
Kisah Melda Safitri: Ditinggal Suami Pasca Kelulusan PPPK
Kisah rumah tangga Melda Safitri (33) dari Aceh Singkil kini menjadi sorotan warganet setelah sang suami, JS, menceraikannya hanya beberapa hari setelah pengumuman kelulusan JS sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Cerita ini menarik perhatian publik karena diungkapkan secara terbuka oleh Melda, yang mengaku telah berjuang keras untuk mendukung suaminya selama masa sulit.
Baju Pelantikan dari Hasil Kerja Keras
Melda mengungkapkan bahwa seragam pelantikan Korpri sang suami dibeli dari hasil kerja kerasnya sendiri. Ia menjelaskan bahwa baju tersebut diperoleh melalui penjualan cabai dan sayur di pasar. Baju pelantikan itu saya yang belikan, dari hasil jualan cabai dan sayur di pasar. Saya bantu dari nol, dari dia belum kerja sampai bisa lulus PPPK. Tapi justru saya ditinggal sebelum dia menerima SK, ujarnya dalam wawancara.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Ia juga menyampaikan kekecewaannya terhadap tindakan suaminya. Menurut Melda, ia selama ini selalu setia mendukung perjuangan sang suami di tengah kesulitan ekonomi keluarga. Ia tak menyangka bahwa perceraian justru datang ketika kehidupan mulai membaik. Kalau memang mau cerai, kenapa tidak dari dulu? Kenapa pas sudah lulus dan mau dilantik baru saya ditinggal? katanya dengan mata berkaca-kaca.
Kesulitan Ekonomi dan Penampilan
Diketahui bahwa Melda kini kembali ke kampung halamannya di Aceh Selatan bersama anak-anaknya. Ia mengunggah kisahnya melalui akun Facebook dan unggahan tersebut langsung viral di berbagai platform. Dalam unggahan dan wawancara, Melda mengaku bahwa faktor ekonomi menjadi bayang-bayang terbesar dalam perjalanan rumah tangganya bersama JS.
Termasuk dalam hal merawat diri, Melda mengakui kesulitan membeli bedak. Ia menyebut tekanan finansial semasa hidup berumah tangga cukup berat. Perceraian yang ia lontarkan kepada saya pada 15 Agustus itu sangat menyakitkan bagi saya, impian yang sudah saya harapkan dengan anak-anak kandas, ujarnya.
Fitri juga menyebut bahwa sang suami menceraikan dirinya kemungkinan karena penampilan dirinya. Ia mengatakan bahwa penampilannya kurang menarik dan kurang menyenangkan hati suami. Mungkin dari penampilan saya yang kurang menyenangkan lagi, kurang mengurus diri, karena jujur siapa sih perempuan yang tidak mau cantik? tapi kan faktor ekonomi juga.
Kronologi Perceraian
Fitri menceritakan kronologi lengkap peristiwa yang membuat rumah tangganya berakhir di ambang perceraian. Peristiwa itu terjadi pada 15 Agustus 2025, dua hari sebelum sang suami dilantik sebagai PPPK Satpol PP di Aceh Singkil. Sehari sebelumnya, 14 Agustus, suaminya pulang kerja dalam keadaan marah-marah karena tidak ada nasi dan lauk di rumah.
Dia tanya ke anak, sudah makan belum? Padahal anak saya memang makan gorengan dari hasil jualan saya di depan rumah. Karena tidak ada bahan, saya belum sempat masak, cerita Fitri. Keesokan harinya, sang suami kembali marah dan memancing emosi Fitri. Pertengkaran pun tak terhindarkan.
Saya tanya, apa salah saya? Kamu kan tidak kasih uang belanja, jadi apa yang saya masak? Tapi dia malah makin emosi, tutur Fitri. Tak lama kemudian, suaminya masuk ke kamar, mengemasi pakaian, lalu pergi dengan sepeda motor. Sebelum keluar rumah, ia justru mengucapkan kata talak kepada Fitri.
Dia bilang, kamu meledak, saya ceraikan 1, 2, 3, kata Fitri mengulang ucapannya. Sejak hari itu, Fitri tidak pernah lagi bertemu dengan suaminya. Ia mengaku, diblokir dari semua kontak dan hanya mengetahui kabar suaminya dari tetangga.
Berjuang Bertahan Hidup
Fitri kini berjuang bertahan hidup dengan berjualan gorengan dan minuman seribu rupiah di depan rumah. Dari jualan kecil itu saya biayai anak-anak. Kadang jualan sayur dan cabai juga, ujarnya. Ia kini tinggal di rumah orang tua di Aceh Selatan, berusaha memulai hidup baru bersama dua anaknya.
Semoga Allah ganti dengan yang lebih baik. Saya cuma ingin fokus pada anak-anak, pungkasnya.