
Bau Anyir Mengganggu Proses Evakuasi di Pondok Pesantren Al Khoziny
Bau anyir mulai tercium oleh warga sekitar Pondok Pesantren Al Khoziny, Desa Buduran, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo, setelah salah satu bangunan tiba-tiba rubuh pada Senin (29/9). Hal ini membuat kekhawatiran meningkat di tengah proses evakuasi dan pencarian korban.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Wahyono, 57 tahun, warga Sampang, Madura, mengakui bahwa beberapa kali ia mencium bau tak sedap saat memantau proses evakuasi dari luar garis polisi. Ia mengatakan bahwa baunya kadang-kadang terasa, terutama ketika angin berhembus.
"Iya bau (anyir) kadang-kadang. Ngerasa baunya sekelebat saat angin berhembus," ujarnya kepada aiotrade, Rabu (1/10). Ia sudah sejak siang hari berada di lokasi untuk memantau proses evakuasi.
Wahyono juga menceritakan bahwa salah satu kenalannya sempat masuk ke depan gerbang asrama putra Pondok Pesantren Al Khoziny, yang berjarak sekitar 7 meter dari lokasi bangunan yang ambruk. Di sana, bau anyir cukup menyengat.
Sebagai salah satu wali santri dari korban selamat dalam tragedi tersebut, Wahyono mengungkapkan bahwa satu ponakannya hingga Rabu sore belum ditemukan. "Yang jadi korban adalah anak saya dan ada ponakan. Anak saya selamat, dia ikut Salat Ashar berjamaah, waktu rakaat kedua antara Itidal dan ruku, selang beberapa detik katanya sudah merasa roboh badan anak saya," imbuhnya.
Anak Wahyono berhasil melarikan diri dari tragedi mencekam tersebut. Beruntung, anaknya hanya mengalami luka ringan dengan goresan pada bagian pelipis. Ia berharap ponakannya bisa segera ditemukan.
Di sisi lain, seorang petugas Basarnas yang tidak ingin disebutkan namanya mengatakan bahwa bau anyir tidak begitu terasa jika berada di luar bangunan, apalagi dari gerbang Pondok Pesantren Al Khoziny.
"Kalau dari gerbang ponpes, menurut saya belum begitu bau. Tetapi kalau di depan banget (bangunan yang roboh) ya lumayan, mbak. Apalagi bagi orang yang belum terbiasa (nyium bau mayit)," tukasnya.
Kronologi Singkat dan Korban Sudah Dievakuasi
Insiden tragis ini terjadi pada Senin (29/9) sekitar pukul 15.35 WIB. Bangunan empat lantai tersebut ambruk saat para santri Pondok Pesantren Al Khozini sedang melakukan Salat Ashar dua rakaat di lantai 1.
Akibatnya, banyak santri yang terjebak dalam puing-puing bangunan. Hingga Rabu siang (1/10), sebanyak 104 orang menjadi korban tragedi ini. Dari jumlah tersebut, 4 dilaporkan meninggal dunia.
Hingga berita ini ditulis, Rabu (1/10) pukul 17.45 WIB, Tim SAR gabungan terus berjibaku untuk menyelamatkan korban yang masih terjebak. Proses evakuasi terus dilakukan dengan keterlibatan berbagai pihak, termasuk petugas SAR, relawan, dan tenaga medis.
Upaya Pencarian dan Evakuasi
Proses pencarian dan evakuasi dilakukan secara intensif. Tim SAR bekerja sama dengan pihak berwenang dan organisasi nirlaba untuk memastikan semua korban dapat ditemukan dan diberikan pertolongan secepatnya. Meski bau anyir menjadi tantangan tersendiri, upaya ini tetap dilanjutkan tanpa henti.
Selain itu, masyarakat sekitar juga turut serta dalam membantu proses evakuasi. Banyak warga yang memberikan dukungan moril dan logistik agar proses penanganan lebih efektif dan cepat.
Dengan adanya bau anyir yang tercium, hal ini menunjukkan betapa parahnya kondisi di lokasi kejadian. Namun, semangat dan komitmen dari semua pihak tetap tinggi untuk memastikan keselamatan dan kesejahteraan korban.