
Aksi Mogok Massal Barista Starbucks di AS
Barista Starbucks yang tergabung dalam serikat pekerja Starbucks Workers United melakukan aksi mogok kerja secara massal di lebih dari 65 gerai di berbagai kota Amerika Serikat (AS), pada Kamis (13/11/2024). Aksi ini bertepatan dengan Red Cup Day, momen tahunan Starbucks yang dikenal dengan pembagian gelas liburan reusable secara gratis. Aksi mogok ini diberi nama "Red Cup Rebellion" dan merupakan bentuk protes para pekerja yang menuntut pembicaraan kontrak kerja pertama mereka dengan perusahaan.
Mogok kerja ini dilakukan karena negosiasi kontrak dengan Starbucks mengalami kebuntuan. Sekitar 1.000 lebih barista memutuskan untuk melakukan mogok kerja sebagai langkah tegas. Starbucks Workers United, yang mewakili lebih dari 9.500 barista di 550 gerai, menuntut kenaikan upah, penambahan jumlah staf, serta penyelesaian masalah praktik kerja yang tidak adil, termasuk dugaan tindakan pembalasan terhadap anggota serikat.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
"Kami menjadikan musim Red Cup menjadi Red Cup Rebellion. Penolakan Starbucks untuk menyelesaikan kontrak adil dan mengakhiri anti-serikat memaksa kami mengambil tindakan tegas," ujar Amos Hall, barista di Pittsburgh, Pennsylvania.
Kegagalan Negosiasi dan Sikap Perusahaan
Starbucks menolak mengajukan tawaran baru untuk memenuhi tuntutan barista sejak April 2025. Mayoritas delegasi serikat pekerja menolak proposal perusahaan karena kenaikan gaji yang ditawarkan hanya 2 persen per tahun tanpa peningkatan manfaat maupun solusi atas kekurangan staf. Jaci Anderson, juru bicara Starbucks, mengatakan kecewa dengan keputusan mogok yang diambil oleh serikat yang mewakili hanya sekitar 4 persen dari seluruh karyawan Starbucks.
"Saat mereka siap kembali bernegosiasi, kami juga siap," katanya. Ia menambahkan bahwa Starbucks menawarkan pekerjaan terbaik di ritel, dengan rata-rata upah di atas 30 dolar AS (Rp501,6 ribu) per jam.
Dukungan Para Pelanggan kepada Barista
Mogok ini dimulai tanpa batas waktu, dan barista di lebih dari 550 gerai berencana untuk terus meningkatkan aksi jika perusahaan tidak memenuhi tuntutan tersebut. "Tidak ada kontrak, tidak ada kopi adalah janji untuk mengganggu operasi Starbucks hingga kontrak dan praktik kerja yang adil tercapai," kata Michelle Eisen, juru bicara Starbucks Workers United.
Selain itu, ribuan pelanggan dan pendukung menyatakan siap untuk mendukung mogok dengan tidak membeli produk Starbucks selama masa aksi. Di tengah musim penjualan kritis ini, mogok diprediksi dapat mengganggu operasi dan keuntungan perusahaan.
Dampak dan Tantangan yang Dihadapi
Aksi mogok ini menunjukkan ketidakpuasan yang signifikan dari para pekerja terhadap kondisi kerja dan tuntutan mereka yang belum terpenuhi. Selain itu, dampak ekonomi dari aksi mogok ini bisa sangat besar, terutama mengingat waktu pelaksanaannya yang bertepatan dengan musim liburan. Perusahaan seperti Starbucks pasti akan merasa tekanan baik dari sisi operasional maupun reputasi.
Banyak pihak mengamati bagaimana perusahaan akan merespons aksi ini. Apakah mereka akan kembali bernegosiasi atau justru memperkuat posisi mereka? Hal ini bisa menjadi indikator penting bagi hubungan antara pekerja dan perusahaan di masa depan.