
Pengalaman Puskesmas Bintang dalam Menghadapi Banjir Bandang
Bidan Noviarni Fitri, Kepala Puskesmas Bintang di Kabupaten Aceh Tengah, menceritakan pengalaman pilu yang dialami oleh korban banjir bandang. Korban-korban tersebut harus meregang nyawa karena terlambat diselamatkan. Puskesmas Bintang menjadi salah satu fasilitas kesehatan yang masih terisolir di Aceh akibat berbagai kendala.
Salah satu masalah utama yang dihadapi adalah terbatasnya pasokan BBM. Hal ini menyebabkan upaya penyelematan pasien gagal. Menurut Noviarni, beberapa pasien meninggal di puskesmas karena tidak bisa dievakuasi ke tempat yang lebih aman.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
“Jadi cerita ini merujuk pada pasien, karena langka BBM, jadi pasiennya meninggal di sini, di puskesmas. Kan harus naik kapal dari sini, karena kapalnya enggak ada minyak, jadi meninggal di puskesmas,” ujar Noviarni saat diwawancara.
Masih Butuh Bantuan Obat-Obatan dan Oksigen
Untuk menangani pasien-pasien yang terus datang, Puskesmas Bintang masih membutuhkan bantuan obat-obatan dan oksigen sampai saat ini. Meskipun genset dan water purifier sudah tersedia, Noviarni mengatakan bahwa bantuan oksigen dan obat-obatan tetap sangat dibutuhkan.
“Genset sudah, water purifier sudah. Yang saya perlukan oksigen, obat-obatan,” ucap dia.
31 Nakes Harus Tangani 24 Desa
Puskesmas Bintang memiliki 31 tenaga kesehatan (nakes) yang bertugas untuk melayani korban banjir dari 24 desa. Dalam situasi darurat seperti ini, para nakes harus bekerja keras untuk memberikan layanan kesehatan yang optimal.
“Ada 24 desa di bawah puskesmas Bintang 1,” tutur Noviarni.
Kesulitan Mendapatkan Bahan Pangan
Sayangnya, dengan tugas yang semakin berat, para nakes di Puskesmas Bintang kesulitan mendapatkan bantuan pangan untuk konsumsi sehari-hari. Jika mereka harus membeli sendiri, harga komoditas pangan melonjak hingga dua kali lipat.
“Beras di sini sampai dengan sekarang, 15 kilogram (kg) Rp400 ribu,” ujar Noviarni.
Berbagai Kendala yang Dihadapi
Selain itu, para nakes juga menghadapi berbagai tantangan lain, seperti keterbatasan alat medis dan akses transportasi. Situasi ini membuat mereka harus bekerja ekstra keras demi menjaga kesehatan masyarakat setempat.
Dengan kondisi yang begitu sulit, Puskesmas Bintang tetap berupaya memberikan layanan terbaik bagi warga yang terdampak banjir. Namun, tanpa dukungan yang lebih besar, perjuangan mereka akan semakin berat.