
Penetapan Penghargaan "Fossil of The Day" Terhadap Indonesia
Pada hari Sabtu (15/11), Climate Action Network (CAN) International memberikan penghargaan "Fossil of The Day" kepada Indonesia. Penghargaan ini diberikan karena Indonesia memasukkan pelobi bahan bakar fosil ke dalam delegasinya. CAN International menyebutkan bahwa keberadaan pelobi energi fosil bahkan mengintervensi negosiasi pasar karbon Pasal 6.4. Dalam proses tersebut, Indonesia menyalin poin-poin pembicaraan para pelobi, terkadang kata demi kata, dan menyajikannya seolah-olah miliknya sendiri.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
CAN International menilai hal ini sebagai contoh paling nyata dari pengambilalihan korporasi terhadap negara berkembang di COP30. Selama bertahun-tahun, negara-negara maju telah membuka pintu bagi pelobi bahan bakar fosil dengan menempatkan mereka di dalam delegasi resmi mereka dan memberi akses untuk membentuk hasil dari dalam.
Peran Pelobi Bahan Bakar Fosil dalam Delegasi Indonesia
Indonesia menerima penghargaan Fossil of the Day karena menjadi contoh terburuk sejauh ini dari negara berkembang yang meniru strategi tersebut. Menurut penelitian terbaru Kick Big Polluters Out yang dirilis pada hari Jumat, terdapat 46 pelobi bahan bakar fosil dalam delegasi Indonesia, salah satu kelompok terbesar untuk negara berkembang. Mereka menggunakan waktu negosiasi Pasal 6.4 untuk membacakan posisi mereka.
Selama sesi Pasal 6.4 mengenai laporan tahunan Badan Pengawas, intervensi Indonesia terdiri atas poin-poin pembicaraan yang sama dengan surat pelobi yang menyerukan aturan permanen yang lebih lemah, perlakuan yang lebih lunak terhadap pembalikan, dan perlindungan yang lebih longgar untuk pengimbangan berbasis alam berisiko tinggi.
Kritik terhadap Seruan Aturan yang Lebih Lemah
CAN International menilai seruan-seruan ini secara langsung bertentangan dengan sains dan merusak integritas lingkungan tepat ketika mekanisme 6.4 seharusnya melindunginya. Surat yang diajukan oleh Conservation International (yang mengembangkan dan menjual kredit karbon), ditandatangani bersama oleh berbagai kelompok. Menurut CAN International, banyak penandatangan surat itu memiliki kepentingan material langsung maupun tidak langsung di pasar karbon. Mereka adalah para pelaku yang akan diuntungkan dari aturan yang dilonggarkan. Ini termasuk IETA, asosiasi industri yang dewannya mencakup beberapa perusahaan minyak dan gas besar, dan yang memiliki 58 pelobi bahan bakar fosil dalam delegasinya.
Pemasaran Pasar Karbon di Luar Ruang Negosiasi
Indonesia juga mempromosikan pasar karbon di luar ruang negosiasi. Dalam Paviliunnya, Indonesia menjual kredit yang dimaksudkan untuk mengimbangi emisi bahan bakar fosil yang sedang berlangsung - dalam sebuah konferensi yang dimaksudkan untuk menghapus emisi tersebut.
Laporan koalisi Kick Big Polluters Out (KBPO) menunjukkan bahwa sebanyak 1.600 pelobi bahan bakar fosil telah diberikan akses ke COP30. Angka ini mencerminkan satu dari setiap 25 orang di Belém, persentase tertinggi yang pernah tercatat. Jumlah pelobi bahan bakar fosil melebihi jumlah delegasi dari banyak negara paling rentan terhadap iklim di dunia dengan rasio yang mengejutkan - dalam beberapa kasus 40 atau 50 banding 1.
Kebijakan Negara Maju dan Konsekuensi Indonesia
Banyak pemerintah negara-negara maju terus menyematkan perwakilan bahan bakar fosil langsung dalam lencana resmi mereka - sebuah pedoman yang telah mereka andalkan selama beberapa dekade. Negara-negara maju mungkin telah menulis skenario ini, tetapi Indonesia justru memberikan konsekuensi yang paling berani: menggunakan ruang negosiasi PBB untuk memperkuat tuntutan industri bahan bakar fosil.
"Pada COP yang dimaksudkan untuk memperkuat ambisi dan transisi yang adil, Indonesia justru mencoba melemahkan aturan-aturan yang menyatukan Perjanjian Paris," ujar CAN International.
Kondisi Eksploitasi Korporasi di COP30
Di tahun di mana kehadiran pencemar lebih tinggi dari sebelumnya, dan di mana eksploitasi korporasi mengancam setiap hasil yang didiskusikan, CAN International menilai bahwa Indonesia justru menunjukkan sikapnya yang secara langsung memberikan kendali kepada kepentingan-kepentingan yang justru mendorong krisis. Padahal, rakyatnya sendiri mengalami dampak iklim yang parah.
Sejarah Penghargaan "Fossil of The Day"
Penghargaan Fossil of The Day (Fosil Hari Ini) pertama kali dimunculkan dalam pembicaraan iklim di Bonn, Jerman pada 1999. Penghargaan ini diinisiasi oleh German NGO Forum. Selama negosiasi berlangsung di KTT Perubahan Iklim PBB, anggota CAN International memilih negara yang dinilai melakukan upaya terbaik untuk 'memblokir' kemajuan negosiasi dalam hari-hari terakhir perundingan.