Banjir LNG Global, Anak Usaha Humpuss Beli Kapal Rp405 Miliar

admin.aiotrade 17 Okt 2025 3 menit 12x dilihat
Banjir LNG Global, Anak Usaha Humpuss Beli Kapal Rp405 Miliar

Pembelian Kapal LNG oleh GTS Internasional Tbk

PT GTS Internasional Tbk. (GTSI) melakukan pembelian satu unit kapal Liquified Natural Gas (LNG) senilai US$24,5 juta atau setara dengan Rp405,94 miliar (kurs Jisdor Rp16.569 per dolar AS). Pembelian ini dilakukan seiring dengan potensi banjir pasokan gas alam global.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), dikutip Jumat (17/10/2025), GTSI membeli kapal yang bernama Methane Jane Elizabeth dari GAS – Seventeen Ltd. pada 13 Oktober 2025. Kapal tersebut akan diubah namanya menjadi Danaputri 1.

Kapal yang diproduksi pada 2006 memiliki kapasitas tanki sebesar 145.000 m³ dengan tonase kotor (GT) 95.753 dan tonase bersih (NT) 28.726. Adapun, GTSI merupakan anak usaha dari PT Humpuss Maritim Internasional Tbk. (HUMI) dengan kepemilikan saham 84,8%.

Nilai transaksi tersebut sebesar 36,92% dari total ekuitas Perseroan per 31 Desember 2024 yang mencapai US$66,34 juta. Sumber pendanaan berasal dari dana sisa hasil penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) sebesar Rp123,82 miliar dan modal sendiri sebesar Rp282,25 miliar.

Direktur Utama GTSI, I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra mengatakan proses pembelian kapal hingga dilakukannya pendaftaran di bawah bendera Republik Indonesia diperkirakan rampung dalam waktu 1 bulan sejak tanggal penandatanganan perjanjian jual beli, sebagai bagian dari proses finalisasi peralihan kepemilikan kapal.

"Pembelian kapal ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan modernisasi armada pengangkut LNG Perseroan," katanya dalam keterbukaan informasi.

Selain itu, langkah ini juga mendukung upaya diversifikasi usaha di sektor energi terintegrasi, terutama sehubungan dengan rencana konversi kapal Ekaputra, sebagai bagian dari peremajaan armada Perseroan menjadi FSRU, yang akan memperkuat posisi Perseroan dalam rantai pasok LNG.

Menurutnya, faktor eksternal yang mendukung pembelian kapal ini adalah meningkatnya permintaan LNG, kebutuhan akan kapal yang lebih efisien dan ramah lingkungan, serta peluang untuk memanfaatkan teknologi baru dalam industri energi.

Manajemen optimistis pembelian kapal ini akan memberikan manfaat signifikan bagi Perseroan, termasuk peningkatan daya saing, optimalisasi biaya operasional, dan kontribusi positif terhadap transisi energi yang berkelanjutan.

Dia berharap pembelian kapal tersebut dapat meningkatkan pangsa pasar, meningkatkan pendapatan dan laba bersih, dan memberikan kontribusi positif bagi kinerja keuangan konsolidasian Perseroan di masa yang akan datang, yang pada akhirnya memberikan nilai tambah bagi Perseroan dan seluruh stakeholder Perseroan.

GTSI meyakini bahwa transaksi ini tidak akan berdampak negatif terhadap kinerja keuangan Perseroan secara signifikan. Hal tersebut dikarenakan salah satu sumber pendanaan telah dialokasikan dari dana IPO dan Perseroan telah memiliki perhitungan yang matang mengenai potensi pendapatan dari pengoperasian kapal.

Aset Perseroan diperkirakan tidak akan mengalami peningkatan atau penurunan dikarenakan pembelian aset tetap kapal didanai dengan dana kas di bank.

Berdasarkan Laporan Keuangan GTSI per 31 Desember 2024, total aset mencapai US$112,88 juta dan total ekuitas adalah US$66,34 juta.

Berdasarkan catatan, Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) dalam laporannya memperkirakan pasokan LNG global akan naik pesat menjadi 40 miliar m³ pada 2026.

Gergely Molnar, analis gas di IEA mengungkapkan, 2026 akan menandai tahun pertama gelombang LNG dan juga akan menjadi semacam ujian bagaimana permintaan merespons pertumbuhan yang lebih kuat, terutama di Asia.

IEA memperkirakan peningkatan produksi bahan bakar ini akan mendorong rekor permintaan gas tahun depan, terutama di pasar-pasar Asia yang sensitif terhadap harga, serta di Afrika dan Timur Tengah.

Peran LNG dalam industri dan pembangkit listrik telah meningkat, dan perdagangan telah meningkat tahun ini di tengah penambahan pasokan yang substansial, sekitar 60% lebih tinggi dibandingkan dengan 2024.

"Meskipun proyek-proyek pencairan baru diperkirakan akan menghasilkan peningkatan volume lebih lanjut ke pasar pada paruh kedua tahun ini, setiap kendala tak terduga dalam jadwal mulai dan peningkatan produksi pabrik-pabrik ini akan secara efektif memperketat neraca LNG global," kata Molnar.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan