Bau Tak Sedap Mengganggu, Warga Protes Operasional UPS Kranon Jogja

admin.aiotrade 16 Des 2025 3 menit 14x dilihat
Bau Tak Sedap Mengganggu, Warga Protes Operasional UPS Kranon Jogja
Bau Tak Sedap Mengganggu, Warga Protes Operasional UPS Kranon Jogja

Warga Kampung Mendungan Protes Bau Sampah dari UPS Kranon

Bau sampah yang menyengat dari Unit Pengolahan Sampah (UPS) Kranon membuat warga Kampung Mendungan, Kelurahan Giwangan, Umbulharjo, Kota Yogyakarta, kesal dan melakukan protes. Mereka menuntut agar masalah bau sampah di UPS Kranon segera diselesaikan.

Warga mengeluhkan aroma tidak sedap yang terus-menerus mengganggu aktivitas harian mereka. Bahkan, jika dibiarkan terlalu lama, bau tersebut bisa berdampak pada kesehatan fisik. Hal ini menjadi alasan utama warga untuk mengambil tindakan.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Penjelasan Warga Mengenai Masalah Bau Sampah

Isnardi, salah satu warga yang tinggal bersebelahan dengan UPS Kranon, mengungkapkan kekesalannya terhadap bau sampah yang sangat mengganggu. Ia menyebutkan bahwa aroma tidak sedap sudah sangat mengganggu aktivitas harian, bahkan bisa menyebabkan rasa pusing atau sakit gigi.

"Baunya menyengat sekali. Tiga hari ini paling parah. Kalau sampah menumpuk sampai menggunung, baunya terus-menerus, kami kan jengkel," ujarnya.

Menurut Isnardi, karena pengolahan dilakukan di dalam gedung, cuaca seharusnya tidak menjadi alasan utama timbulnya aroma busuk tersebut. Oleh karena itu, ia mendorong Pemkot Yogyakarta melalui instansi-instansi terkait, segera mengambil langkah konkret untuk menjawab keluhan warga.

Tuntutan Warga dan Tanggapan Lurah Sorosutan

Senada dengan Isnardi, Ketua RT 32 Mendungan, Joko Sidik, menyampaikan bahwa meski jarak rumahnya cukup jauh dari UPS, bau sampah tetap tercium sangat kuat. Ia menegaskan, warga memberikan tenggat waktu sampai dengan Rabu (17/12/25) kepada pengelola UPS Kranon, untuk merampungkan problematika tersebut.

"Tuntutan kami besok Rabu harus selesai. Kalau masih ada bau di luar kewajaran, pihak terkait harus segera mengambil tindakan," tegasnya.

Joko juga menyampaikan bahwa warga tidak keberatan dengan operasional UPS Kranon, hanya saja ketika dampak negatif dari pengolahan sampah dirasa sudah merugikan, maka hal wajar jika warga melayangkan protes.

"Kami sadar, produksi sampah di kota itu ratusan ton per hari. Kalau (pengolahan) berhenti sehari saja, dampaknya sangat luar biasa," imbuhnya.

Kendala Teknis Pengolahan Sampah di UPS Kranon

Menanggapi protes keras warga, Lurah Sorosutan, Zulazmi, mengakui adanya kendala teknis pengolahan di UPS Kranon beberapa hari terakhir. Ia menjelaskan bahwa sumber bau tak sedap yang menyengat tersebut berasal dari tumpukan sampah organik yang belum terolah.

"Yang panjenengan rasakan, juga kami rasakan. Tapi, posisi saat ini dengan seminggu yang lalu sudah sangat berubah," terangnya.

Zulazmi memaparkan bahwa evakuasi residu dan sampah organik menuju TPA Piyungan terus dilakukan, namun terkendala jadwal dan kuota yang terbatas. Meski demikian, sampai dengan Senin (15/12/25), setidaknya sudah terdapat 15 armada truk yang mengangkut sampah keluar dari lokasi tersebut.

"Evakuasinya itu hanya bisa di TPA Piyungan, yang (jadwalnya) hanya Senin dan Rabu. Jadi, evakuasinya hanya dua hari itu saja," ungkapnya.

Hasil Rapat Darurat Wali Kota Yogyakarta

Kabar baiknya, Zulazmi menyampaikan bahwa hasil rapat darurat dengan Wali Kota Yogyakarta diputuskan UPS Kranon tidak akan menerima limbah organik lagi. Bahkan, imbuhnya, UPS Kranon dijadikan sebagai pilot project atau percontohan untuk program pengolahan sampah tanpa melibatkan jenis organik.

"Kranon jadi pilot project, tidak menerima sampah organik lagi. Tadi malam DLH sudah memanggil seluruh transporter dari Sorosutan, Pandeyan, dan Warungboto," ujarnya.

"Dalam pertemuan itu sudah disampaikan, bahwa mboten saget malih (tidak bisa lagi) memasukkan sampah organik ke sini," tambah Zulazmi.


Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan