Becak, Dari Raja Jalanan Jadi Penjaga Tradisi Kota Bogor

admin.aiotrade 10 Nov 2025 4 menit 15x dilihat
Becak, Dari Raja Jalanan Jadi Penjaga Tradisi Kota Bogor

Peran Becak yang Berubah

Di tengah deru ojek online dan kendaraan pribadi yang mendominasi jalanan Kota Bogor, becak perlahan kehilangan perannya sebagai moda transportasi harian. Dari ribuan unit yang dulu berseliweran di pasar dan gang-gang kecil, kini hanya ratusan yang tersisa. Meski demikian, becak belum benar-benar hilang — perannya justru bergeser.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Kini, becak menemukan “rumah baru” sebagai transportasi wisata dan moda penghubung di kawasan permukiman. Perubahan fungsi ini terjadi bukan hanya karena perkembangan zaman, tetapi juga faktor usia para penarik becak yang sebagian besar sudah lanjut usia dan tidak lagi mampu mengayuh jarak jauh.

Perkembangan Fungsi Becak

Pengamat transportasi Djoko Setijowarno menilai, pergeseran fungsi tersebut merupakan keniscayaan. Dari sisi fisik, para pengayuh becak sudah tidak lagi mampu beroperasi seperti dulu. Sementara dari sisi kebutuhan perjalanan, masyarakat kini lebih memilih moda yang cepat dan efisien.

“Nah, kalau becak yang ada itu disuruh ngayuh lagi juga orang enggak mau. Sekarang tukang becak itu rata-rata usianya sudah di atas 60 tahun. Jadi saya kira, becak-becak itu sekarang untuk wisata saja,” ujar Djoko.

Menurut Djoko, ruang gerak becak kini lebih cocok dibatasi pada lokasi-lokasi wisata, ruang publik, dan permukiman padat. Di tempat-tempat seperti itu, becak masih memiliki fungsi yang tidak tergantikan.

“Jadi bisa dibilang peran becak saat ini sebagai transportasi hanya untuk di daerah-daerah wisata atau di perumahan sebagai feeder,” jelasnya.

Nilai Budaya dan Pengalaman

Djoko mengatakan, nilai budaya dan pengalaman menjadi kekuatan utama becak saat ini. Bukan lagi soal kecepatan atau efisiensi, melainkan karakter khas yang membuat wisatawan maupun warga bisa menikmati perjalanan dalam ritme yang lebih tenang.

Menurut dia, jika ingin bertahan di masa depan, becak perlu beradaptasi dengan bentuk baru tanpa menghilangkan ruh tradisionalnya.

“Kecuali kalau diganti dengan becak listrik. Nah itu beda. Mungkin anak muda juga mau, apalagi becak listrik bisa online. Banyak itu kan, menarik,” kata Djoko.

Ia menambahkan, banyak negara justru menjadikan becak modern sebagai daya tarik wisata. Mulai dari kawasan wisata di Malaysia hingga sudut kota tua di Prancis, becak menjadi bagian dari pengalaman wisata yang dicari pengunjung.

Adaptasi dan Inovasi

Djoko menilai, agar becak bisa bertahan sebagai transportasi wisata, bentuk dan tampilannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan zaman. Beberapa negara, katanya, telah melakukan inovasi desain untuk membuat becak lebih aman, menarik, dan ramah wisatawan.

“Tapi perlu modifikasi juga. Kayak di Belanda, becak itu modifikasi pengemudinya di depan. Mau nggak mau harus ngikutin zaman. Bentuknya harus menarik agar bisa menarik perhatian anak-anak juga, jadi pengen mencoba,” kata dia.

Karena itu, modifikasi ringan pada becak tradisional dianggap penting, agar generasi muda tidak melihat becak sebagai moda kuno, tetapi sebagai sesuatu yang unik dan layak dicoba saat berkunjung ke sebuah kota.

Kondisi Tukang Becak

Becak kian sulit bertahan. Karsun (62), seorang tukang becak yang masih setia mengayuh sejak era 1980-an, mengaku kondisinya kini jauh berbeda dibanding masa kejayaannya dulu.

“Dulu walaupun tarikan murah, bisa 10 liter (beras) sehari, malah lebih. Karena belum ada saingan kayak ojol atau motor,” tuturnya mengenang.

Kini, penumpang semakin jarang. Anak muda enggan naik karena dianggap ketinggalan zaman, sementara warga yang lebih tua pun mulai jarang menggunakan karena lebih banyak pilihan transportasi lain.

“Kalau Sabtu Minggu alun-alun ramai tapi enggak pada naik becak. Anak muda sudah gengsi naik becak,” kata Karsun.

Bahkan untuk memenuhi kebutuhan harian, Karsun kerap berutang ke warung ketika tak mendapat penumpang hingga sore.

Fungsi Khusus Becak

Meski tidak lagi ramai digunakan untuk mobilitas harian, sejumlah warga tetap menilai becak masih memiliki fungsi penting untuk kebutuhan tertentu, terutama di pasar dan permukiman padat.

Asri (56), misalnya, mengandalkan becak hampir setiap hari untuk mengangkut belanjaan dari pasar ke rumahnya.

“Kalau ke pasar pasti saya naik becak. Soalnya jaraknya dekat, cuma kalau jalan kaki berat banget bawa sayur-sayur,” ujarnya.

Bagi Asri, becak lebih praktis dibanding transportasi lain karena bisa langsung masuk ke gang kecil, dan penarik becaknya bersedia membantu mengangkat barang.

Potensi Becak sebagai Wisata

Becak dinilai cocok untuk wisata, bukan jalan utama. Bagi generasi muda, becak dinilai sudah tidak cocok lagi beroperasi di jalan besar. Menurut Isan (25), becak masih relevan jika ditempatkan di lokasi yang tepat.

“Menurut saya masih, tapi memang bukan untuk dipakai di jalan besar. Becak itu lebih cocok untuk kawasan wisata dan perkampungan. Di area kayak itu, justru becak punya fungsi yang nggak bisa diganti transportasi lain,” ujarnya.

Isan melihat potensi becak sebagai daya tarik wisata yang menawarkan pengalaman santai dan bernuansa tradisional. Karenanya, Isan mendukung penataan becak agar memiliki wilayah operasi yang jelas, bukan dihilangkan.

Bagikan Artikel:
admin.aiotrade
admin.aiotrade

Penulis di Website. Berfokus pada penyajian informasi yang akurat, terpercaya, dan analisis mendalam seputar teknologi finansial.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan