
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi 2026 oleh BCA
PT Bank Central Asia Tbk atau BCA memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 berada di kisaran 5,1 hingga 5,2 persen. Prediksi ini lebih rendah dibanding target pemerintah dalam APBN 2026 yang sebesar 5,4 persen dan juga di bawah proyeksi Bank Indonesia (BI) sebesar 5,3 persen.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
David Sumual, Chief Economist BCA, menyatakan bahwa pihaknya tetap optimis bahwa pertumbuhan ekonomi nasional akan mencapai di atas 5 persen pada 2026. Hal ini didorong oleh dimulainya aktivitas investasi dari BPI Danantara di pasar modal.
"Kita melihat ya sekitar 5,1-5,2 persen tahun depan mudah-mudahan tercapai. Apalagi dengan mulai bergeraknya Danantara, ya sehingga ini ekonominya berputar," ujarnya saat media briefing di Jakarta, Senin (15/12/2025).
Meskipun Kementerian Keuangan (Kemenkeu) telah menempatkan dana pemerintah sebesar Rp 276 triliun ke perbankan, hal tersebut belum langsung dapat menggerakkan perekonomian secara signifikan. Pada Oktober 2025, tingkat kredit menganggur (undisbursed loan) kembali naik ke level 22,97 persen meskipun Kemenkeu telah menggelontorkan dana pemerintah ke perbankan sebesar Rp 200 triliun sejak 13 September 2025.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Oktober sebesar 7,36 persen melambat dibanding bulan sebelumnya yang mencapai 7,70 persen.
"Jadi misalnya ditaruh dana Rp 200 triliun, tapi enggak berputar, nggak jadi kredit, sama aja bohong. Jadi uang itu harus berputar, harus ada orang belanja, ambil kredit, berputar," jelas David.
Dia juga menyebut bahwa pertumbuhan ekonomi tahun depan mustahil akan mencapai 6 persen seperti optimisme yang digaungkan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa beberapa waktu lalu. Mengingat di pengujung tahun ini, sebanyak tiga provinsi di Sumatera, yakni Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara, mengalami bencana banjir bandang dan tanah longsor.
Hal ini tentu akan mempengaruhi perekonomian daerah terdampak dan arus logistik nasional. Dia memperkirakan bencana ini berpotensi mengurangi pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 0,32 persen.
Berdasarkan olahan dan data internal tim Riset Ekonomi BCA, efek bencana Sumatera akan menurunkan 25,53 persen belanja masyarakat Sumatera Barat, 22,31 persen belanja masyarakat Sumatera Utara, dan 23,92 persen belanja masyarakat Aceh.
"Kalau dengan bencana ini mungkin akan ada sedikit pengaruh ya, agak aneh kalau enggak terpengaruh. Di Sumatera tiba-tiba tumbuh naik 6 persen gitu kan, jadi pasti akan ada pengaruh," ucapnya.
Sementara dari sisi eksternal, pertumbuhan ekonomi tahun depan bakal dipengaruhi oleh momen ketegangan antara China dan Jepang, konflik geopolitik, hingga ketegangan lainnya. Selain itu, kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed, baik dari sisi suku bunga acuan maupun pemilihan ketua The Fed, juga bakal turut mempengaruhi kondisi perekonomian.
Oleh karenanya, dibutuhkan kebijakan akomodatif untuk transmisi pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat pada 2026.