
Menteri Investasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani menyampaikan bahwa masih terdapat berbagai tantangan dalam menarik investasi ke Indonesia. Salah satu isu utama yang muncul adalah tingkat pendidikan sumber daya manusia. Angkatan kerja di Indonesia masih didominasi oleh lulusan Sekolah Dasar (SD).
Menurut Rosan, tingkat pendidikan menjadi salah satu hal yang sering ditanyakan oleh para investor ketika ingin masuk ke Indonesia. “Karena untuk investasi yang masuk, salah satu kriteria yang mereka tanyakan adalah apakah tenaga kerjanya siap atau tidak? Nah ini juga menjadi PR kita bersama,” ujar Rosan dalam Investor Daily Summit 2025 di JCC, Jakarta Selatan pada Rabu (8/10).
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Dalam paparannya, Rosan menjelaskan data angkatan kerja Indonesia. Dari total 152,11 juta orang yang ada dalam angkatan kerja, lulusan SD masih mendominasi dengan jumlah sebesar 53,02 juta orang atau 34,86 persen. Angka tersebut disusul oleh lulusan SMP dengan 26,57 juta orang atau 17,47 persen.
Selanjutnya, lulusan SMA mencapai 32,52 juta orang atau 21,38 persen, sedangkan lulusan SMK ada pada angka 20,43 juta orang atau 13,43 persen. Sementara itu, persentase lulusan perguruan tinggi masih tergolong kecil. Tercatat, lulusan Diploma I/II/III adalah 3,53 juta orang atau 2,32 persen. Sedangkan lulusan Diploma IV/S1/S2/S3 adalah 16,03 juta orang atau 10,54 persen.
“Dan yang dengan pendidikan universitas atau diploma kurang lebih hanya 14 persen kalau kita jumlahkan. Hanya 14 persen,” tambahnya.
Rosan melihat pendidikan vokasi akan memegang peran penting dalam menghadapi kondisi saat ini. Menurutnya, dengan tingkat pendidikan yang ada, langkah untuk memasukkan seluruh sumber daya manusia ke tingkat pendidikan universitas atau diploma akan memakan waktu banyak.
“Nah oleh sebab itu program vocational training menjadi hal yang sangat penting, yang menjadi sekali prioritas dalam kita upscaling, rescaling dari kemampuan sumber daya manusia kita,” ujarnya.
Selama 10 tahun terakhir, Rosan mencatat jumlah investasi yang masuk ke Indonesia telah mencapai Rp 9.100 triliun. Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen, investasi perlu digenjot lebih besar lagi.
Terkait kebutuhan investasi untuk 5 tahun ke depan, yakni dari 2025 sampai 2029, Rosan menyatakan Indonesia membutuhkan investasi sebesar Rp 13 ribu triliun.
“Dari 2014 sampai 2024 investasi yang dibutuhkan, investasi yang masuk adalah kurang lebih Rp 9.100 triliun. 5 tahun ke depan dari 2025 sampai 2029 mencapai lebih dari Rp 13 triliun. Itu investasi yang diharapkan masuk dalam rangka kita bisa mencapai pertumbuhan 8 persen di tahun 2029,” jelas Rosan.
Sebelumnya, kebutuhan investasi 2025 sampai 2029 secara detail adalah sebesar Rp 13.032,8 triliun. Secara rinci untuk setiap tahun, pada 2025 dengan target pertumbuhan ekonomi 5,3 persen, target realisasi investasi yang dibutuhkan adalah Rp 1.905,6 triliun.
Pada 2026, dengan pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan menjadi 6,3 persen, realisasi investasi yang dibutuhkan sebesar Rp 2.175,26 triliun. Pada 2027, pertumbuhan ekonomi diproyeksikan 7,5 persen dan realisasi investasi yang dibutuhkan adalah Rp 2.567,47 triliun.
Di tahun 2028, dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi mencapai 7,7 persen, realisasi investasi yang dibutuhkan adalah Rp 2.969,64 triliun. Terakhir pada 2029 dengan target pertumbuhan ekonomi 8 persen, nilai realisasi investasi yang dibutuhkan adalah sebesar Rp 3.414,82 triliun.
Dengan begitu, rata-rata realisasi investasi dalam periode 2025-2029 diproyeksikan tumbuh 15,67 persen per tahun. Target sebesar Rp 13.023,8 atau USD 814,6 tersebut dihitung dengan asumsi nilai tukar 1 USD sama dengan Rp 16.000.