Belajar dari Kasus Timothy, Psikolog: Empati adalah Tanggung Jawab Moral

admin.aiotrade 20 Okt 2025 3 menit 12x dilihat
Belajar dari Kasus Timothy, Psikolog: Empati adalah Tanggung Jawab Moral

Perundungan di Dunia Maya dan Pentingnya Empati

Kasus kematian mahasiswa Universitas Udayana, Timothy Anugerah Saputra, telah memicu kembali diskusi masyarakat tentang perundungan yang terjadi di dunia maya. Setelah kejadian tersebut, beredar tangkapan layar yang menunjukkan komentar dan pesan mengejek korban, bahkan setelah ia meninggal.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Psikolog Vera Itabiliana, S.Psi., menekankan pentingnya memiliki rasa empati baik dalam kehidupan nyata maupun di ruang digital. Menurutnya, empati adalah kemampuan untuk memahami dan merasakan apa yang orang lain alami, lalu menyesuaikan respons berdasarkan pemahaman tersebut.

“Di dunia maya, empati berarti kesadaran bahwa di balik setiap akun atau komentar ada manusia nyata dengan perasaan, pengalaman, dan batas emosi,” jelas Vera kepada aiotrade, Senin (20/10/2025).

Komunikasi Digital yang Kehilangan Nuansa Emosional

Komunikasi digital sering kali kehilangan nuansa emosional. Tidak ada ekspresi wajah, intonasi, atau bahasa tubuh yang bisa membantu menyampaikan makna sebenarnya dari sebuah pesan.

“Tanpa empati, kita mudah menulis hal-hal yang sebenarnya tidak akan kita ucapkan jika bertemu langsung,” ujarnya.

Mengapa Banyak Orang Berani Berkomentar Tanpa Pikir Panjang?

Vera menjelaskan beberapa faktor yang membuat seseorang mudah menulis komentar kejam. Pertama, efek jarak digital membuat seseorang merasa aman karena tidak langsung melihat reaksi korban. Selain itu, ketika banyak orang berkomentar negatif, individu cenderung ikut-ikutan karena merasa tindakannya ‘normal’.

Ada juga yang menyalurkan frustrasi pribadi atau mencari validasi melalui perhatian di media sosial. “Kurangnya kesadaran emosional dan latihan empati membuat mereka tidak sadar bahwa komentar sekilas bisa sangat melukai,” tambahnya.

Jangan Diam Saat Melihat Perundungan

Menurut Vera, diam bukan pilihan. “Diam bisa diartikan sebagai dukungan,” tegasnya. Kita bisa menunjukkan empati dengan melaporkan konten yang melanggar aturan, mengirim pesan dukungan pribadi kepada korban, atau tidak ikut menyebarkan dan memberi “like” pada komentar negatif.

“Langkah sederhana seperti ini sudah bisa menjadi bentuk empati nyata,” imbuhnya.

Latihan Empati Digital

Vera menyarankan prinsip “pause before post”, yaitu berhenti sejenak sebelum menulis komentar, lalu bertanya pada diri sendiri: Apakah ini akan menyakiti seseorang jika dibaca? Ia juga mengenalkan prinsip 3T: Tepat waktu, Tepat konteks, dan Tepat cara dalam berkomunikasi di media sosial.

“Biasakan membaca berita atau komentar dengan rasa ingin tahu, bukan langsung menghakimi,” katanya.

Empati Dimulai dari Hal Kecil

Vera menutup dengan menyatakan bahwa empati bisa dimulai dari tindakan sederhana, seperti menyapa, mengajak makan bersama, atau menanyakan kabar teman yang terlihat menyendiri.

“Empati bukan sekadar merasa kasihan, melainkan kemampuan untuk mengatur diri agar tidak menyakiti orang lain,” tuturnya.

“Di era digital, empati adalah bentuk tanggung jawab moral: berpikir sebelum menulis, menahan diri sebelum bereaksi, dan berani membela yang lemah tanpa mempermalukan pihak lain,” pungkasnya.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan