baik dari arah Banjar - Pangandaran maupun dari arah Cilacap Jawa Tengah.
Edi (54), salah satu pedagang di Pasar tradisional Kalipucang, mengatakan bahwa banjir ini sudah berlangsung sejak tiga hari yang lalu. Ketinggian air diperkirakan mencapai 50 hingga 70 sentimeter. "Banjir hari ini yang paling tinggi, hingga sebatas lutut orang dewasa," ujar Edi di Pasar Kalipucang, Rabu, 12 November 2025.
Pedagang Pindah ke Terminal
Sejak banjir menggenangi area pasar, Edi dan beberapa pedagang lainnya memilih untuk berjualan di area terminal. "Ya mau gimana lagi, kalau tidak berjualan kami mau makan apa," ucapnya. Menurut Edi, banjir sering menggenangi area Pasar Kalipucang, terutama pada musim penghujan. "Apalagi kalau di daerah Tasikmalaya, Ciamis, Banjar diguyur hujan, debit air di sungai Citanduy pasti meluap dan menggenangi area pasar dan pemukiman warga," tambahnya.
Ratusan Jiwa Terdampak Banjir
Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pangandaran pada Rabu, 12 November 2025, terdapat 265 Kepala Keluarga dengan jumlah 295 jiwa yang terdampak bencana banjir di wilayah Kecamatan Kalipucang. Data ini mencakup beberapa lokasi di Desa Kalipucang dan Desa Pamotan.
Selain itu, luapan air sungai Citanduy juga membanjiri beberapa lokasi di Desa Sukanegara, Kecamatan Kalipucang, dan Majingklak di Desa Pamotan, Kecamatan Kalipucang. Di Desa Sukanegara, sejumlah warga, terutama yang tinggal dekat bantaran sungai, terpaksa mengungsi ke tempat yang aman atau ke atas tanggul karena ketinggian banjir diperkirakan mencapai sekitar 1 meter atau setengah dari bangunan rumah.
Dampak Banjir yang Berkelanjutan
Banjir kiriman yang terjadi di wilayah ini bukanlah hal baru. Masyarakat setempat sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini, terutama saat musim hujan tiba. Namun, dampaknya tetap sangat signifikan, baik bagi ekonomi masyarakat maupun kehidupan sehari-hari. Pasar tradisional yang menjadi sumber penghidupan bagi banyak keluarga harus ditutup sementara, sehingga memengaruhi pendapatan para pedagang.
Selain itu, infrastruktur jalan raya juga terganggu, membuat akses transportasi menjadi sulit. Hal ini memengaruhi mobilitas warga dan distribusi barang kebutuhan pokok. Meskipun pihak berwajib dan warga setempat berusaha mengatasi masalah ini, situasi banjir kiriman tetap menjadi tantangan yang perlu dihadapi secara lebih efektif.
Dalam konteks ini, pentingnya penanganan bencana secara preventif dan mitigasi risiko banjir menjadi semakin mendesak. Masyarakat dan pemerintah setempat perlu bekerja sama dalam merancang solusi jangka panjang agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali.