Bank Neo (BBYB) Konsolidasi Dasar di Tengah Isu Penghapusan KBMI I

admin.aiotrade 17 Des 2025 3 menit 11x dilihat
Bank Neo (BBYB) Konsolidasi Dasar di Tengah Isu Penghapusan KBMI I


aiotrade, JAKARTA — PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB) memberikan respons terkait wacana yang disampaikan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengenai rencana penghapusan klasifikasi bank berdasarkan Kelompok Bank Modal Inti (KBMI) I. Direktur Utama Bank Neo, Eri Budiono, menegaskan bahwa saat ini perseroan lebih fokus pada penguatan kinerja fundamental daripada berspekulasi terhadap kebijakan yang masih dalam tahap wacana.

Menurut Eri, Bank Neo Commerce lebih memprioritaskan perbaikan profitabilitas, tata kelola, serta cara perusahaan menyampaikan kinerjanya kepada pasar. “Sekarang ini kami benar-benar fokus ke apa yang ingin dicapai. Tahun ini setidaknya kami sampaikan profitabilitas, tata kelola kita perbaiki, dan yang penting adalah bagaimana mengomunikasikan semua ini ke market,” ujar Eri dalam paparan publik, Selasa (16/12/2025).

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Kondisi Permodalan Bank Neo Commerce

Dari segi permodalan, Bank Neo Commerce masih mengandalkan laba ritel dengan modal inti yang saat ini berada di kisaran Rp4 triliun. Dengan posisi tersebut, Eri menilai kondisi permodalan perseroan masih memadai jika dilihat dari rasio kecukupan modal (CAR).

Berdasarkan data yang dipaparkan, modal inti Bank Neo menguat menjadi Rp4 triliun, naik 1,52% dibandingkan September 2025 sebesar Rp3,94 triliun, serta tumbuh 20,06% secara tahunan (year-on-year/YoY) dari Rp3,33 triliun pada Oktober 2024. Sebagai informasi, KBMI I merupakan kelompok bank dengan modal inti hingga Rp6 triliun.

Sementara itu, CAR Bank Neo pada Oktober 2025 tercatat meningkat signifikan menjadi 47,77%, dibandingkan 35,89% pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Potensi Naik Kelas ke KBMI II

Menanggapi peluang naik kelas ke KBMI II, Eri menyatakan bahwa perseroan tidak semata-mata mengejar status tersebut. Meski demikian, dia mengakui menjadi bank dengan skala yang lebih besar akan membuka ruang bagi pengembangan produk baru.

“Kalau dari sisi kecukupan modal, sebenarnya jauh lebih dari cukup. Tapi tentunya kita ingin menjadi bank yang lebih besar, supaya bisa menawarkan produk lain, misalnya layanan valas untuk nasabah yang suka travel,” jelasnya.

Rencana Konsolidasi atau Merger

Terkait rencana konsolidasi atau merger seiring dorongan OJK terhadap penguatan struktur perbankan nasional, Eri menegaskan belum ada rencana konkret. Saat ini, Bank Neo masih menunggu arahan lebih lanjut dari regulator.

Dia menambahkan, isu ini juga menjadi perhatian di internal Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas). Menurut Eri, sejumlah anggota mempertanyakan mekanisme dan tahapan kebijakan tersebut. Menurutnya, agar kebijakan kenaikan kelas harus ada kehati-hatian karena jika seluruh bank pada saat yang sama mencari pendanaan dan likuiditas di pasar keuangan, hal tersebut berpotensi menimbulkan tekanan likuiditas.

Kinerja Bank Neo Commerce

Bank Neo Commerce mencatatkan total laba hingga Oktober 2025 senilai Rp517,20 miliar dibandingkan laba pada Oktober 2024 sebesar Rp6,95 miliar. Per Oktober 2025, total aset BNC mencapai Rp18,49 triliun, naik 0,34% dibandingkan September 2025 yang sebesar Rp18,43 triliun, dan tumbuh 3,01 persen secara tahunan dari Oktober 2024 dengan Rp17,95 triliun.

Modal inti juga menguat menjadi Rp4 triliun, meningkat 1,52% dibandingkan September 2025 sebesar Rp3,94 triliun, dan naik signifikan 20,06% yoy dari Rp3,33 triliun dari Oktober 2024.

Eri menyampaikan kinerja hingga Oktober 2025 hasil dari pengendalian risiko yang disiplin serta inovasi layanan yang terus diperluas. Dia bilang pencapaian ini menegaskan transformasi digital BNC telah memasuki fase yang mencerminkan fondasi yang lebih stabil dan berkelanjutan untuk pertumbuhan bisnis perseroan.

Rasio kredit bermasalah (NPL Gross) membaik signifikan menjadi 2,89% pada Oktober 2025 dibandingkan dengan Oktober 2024 yang tercatat 3,74%.

Capital Adequacy Ratio (CAR) pada Oktober 2025 meningkat menjadi 47,77%, dibandingkan dari posisi tahun sebelumnya yang sebesar 35,89%, atau tumbuh kuat 11,88% YoY.

Penyaluran kredit per Oktober 2025 tercatat Rp7,40 triliun, turun 14,16% dibandingkan Oktober 2024 yang sebesar Rp8,62 triliun. Salah satu produk kredit yang menjadi fokus BNC pada 2025, yaitu Neo Loan atau Neo Pinjam yang tersedia di aplikasi neobank, mencatatkan pertumbuhan yang impresif sebesar 139% secara tahunan.

Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) berada pada posisi stabil di Rp13,60 triliun, relatif tidak berubah dibandingkan September 2025 Rp13,62 triliun.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan