
Respons Pemerintah Indonesia Terhadap Bantuan dari Malaysia Memicu Reaksi Negatif
Sejumlah media internasional memberikan perhatian terhadap respons pemerintah Indonesia terkait bantuan yang diberikan oleh Malaysia kepada korban banjir di Aceh. Peristiwa ini menimbulkan reaksi negatif dari masyarakat Malaysia, karena dianggap meremehkan bantuan yang telah diberikan.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Dalam sebuah klip podcast "Suara Lokal Mengglobal" yang tayang pada Sabtu (13/12/2025), Menteri Dalam Negeri Indonesia Tito Karnavian menyatakan bahwa bantuan medis yang dikirim dari Malaysia senilai kurang Rp 1 miliar dinilai tidak seberapa dibandingkan dengan sumber daya penanggulangan bencana yang dimiliki Indonesia sendiri. Ia mengatakan, "Anggaran dan pengerahan dana kami jauh lebih besar dari itu.” Ia juga menambahkan, “Jadi, hal itu seharusnya tidak menciptakan narasi bahwa kami membutuhkan bantuan dari negara lain."
Pernyataan tersebut menimbulkan ketidakpuasan di kalangan warga Malaysia, yang melihat bantuan sebagai bentuk kemanusiaan. Beberapa pengguna media sosial mengkritik sikap pemerintah Indonesia, menilai tidak etis jika bantuan tersebut dibandingkan dengan upaya pemerintah dalam menangani bencana.
Pemberitaan Media Asing Terkait Sikap Pemerintah Indonesia
Media asing memberikan berbagai pandangan terkait respons pemerintah Indonesia terhadap bantuan dari Malaysia:
-
SCMP: Cukup bilang terima kasih
Melalui artikel berjudul, "Malaysians fume as Indonesian minister belittles flood aid: ‘just say thank you’" yang tayang pada Selasa (16/12/2025), SCMP menyoroti kekecewaan warga Malaysia atas respons pemerintah Indonesia. Artikel ini menyebut bahwa pernyataan Tito Karnavian menyentuh sisi sensitif masyarakat Malaysia. Seorang pengguna media sosial Malaysia, IzzraifHarz, menulis bahwa bantuan kemanusiaan bertujuan untuk membantu meredakan situasi, bukan untuk memperbaiki segala sesuatu. Ia menegaskan bahwa tidak adil membandingkan tanggung jawab pemerintah Indonesia untuk menjaga rakyatnya dengan bantuan kecil dari Malaysia. Narasi akhir artikel menanyakan, "Apakah begitu sukar baginya untuk sekadar mengucapkan terima kasih? Cukup mengucapkan terima kasih." -
Mothership: Bantuan dinilai tak banyak
Media Singapura, Mothership, menerbitkan artikel berjudul, "Indonesian minister calls disaster aid from M'sia 'not much', netizens tell him to 'just say thank you'" pada Selasa (16/12/2025). Artikel ini menjelaskan bahwa banjir bandang di Aceh akibat Badai Siklon Senyar telah menyebabkan lebih dari 1.000 orang meninggal dunia, ratusan ribu warga mengungsi, dan 180.000 rumah hancur. Bantuan dari Malaysia dianggap "tidak banyak" oleh Tito Karnavian, yang lebih fokus pada bantuan pemerintah pusat yang lebih besar. Menurutnya, pemerintah pusat telah mengerahkan berbagai instansi, tim penyelamat, polisi, dan helikopter untuk membantu korban banjir. Ia juga menunjukkan bahwa kontribusi dari Malaysia berasal dari warga negara swasta, bukan dari pemerintah. -
Bernama: Warga Aceh ucapkan terima kasih
Media pemerintah Malaysia, Bernama, menerbitkan artikel berjudul, "Aceh Resident Express Gratitude to Malaysia Over Flood Assistance" pada Minggu (14/12/2025). Artikel ini menyoroti rasa terima kasih dari warga Desa Pante Lhong, Aceh, kepada Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim dan rakyat Malaysia atas bantuan yang diberikan. Kepala Desa Murizal K menyampaikan bahwa bantuan berupa obat-obatan dan pasokan makanan sangat dibutuhkan masyarakat Pante Lhong. Dia berharap bantuan tetap berlanjut karena proses pemulihan akan memakan waktu lama.
Bencana banjir dan tanah longsor melanda tiga wilayah di Indonesia, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada 22 November 2025. Respons pemerintah Indonesia terhadap bantuan dari Malaysia menjadi topik yang mendapat perhatian luas dari berbagai media internasional.