Bantar Gebang Longsor Picu Penumpukan Sampah di Bawah Tol

admin.aiotrade 07 Nov 2025 3 menit 38x dilihat
Bantar Gebang Longsor Picu Penumpukan Sampah di Bawah Tol

Penumpukan Sampah di Kolong Tol Wiyoto Wiyono

Di wilayah Jakarta Utara, khususnya di RT 06, RW 05, Sungai Bambu, terdapat tumpukan sampah yang mencapai ketinggian empat meter di Kolong Tol Wiyoto Wiyono. Hal ini menjadi perhatian serius bagi masyarakat setempat dan pihak berwenang.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Peran TPS Liar dalam Penumpukan Sampah

Menurut Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Utara, Edy Mulyanto, kolong tol tersebut sudah lama dijadikan sebagai Tempat Pembuangan Sementara (TPS) liar. Ia menyatakan bahwa penumpukan sampah di tempat tersebut bukanlah hal baru, namun dalam beberapa bulan terakhir volume sampah meningkat drastis.

Salah satu penyebab utamanya adalah pembangunan TPS di Waduk Cincin. Sampah dari empat kelurahan, yaitu Kebon Bawang, Sungai Bambu, Warakas, dan Papanggo, dialihkan ke kolong tol sementara waktu. Edy mengklaim bahwa pembangunan TPS di Waduk Cincin akan selesai pada tahun ini, sehingga penumpukan sampah di kolong tol bisa diminimalkan.

Dampak Longsoran di Bantar Gebang

Selain itu, longsoran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang juga turut berkontribusi dalam penumpukan sampah. Edy menjelaskan bahwa karena kondisi TPA Bantar Gebang yang tidak stabil akibat hujan, pengangkutan sampah menjadi terhambat. Sehingga hanya enam hingga delapan truk yang dapat beroperasi, dibandingkan target sebelumnya sebanyak 11 truk per hari.

Akibatnya, sampah yang tidak terangkut menumpuk dan menyebabkan bau busuk yang mengganggu warga sekitar. Bahkan, tiga RW di Sungai Bambu, yaitu RW 5, RW 8, dan RW 9, merasakan dampaknya secara langsung. Wilayah yang paling terdampak adalah RT 06, RW 05, karena lokasinya yang berdekatan dengan kolong tol.

Janji Pemkot untuk Membenahi Masalah

Edy berjanji akan segera membenahi tumpukan sampah dalam hitungan hari ke depan. Ia menyatakan bahwa semua truk di setiap kecamatan akan dikerahkan agar sampah di kolong tol segera diangkut ke Bantargebang. Selain itu, ia menegaskan bahwa armada truk yang dimiliki Pemkot Jakarta Utara cukup memadai, asalkan TPA Bantargebang mampu menerima sampah.

Edukasi kepada Masyarakat

Untuk mengatasi masalah sampah secara lebih efektif, Edy mengimbau warga untuk memilah sampah di rumah. Sampah non organik bisa dijual ke bank sampah, sedangkan sampah organik dapat dikumpulkan untuk diberikan kepada petani maggot. Maggot digunakan untuk mengolah sampah organik dalam waktu singkat, selain bisa dibudidayakan sebagai pakan ternak atau ikan.

Sejauh ini, 460 tong sampah organik telah disebarkan ke setiap RW agar warga dapat menyumbangkan sampah sisa makanannya ke petani maggot.

Protes dari Warga

Warga setempat, seperti Suyitno, penjaga TPS Kolong Tol, mengeluhkan bahwa penumpukan sampah ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Ia menyampaikan bahwa warga sudah berkali-kali memprotes melalui aplikasi JAKI, tetapi sampai saat ini belum ada solusi yang signifikan.

Selain itu, jumlah truk pengangkut sampah di kolong tol dinilai tidak sesuai dengan volume sampah yang ada. Akibatnya, sampah yang tidak terangkut menumpuk dan menyebabkan bau tak sedap yang mengganggu kehidupan warga.

Solusi dari Hulu ke Hilir

Pakar Lingkungan dari Universitas Indonesia, Mahawan Karuniasa, menilai bahwa masalah sampah harus diselesaikan mulai dari hulu ke hilir. Menurutnya, perilaku masyarakat yang membuang sampah sembarangan di tempat yang tidak ditentukan merupakan salah satu penyebab utama.

Mahawan menyarankan pemerintah dan pemangku wilayah memberikan edukasi kepada masyarakat agar tidak lagi membuang sampah di kolong tol. Selain itu, fasilitas pembuangan sampah juga perlu ditingkatkan agar warga tidak terpaksa membuang sampah di tempat yang tidak layak.

Di sisi lain, Mahawan juga menyoroti pentingnya jumlah armada pengangkut sampah. Jika diperlukan, anggaran dari kementerian atau dinas terkait bisa digunakan untuk menambah armada pengangkut sampah.

Dengan penyelesaian masalah dari hulu, maka permasalahan di hilir, seperti penumpukan sampah di Bantar Gebang, juga akan teratasi. Dengan volume sampah yang lebih sedikit, potensi bencana akibat penumpukan sampah bisa diminimalkan.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan