Bank Dunia: Banjir Sumatra Ancam Ekonomi Indonesia

admin.aiotrade 16 Des 2025 2 menit 15x dilihat
Bank Dunia: Banjir Sumatra Ancam Ekonomi Indonesia

Tantangan Ekonomi Indonesia di Tengah Bencana Alam dan Perubahan Global

Bank Dunia menyampaikan bahwa banjir bandang dan longsor yang terjadi di Sumatra akan berdampak negatif pada perekonomian Indonesia. Bencana alam ini, yang telah menelan ribuan korban jiwa, menjadi salah satu tantangan utama yang dihadapi negara menjelang penutupan 2025.

David Knight, Lead Economist Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor Leste, menyampaikan hal tersebut dalam peluncuran Indonesia Economic Prospects (IEP) Reports di Energy Building, Jakarta, Selasa (16/12/2025). Ia menyoroti risiko penurunan atau downside risk yang bisa menghambat pertumbuhan ekonomi akibat bencana alam seperti banjir yang terjadi di Sumatera dan beberapa lokasi lainnya.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Konsumsi Masyarakat Tertekan dengan Adanya Penurunan Upah

Salah satu tantangan lain yang disoroti oleh Bank Dunia adalah penurunan upah di sektor riil, yang berdampak pada konsumsi masyarakat, terutama kelas menengah ke atas.

Berdasarkan data yang disampaikan David, sejak 2018 terjadi penurunan upah di sektor riil dengan rata-rata 1,1 persen setiap tahunnya. Jika dijabarkan secara rinci, penurunan upah untuk pekerja dengan keterampilan tinggi mencapai 2,3 persen. Sementara itu, untuk pekerja dengan tingkat keterampilan menengah mencapai 1,1 persen.

“Untuk pekerja-pekerja berketerampilan menengah, hal ini menjadi salah satu yang sangat berdampak. Tentunya ini juga kemudian berimbas kepada kesejahteraan rumah tangga dan juga perekonomian negara,” ujar David.

Sementara itu, upah pekerja informal atau berketerampilan rendah tumbuh 0,3 persen.

Pertumbuhan Penyerapan Tenaga Kerja Mayoritas pada Sektor Informal

Bank Dunia melihat bahwa penyerapan tenaga kerja pada Agustus 2025 tumbuh 1,3 persen dibandingkan Agustus 2024. Namun, pertumbuhan itu masih didominasi oleh sektor informal yang memberikan upah rendah. Misalnya, sektor jasa bernilai tambah rendah dan sektor pertanian.

Hal ini dilihat sebagai tantangan dari pasar tenaga kerja, meskipun stabilitas makroekonomi terjaga.

Kinerja Perdagangan Menghadapi Tantangan

Bank Dunia juga melihat tantangan yang lebih besar pada kinerja perdagangan Indonesia. Apalagi, ketegangan perdagangan global terus meningkat.

Bank Dunia menyoroti adanya pertumbuhan ekspor yang signifikan tahun ini. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), surplus neraca perdagangan pada Oktober 2025 tembus 2,39 miliar dolar Amerika Serikat (AS), di mana secara kumulatif, pada periode Januari-Oktober 2025, surplus neraca perdagangan Indonesia tembus 35,88 miliar dolar AS.

Menurut Bank Dunia, pertumbuhan itu didorong oleh aktivitas frontloading, di mana para eksportir mengejar ekspor di pertengahan 2025, sebelum berlakunya tarif resiprokal yang dikeluarkan Presiden AS, Donald Trump.

“Tetapi, kami perkirakan bahwa pertumbuhan ekspor ini akan melambat di masa mendatang. Karena pertumbuhan yang terjadi saat ini didorong oleh permintaan yang dipercepat ataupun frontloading,” ujar David.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan