BEI Diminta Evaluasi Aturan FCA yang Menghambat Saham RI Masuk Indeks Global

admin.aiotrade 07 Nov 2025 4 menit 16x dilihat
BEI Diminta Evaluasi Aturan FCA yang Menghambat Saham RI Masuk Indeks Global

Penyebab TINS Gagal Masuk dalam Indeks MSCI

Sejumlah analis menyatakan bahwa Bursa Efek Indonesia (BEI) perlu melakukan kajian ulang terkait kebijakan pantauan khusus atau full call auction (FCA). Pemakaian notasi khusus ini dinilai bisa merugikan emiten Tanah Air dalam upaya masuk ke dalam indeks global.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

FCA adalah mekanisme perdagangan saham di mana order beli dan jual dikumpulkan selama periode tertentu, kemudian dieksekusi secara bersamaan pada satu harga yang ditentukan. Harga tersebut didasarkan pada titik keseimbangan antara permintaan dan penawaran. Papan FCA akan diberikan kepada emiten ketika perdagangan sahamnya telah dihentikan sementara atau disuspensi sebanyak dua kali.

Peristiwa ini terjadi pada PT Timah Tbk (TINS), sebuah perusahaan pelat merah yang merupakan bagian dari Holding MIND ID. TINS gagal masuk dalam konstituen Morgan Stanley Capital International (MSCI) Global Small Cap Indexes pada tinjauan periode November 2025. Sebelumnya, MSCI mengumumkan TINS sebagai salah satu dari tujuh emiten asal Indonesia yang masuk daftar untuk periode tersebut.

Dalam pengumuman resmi MSCI, saham TINS diklasifikasikan sebagai bagian dari Ineligible Alert Board. Klasifikasi ini dilakukan karena TINS pernah masuk papan pemantauan khusus atau FCA di BEI atau melalui Watchlist Board. Status TINS yang kena FCA dinilai memenuhi Kriteria 10, sebagaimana tercantum dalam metodologi MSCI Global Investable Market Indexes. Kriteria ini mengacu pada saham dengan catatan khusus akibat suspensi lebih dari satu hari bursa yang disebabkan oleh aktivitas perdagangan.

“Dengan demikian, sekuritas yang disebutkan di atas tidak akan dimasukkan ke dalam indeks MSCI sebagai bagian dari Index Review November 2025,” tulis MSCI dalam keterangannya.

Merujuk pengumuman resmi BEI, saham TINS sempat disuspensi dan kemudian masuk dalam papan pemantauan khusus atau FCA. Status itu disematkan pada 20 Oktober dan berakhir pada 30 Oktober 2025. “Status FCA Dikarenakan penghentian sementara perdagangan efek selama lebih dari 1 hari bursa yang disebabkan aktivitas perdagangan,” tulis BEI dalam pengumuman resmi.

Sampai berita ini diturunkan, manajemen TINS dan BEI belum memberikan respons terkait pembatalan ini. Aiotrade telah mencoba menghubungi manajemen TINS untuk meminta tanggapan terkait pembatalan ini, serta mengirimkan permintaan kepada BEI untuk dilakukan kaji ulang aturan FCA.

Plus Minus Kebijakan FCA

Head of Research Korea Investment and Sekuritas Indonesia, Muhammad Wafi, menyatakan bahwa langkah otoritas dalam menerapkan kebijakan FCA memiliki tujuan yang baik. Tujuan utamanya adalah menjaga stabilitas pasar dan mencegah kepemilikan asing yang berlebihan di sektor strategis.

Namun, menurut Wafi, kebijakan tersebut justru bisa menjadi penghambat bagi emiten yang memiliki likuiditas dan potensi global seperti TINS. “Kebijakan ini bisa dianggap menghambat akses buat masuk indeks global karena batasan kepemilikan asing dianggap terlalu restriktif,” ujarnya.

Menurutnya, penerapan FCA membuat investor asing lebih berhati-hati untuk menambah kepemilikan pada saham-saham yang terkena batas tersebut, terutama bagi fund manager global yang mengikuti acuan indeks seperti MSCI. “Menurut saya otoritas bisa pertimbangkan revisi atau fleksibilitas kebijakan, terutama untuk emiten-emiten BUMN yang punya bobot strategis tinggi, biar tetap bisa masuk indeks internasional tanpa mengorbankan kontrol domestik,” tambahnya.

Penelitian Lebih Lanjut Mengenai Kebijakan FCA

Co Founder sekaligus pengamat Pasar Dana, Yohanis Hans Kwee, juga menyampaikan pendapat senada. Ia menyatakan bahwa otoritas pasar modal Indonesia perlu melakukan kajian ulang mengenai kebijakan FCA. Selain itu, ia akan melakukan penelitian lebih lanjut dengan BEI mengenai kebijakan-kebijakan terkait saham di pasar modal Indonesia, termasuk penghentian saham atau suspensi serta FCA.

“Pasti bursa buka diri. Dikumpulkan semua masalahnya, kita cemplungin dulu dan lihat hasilnya gimana,” kata Hans.

Menurut Hans, kebijakan FCA bertujuan baik untuk menurunkan volatilitas negatif di pasar Indonesia. Namun, ia menilai beberapa kriteria FCA perlu dievaluasi ulang. Menurutnya, semestinya bursa menyoroti saham yang sering di pom-pom sehingga melejit signifikan tanpa sebab. Bertolak belakang dengan saham kuat yang terkena FCA.

“Kriterianya cukup banyak dan tidak semuanya efektif. Harus ditelaah satu per satu yang mana yang benar-benar berfungsi dan mana yang tidak,” ujar Hans.

Sorot Aturan Free Float

Lebih lanjut, Hans juga menyoroti rencana perubahan aturan MSCI terkait penyesuaian penghitungan porsi publik atau free float saham. “Yang perlu kita waspadai, MSCI sedang berencana merevisi aturan. Itu yang berbahaya. Mereka ingin melihat kepemilikan perusahaan tertutup (PT) tidak ikut dihitung. Kalau free float-nya diturunkan, otomatis bobot kita turun, dan harga saham bisa ikut terkoreksi,” ujarnya.

Ia menambahkan, sebagian besar investor saat ini masih bersikap wait and see sambil menunggu pengumuman resmi MSCI pada Januari 2026 mendatang terkait aturan baru tersebut.

Sebelumnya, kabar mengenai rencana MSCI menyesuaikan jumlah free float sempat mengguncang pasar saham Tanah Air. Langkah tersebut diperkirakan akan merugikan sejumlah saham konglomerasi besar yang selama ini menjadi penopang Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Merujuk pengumuman resmi BEI, saham TINS memang sempat disuspensi dan kemudian masuk dalam papan pemantauan khusus atau FCA. Status itu disematkan pada 20 Oktober dan berakhir pada 30 Oktober 2025. “[Status FCA] Dikarenakan penghentian sementara perdagangan efek selama lebih dari 1 hari bursa yang disebabkan aktivitas perdagangan,” tulis BEI dalam pengumuman resmi.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan