BBCA dan BBRI Jadi Pemberat IHSG, Ini Rekomendasi 2026

admin.aiotrade 21 Des 2025 2 menit 14x dilihat
BBCA dan BBRI Jadi Pemberat IHSG, Ini Rekomendasi 2026


aiotrade.CO.ID - JAKARTA
Di tengah penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang tahun 2025, beberapa saham justru menjadi penghambat laju indeks tersebut. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG telah meningkat sebesar 21,61% hingga Jumat (19/12/2025). Namun, beberapa emiten ternyata mengalami penurunan yang berdampak pada kinerja IHSG.

Saham dengan Penurunan Terbesar

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi yang paling menggerus IHSG. Sepanjang tahun ini, BBCA terkoreksi sebesar 16,80% dan memberikan tekanan sebesar 99,72 poin terhadap IHSG. BBCA merupakan saham dengan kapitalisasi pasar terbesar kedua di BEI, dengan nilai mencapai Rp 982 triliun hingga akhir perdagangan Jumat (19/12/2025).

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Selain BBCA, saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) juga mengalami penurunan sebesar 21,23%. Penurunan ini memberikan tekanan sebesar 72,68 poin terhadap IHSG. Di sektor energi, saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) turut serta dalam penurunan, dengan tekanan sebesar 69,05 poin.

Dua bank pelat merah, yakni PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), juga turut menekan IHSG masing-masing sebesar 51,02 poin dan 46,99 poin. BMRI mengalami koreksi sebesar 9,21%, sedangkan BBRI turun 7,60% sepanjang tahun ini.

Analisis dari Ahli Pasar

Head of Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata menilai bahwa meskipun menjadi pemberat IHSG, saham BBCA dan BBRI memiliki potensi untuk dikaji lebih lanjut pada tahun 2026. Dalam perhitungannya, target harga BBRI untuk 12 bulan ke depan berada di level Rp 4.620 per saham, sementara harga saham BBCA diperkirakan mencapai Rp 9.100 per saham.

Liza menjelaskan bahwa BBRI mulai menunjukkan perbaikan di segmen mikro, terutama dari normalisasi NPL dan dukungan stimulus kredit produktif. Selain itu, BBRI akan membagikan dividen interim sebesar Rp 20,63 triliun atau setara dengan Rp 137 per saham. Jika menggunakan harga penutupan BBRI, Jumat (19/12/2025), di Rp 3.770 per saham, dividend yield BBRI mencapai 3,63%.

“Sementara BBCA masih menjadi bank yang paling menunjukkan kinerja baik dibandingkan dengan big banks lain,” ujar Liza. Ia menambahkan bahwa BBCA didukung oleh agenda buyback oleh manajemen, penyaluran kredit yang membaik, serta potensi turnover di 2026. Secara valuasi, BBCA masih tergolong fair to undervalue.

Kesimpulan

Meski sejumlah saham mengalami penurunan yang berdampak pada IHSG, para ahli pasar tetap melihat potensi pertumbuhan di masa depan. Baik BBCA maupun BBRI menunjukkan indikasi positif yang layak untuk dipantau. Dengan strategi yang tepat, kedua saham ini bisa menjadi pilihan investasi yang menarik di tahun mendatang.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan