
Kinerja Keuangan Bank BCA dan Mandiri di Akhir Tahun 2025
PT Bank Central Asia Tbk (BCA) kembali menunjukkan konsistensi dalam mencetak pertumbuhan laba hingga November 2025. Hal ini berbeda dengan beberapa bank besar lainnya yang masih mengalami penurunan laba. Sementara itu, kinerja PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) tercatat belum lepas dari penurunan menjelang akhir tahun 2025.
Laba bank-only BCA pada sebelas bulan pertama tahun ini mencapai Rp 52,7 triliun, dengan kenaikan sekitar 4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini didukung oleh peningkatan di beberapa pos pendapatan, termasuk pendapatan bunga bersih yang naik sekitar 4 persen secara tahunan (YoY) menjadi Rp 73 triliun.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Meski rasio Net Interest Margin (NIM) BCA stagnan di level 5,7 persen, hal ini masih berada dalam kisaran target manajemen untuk tahun 2025. Pendapatan non bunga juga meningkat menjadi Rp 24,3 triliun, dibandingkan Rp 21,7 triliun pada November 2024.
Di sisi lain, portofolio kredit BCA per November 2025 hanya tumbuh moderat sebesar 5 persen YoY menjadi Rp 921 triliun. Dari sisi Dana Pihak Ketiga (DPK), BCA mengalami pertumbuhan tipis sebesar 2 persen menjadi Rp 1.200 triliun, dengan dana murah (CASA) mendominasi sebesar Rp 1.013 triliun.
Sementara itu, Bank Mandiri membukukan laba bank-only hingga sebelas bulan ini sebesar Rp 44,15 triliun, meskipun mengalami penurunan 6,41 persen YoY. Namun, laba bersih bank-only Bank Mandiri tercatat tumbuh 28,7 persen secara bulanan (MoM) pada November 2025.
Pendapatan bunga BMRI tumbuh 9,5 persen YoY per November 2025, disertai penurunan tekanan beban bunga. Alhasil, pendapatan bunga bersih Bank Mandiri tercatat tumbuh menjadi Rp 70,99 triliun di November 2025, naik dari Rp 68,55 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Direktur Finance and Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini menyatakan bahwa perkembangan ini mencerminkan kondisi likuiditas pasar yang semakin kondusif serta pengelolaan struktur pendanaan yang lebih efisien seiring meredanya kompetisi dana pihak ketiga.
“Perbaikan biaya pendanaan memberikan ruang bagi kami untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan profitabilitas. Fokus kami tetap pada kualitas pendanaan dan pengelolaan likuiditas yang prudent,” katanya dalam rilisnya, Senin (15/12).
Novita menegaskan bahwa fokus Bank Mandiri ke depan tetap pada keberlanjutan kinerja jangka panjang. Dengan fundamental bisnis yang terjaga, Novita optimistis dapat mempertahankan kinerja yang solid hingga akhir tahun.
“Kami sekaligus menyiapkan basis pertumbuhan yang sehat untuk periode berikutnya melalui penguatan strategi bisnis dan digitalisasi, serta likuiditas, kualitas aset, dan permodalan yang berada pada level yang memadai,” kata Novita.
Pertumbuhan Kredit Diproyeksi Lebih Cerah
Target pertumbuhan kredit perbankan sebesar 8–11 persen hingga akhir 2025 kian sulit tercapai. Meski demikian, prospek pertumbuhan kredit pada 2026 diperkirakan akan membaik.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pertumbuhan kredit per Oktober 2025 sebesar 7,36 persen YoY, melambat dibandingkan September 2025 yang tumbuh 7,70 persen YoY. Berdasarkan jenis kredit, hanya kredit investasi yang mencatat akselerasi dengan pertumbuhan 15,72 persen YoY, naik dari 15,18 persen YoY pada bulan sebelumnya.
Sementara itu, pertumbuhan kredit modal kerja melambat menjadi 2,39 persen YoY dari 3,37 persen YoY, dan kredit konsumsi turun menjadi 7,03 persen YoY dari 7,42 persen YoY.
Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA) David Sumual menilai, arah pertumbuhan kredit sangat bergantung pada kemampuan perbankan dalam memutar likuiditas yang tersedia. Faktor psikologis masyarakat dan investor juga menjadi penentu utama.
“Berapapun dana yang masuk ke perbankan, mau Rp 1 triliun sampai Rp 200 triliun, tidak akan berarti jika permintaan kredit lemah dan perputaran uang tidak terjadi,” tegas David.
Ia memproyeksikan pertumbuhan kredit pada 2026 berpeluang mencapai 9–10 persen, seiring membaiknya kondisi makro dan mulai optimalnya pelaksanaan program strategis pemerintah, termasuk Danantara.
David mengakui, fase konsolidasi pada semester I-2025, termasuk realokasi anggaran besar ke program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Danantara, belum memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.
“Memang saat ini dampaknya belum optimal. Harapannya, tahun depan proyek-proyek pemerintah bisa lebih mendorong perputaran ekonomi,” ujarnya.