Penelitian Landscape Indonesia: Bencana Banjir dan Longsor di Sumatra Akibat Perubahan Iklim dan Kerusakan Lingkungan

Penelitian yang dilakukan oleh Landscape Indonesia menunjukkan bahwa bencana banjir dan longsor yang terjadi di Sumatra akibat Siklon Tropis Senyar disebabkan oleh kombinasi antara fenomena iklim ekstrem dan kerusakan lingkungan alami. Dalam laporan berjudul "Warned by Nature" yang dipublikasikan oleh Landscape Advisory, peneliti Agus P. Sari menjelaskan bahwa hujan ekstrem yang dibawa oleh siklon Senyar jatuh di wilayah Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Daerah-daerah ini memiliki daya tampung ekologis yang telah melemah akibat aktivitas manusia selama beberapa dekade.
Selama puluhan tahun, kawasan hulu daerah aliran sungai (DAS) di wilayah tersebut mengalami deforestasi, ekspansi perkebunan, pertambangan, serta pembangunan jalan. Hal ini menyebabkan hilangnya fungsi hutan sebagai penyerap air alami.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Agus P. Sari dalam laporannya menulis bahwa daerah aliran sungai di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat telah terfragmentasi oleh penebangan, perkebunan, pertambangan, dan pembangunan jalan. Hutan yang sebelumnya berperan sebagai spons alami untuk menahan limpasan, menstabilkan lereng, dan meredam banjir, kini telah terfragmentasi atau bahkan hilang sama sekali. Akibatnya, sungai-sungai di wilayah pegunungan dan pesisir Sumatra meluap dalam waktu singkat, memicu banjir bandang dan longsor yang menghancurkan permukiman, termasuk di kawasan Batang Toru dan sekitar Sibolga.
Curah hujan 24 jam di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat melonjak jauh melampaui kapasitas serap tanah dan sungai. Sungai-sungai pegunungan berubah menjadi arus cokelat yang ganas dan memicu longsor yang melenyapkan seluruh desa. Menurut Agus, perubahan iklim memang meningkatkan intensitas hujan Senyar melalui pemanasan Samudra Hindia dan atmosfer yang semakin kaya uap air. Namun skala kehancuran terjadi karena lanskap Sumatra telah kehilangan kemampuan alaminya untuk menahan dan mengatur air.
Ketika hujan Senyar jatuh di lanskap yang telah berubah ini, air tidak meresap; ia mengalir deras. Lereng-lereng runtuh, mengirimkan longsoran ke kota-kota seperti di wilayah Batang Toru dan Sibolga. Sungai naik terlalu cepat sehingga peringatan tidak lagi berarti.
Laporan ini juga menyoroti bahwa sistem drainase dan pengelolaan sungai di banyak wilayah Sumatra dibangun untuk kondisi iklim masa lalu dan tidak lagi relevan menghadapi curah hujan ekstrem saat ini. Sungai yang diluruskan, dipersempit, dan dipenuhi sedimentasi membuat peringatan dini menjadi tidak efektif karena air naik terlalu cepat. Landscape Advisory menegaskan bahwa menyalahkan Siklon Senyar semata justru menutupi akar persoalan yang lebih dalam.
Pertanyaan yang tepat bukanlah apakah perubahan iklim “menyebabkan” Senyar, melainkan bagaimana perubahan iklim mengubah dampak Senyar ketika bertemu dengan lanskap yang sudah rusak.