
BI-Fast Dianggap Aman, Meski Ada Dugaan Keterlibatan Bank Jakarta
Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa sistem pembayaran BI-Fast aman dan tidak terpengaruh oleh dugaan akses ilegal ke sistem Bank Jakarta. Hal ini dilakukan setelah munculnya isu mengenai potensi celah keamanan yang bisa dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Sebelumnya, kasus tersebut melibatkan Bank Jakarta, yang sebelumnya bernama Bank DKI, dengan dugaan kerugian mencapai Rp 200 miliar. Spesialis Keamanan Teknologi Vaksincom, Alfons Tanujaya, mengungkapkan bahwa kemungkinan besar pembobolan terjadi bukan dari sistem BI-Fast, melainkan dari pihak internal bank itu sendiri.
Penetapan Tersangka dan Proses Penyelidikan
Dittipidsiber Bareskrim Polri telah menetapkan enam orang sebagai tersangka dalam kasus akses ilegal ke sistem Bank Jakarta. Namun, hingga saat ini, nama-nama tersangka belum diungkapkan karena masih dilakukan pengejaran dan pendalaman terhadap tersangka lainnya.
Wakil Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Kombes Pol. Andri Sudarmadi, menjelaskan bahwa para tersangka adalah penerima uang hasil kejahatan, sementara pelaku utama yang melakukan akses ilegal ke sistem Bank Jakarta masih dalam penyelidikan.
Ia juga menyebut bahwa nilai kerugian dari kasus ini belum dapat dipastikan secara rinci, meskipun beberapa media melaporkan angka mencapai Rp 200 miliar.
Dugaan Keterlibatan Sistem Bank Peserta
Alfons Tanujaya menduga bahwa pembobolan terjadi melalui sistem bank peserta, yaitu Bank Jakarta, bukan dari sistem BI-Fast. Menurutnya, jika pembobolan berasal dari sistem BI-Fast, maka insiden tersebut akan terjadi di seluruh sistem pembayaran, bukan hanya di satu bank saja.
“Jika (pembobolan) dari sistem BI, seharusnya tidak logis. Sebab, terjadinya hanya di bank tertentu,” kata Alfons kepada aiotrade.co.id, Rabu (10/12).
Menurut dia, skenario yang paling mungkin adalah kompromi terhadap sistem bank peserta, baik melalui rekayasa Application Programming Interface (API), manipulasi autentikasi, maupun bypass proses internal. Ia menyatakan bahwa untuk melakukan hal ini, pelaku harus memiliki pemahaman mendalam tentang sistem bank tersebut.
Pentingnya Audit Log dalam Investigasi
Alfons menekankan pentingnya audit log secara menyeluruh untuk mengetahui proses, alur transfer, serta bagaimana pelaku mengelabui sistem. Ia menjelaskan bahwa jika log dibuka dan dianalisis secara forensik, bukti-bukti kejahatan akan terlihat jelas.
“Coba diperhatikan, ambil log-nya. Itu kelihatan semua kok buktinya. Sudah jalan berapa lama, ditransfer ke mana, prosesnya bagaimana,” katanya.
BI Pastikan BI-Fast Aman
AIOTRADE.CO.ID mengonfirmasi dugaan Alfons kepada Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso. Denny memastikan bahwa sistem BI-Fast beroperasi dengan aman dan sesuai standar internasional.
“Masalah tersebut bukan berasal dari sistem BI-Fast, melainkan dari aplikasi di bank terkait,” kata Denny dalam pernyataan pers yang diterima aiotrade.co.id, Rabu (10/12). BI kini berkoordinasi dengan OJK dan aparat penegak hukum untuk memastikan pemulihan keamanan berjalan konsisten.
Denny menegaskan bahwa instruksi transaksi yang dikirimkan bank ke BI telah dilindungi dengan jaringan komunikasi yang aman. Namun ia mengingatkan bahwa keamanan sistem juga bergantung pada titik terlemah dari penyelenggara yang terlibat, termasuk vendor pendukung.
Penguatan Prosedur Keamanan Internal
Ia menyebut telah meminta bank yang terlibat untuk memperkuat prosedur keamanan internal, termasuk fraud detection system dan asesmen keamanan berkala. Sejak April 2024, BI juga telah menerbitkan ketentuan khusus mengenai ketahanan dan keamanan siber untuk seluruh penyelenggara sistem pembayaran.
“Penguatan dilakukan melalui peningkatan tata kelola TI, keandalan teknologi, audit, serta kesiapan respons insiden,” ujar Denny.
Koordinasi dengan OJK dan Polisi
BI terus mencermati perkembangan penanganan kasus penipuan yang marak terjadi. Kasus ini berupa aktivitas transfer ilegal atas dana di beberapa bank dan saat ini tengah ditangani oleh kepolisian.
Denny memastikan BI terus berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan dan penegak hukum. “Ini untuk memastikan langkah pemulihan dan penguatan keamanan terus berjalan secara konsisten,” kata Denny.
Bank Indonesia juga meminta perbankan yang terkait dalam kasus ini untuk melakukan penguatan prosedur pengamanan transaksi. Proses ini penting dalam menjaga agar fraud tidak mengganggu stabilitas sistem pembayaran dan perlindungan konsumen terpenuhi.